22 August 2010

Sebuah Refleksi

Di setiap hela nafasku terselip

Segala keinginan, harapan, kerinduan

Akan segala yang serba memukau

Hatiku terisi penuh segala angan yang membumbung

Namun yang datang hanya kesakitan, kerisauan dan kebimbangan

Perasaan dan kesadaran hilang datang silih berganti

Tersamar dalam kenyataan semu yang tidak jarang menghampiri

Aku tidak ingin berhenti di sini namun

Kilauan yang menerpa mataku demikian menawan

Tidak kah Kau bolehkan aku sejenak duduk di sini Ya Rabb…

Ku berjanji hanya sekejap

Kau biarkan aku dengan anganku bergaul sejenak

Sebagaimana yang kurengekkan kepadaMu selalu

Bagaikan seorang bocah nakal yang belum cukup akal

Penuh kasih Kau biarkan aku terlena dengan pilihanku

Layaknya seorang bocah yang bodoh kupegang api

Kurasakan sengatan panasnya memanggang

Syukur tidak sampai menghanguskan

Kucicipi anggur yang merah menggoda

Kurasakan sekelilingku berputar…

Tak lagi bisa kurasakan tanganku, kakiku, kepalaku…

Sekejap aku rasakan terhisap

Ke dalam pusaran nafsu yang tiada berdasar

Bukan yang seperti ini yang kuinginkan Ya Tuhan

Sungguh bukan ini…

Kebimbangan dan keraguan kian menyeruak

Tak mampu lagi kubekap kalbu untuk tidak berteriak

Bukan yang seperti ini yang kuinginkan Ya Rabbi

Sungguh bukan ini…

Jangan biarkan aku mengejar mimpi yang hanya ilusi

Jangan ijinkan aku memiliki keinginan yang tidak berdasar

Berulang kali Kau katakan

Boleh jadi aku membenci sesuatu padahal ia baik bagiku

Boleh jadi aku menyukai sesuatu padahal ia teramat buruk bagiku

Maafkan aku Ya Allah…

Untuk kealpaanku mendengarkanMu

Tiada lagi kuijinkan hasrat…mimpi…kehendak dalam diri ini

Kecuali menjadi satu dengan kehendakMu Ya Rabbi

Rasuna, 22 Agustus 2010

Nela Dusan

29 August 2009

Malu KepadaMu



Setahun beberapa hari telah berlalu sejak saya melantunkan doa dan permohonan ampun yang menjadi hadiah hari jadi ke 40, doa kepada Sang Maha Pengasih. Berusaha menjalani sisa hidup yang diberikan Allah kepada saya dengan penuh syukur merupakan niat di dalam hati meskipun terkadang angin yang menghembus di sepanjang sisa perjalanan hidup ini demikian lembut dan menyejukkannya hingga dapat membuat saya terlena, namun kadang juga demikian kerasnya menerpa hingga sanggup membuat oleng atau dapat menumbangkan diri saya.

Lebih 40 tahun perjalanan hidup seorang manusia, tentunya banyak menorehkan catatan dalam buku kehidupan. Sebagian merupakan catatan pribadi saya sendiri, sebagiannya lagi merupakan pengamatan terhadap teman, sahabat, keluarga, saudara bahkan orang-orang yang termasuk kategori ‘musuh’ sekalipun. Saya mempunyai banyak teman, sahabat dan saudara yang selalu ingin saya pelihara hubungan baik dengan mereka, karena mereka turut memberikan ketentraman bagi saya, menambahkan arti dalam hidup saya. Meskipun demikian, tidak ada daya upaya saya untuk mengubah keadaan apabila suatu persahabatan, pertemanan atau bahkan persaudaraan sekalipun telah bertransformasi menjadi suatu permusuhan, kecuali jika memang Allah menghendaki sebaliknya.

Persoalan demi persoalan hidup menyertai kemana kita pergi, selama hayat dikandung badan adalah istilah klise yang kita kenal sejak kita kecil melalui salah satu lagu anak-anak yang menjadi hapalan kita ketika kecil.

Dalam satu titik terendah hidup ini saya mendapati betapa Allah menyayangi diri saya, betapa beruntungnya saya mendapatkan cobaan yang ketika itu seolah merupakan beban yang saya tidak sanggup memikulnya. Padahal Allah selalu mengatakan tidak akan datang suatu cobaan kepada seseorang kecuali ia sanggup memikulnya. Saat itu kalimat semacam itu terdengar sebagai sindiran, pelecehan, meledek jiwa yang sedang compang camping saat itu. Bagaimana mungkin kita sanggup? Kadang kita merasa kemampuan mengatasi persoalan hanya dimiliki oleh seorang alim, ulama, orang suci, yang pasti bukan kita. Kita lupa, alim ulama, orang suci, nabi, rasul juga orang biasa. Semua mengalami ujian atau cobaan hidup. Lantas, apa yang menjadikan mereka berbeda dengan kita ketika mengalami suatu ujian atau cobaan yang diberikan Allah?

Ketika mengalami ujian dalam hidup ini, saya sampai pada satu titik dimana ilmu yang selama ini saya ‘bangga-bangga’kan sungguh tidak mampu memberikan solusi bagi persoalan saya. Melalui perenungan yang panjang, melewati malam yang penuh amarah sampai isak tangis, sedu sedan keputusasaan seorang mahluk yang sungguh tidak berdaya, saya mendapati lagi jalan kembali kepadaNya. Alhamdulillah, kesulitan hidup yang pernah saya alami justru mempertemukan kembali saya dengan Sang Pencipta yang berkenan mencurahkan hidayahnya kepada saya.

Tahapan yang dilalui oleh seorang manusia ketika mengalami ujian dalam hidupnya biasanya sama. Dimulai dengan kenyataan yang tidak menyenangkan, kecewa, marah, murka, mengingkari kenyataan, menyalahkan keadaan, orang lain, bahkan berani menyalahkan Tuhannya. Proses tersebut terus berlanjut dan berlangsung dalam waktu yang sangat beragam, ada yang singkat ada yang lebih lama bahkan ada yang selamanya hingga akhir hayatnya dia tidak berhasil mengatasi ujian yang dihadapi, naudzubillah. Dalam satu titik terdapat persamaan dalam cara menyikapi persoalan yang dihadapi, yaitu sedih, marah atau kecewa. Namun, terdapat perbedaan hasil dari ujian tiap-tiap manusia, ada yang memperoleh kesuksesan tapi banyak pula yang berakhir dengan kehancuran. Sementara Allah telah mengingatkan, setiap orang yang mengaku beriman tidak akan luput dari cobaan, mengapa kita bisa lupa?

Saya menangkap terdapat benang merah dari segala bentuk ujian, apakah menyangkut pekerjaan, keluarga, penyakit, kemiskinan atau kekayaan sekalipun. Benang merah itu adalah perlawanan dalam diri kita. Kita lebih senang berjuang melawan ujian yang datang kepada kita sekuat tenaga kita. Memusuhi takdir yang sedang mendatangi kita berdasarkan pengetahuan yang ada pada kita padahal pengetahuan kita yang secuil itu sungguh tidak akan mampu mengatasinya.

Dalam fase perlawanan tersebut, kita sering melupakan suatu sikap yang justru dikehendaki Allah dari setiap umatnya, yaitu sikap bersyukur. Allah sangat menyenangi orang-orang yang bersyukur, orang-orang yang bisanya tidak cuma melantunkan tuntutan demi tuntutan dalam doanya. Orang yang mengawali keluh kesah, permohonan doanya dengan menyatakan syukur kepada Sang Rabb.

Bersyukur atas segala yang telah kita miliki, bersyukur atas segala keterbatasan yang kita miliki, bersyukur atas segala cobaan yang menghampiri. Sebenarnya kita sudah mengetahui betapa Allah menyukai orang yang bersyukur bahwa Allah akan menambah lagi kenikmatan demi kenikmatan kepada setiap orang yang bersyukur [QS: 14.7]. Allah akan mengurangi beban cobaan kita jika saja kita mau bersyukur.

Kadang cara kita untuk menyelesaikan suatu masalah justru membuat masalah tersebut jadi tambah runyam. Padahal apa yang diinginkan Allah hanyalah, kita mendatangiNya, tafakur, menyatakan syukur, memohon ampun dan meminta petunjukNya. Sesederhana pertanyaan Allah yang berulang kali tercantum dalam surah Ar Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang diulang-ulang tersebut merupakan pertanyaan sekaligus pengingat agar hendaknya kita memiliki rasa malu kepada Sang Maha Pemberi Karunia sebelum kita melanjutkan sikap protes kita. Dengan cara seperti itu agaknya proses yang tadinya berlarut-larut bisa dipersingkat. Jika saja kita mau merendahkan diri dan menundukkan hati kita di hadapan Sang Khalik, tidak perlu kita membiarkan hati kita berdarah-darah, keluarga kita porak poranda dalam waktu yang tidak jelas kapan berakhirnya.

Hal lain yang saya dapati ketika mengalami ujian dalam hidup ini adalah kenyataan betapa lemahnya diri kita. Ketidakberdayaan tersebut dapat mendekatkan diri kita kepada Allah namun dapat pula justru menjauhkan kita dariNya. Maksud saya, kadang dikarenakan rasa tidak berdaya, kita mencari penolong dari sesama golongan manusia, misalnya seorang lawyer untuk menuntut, seorang dokter untuk berobat, seorang kekasih untuk melipur lara, mengalihkan segala persoalan dengan suami atau istri kita, seorang pengedar narkoba untuk melenakan jiwa, seorang polisi untuk menakuti lawan, dan segudang profesi lainnya yang kita anggap mampu menolong kita.

Kadang memang sudah syariatnya kita mengambil jalan demikian, jika kita dituntut seseorang, maka kita memerlukan advokat untuk maju ke pengadilan, jika kita sakit, tentunya kita memeriksakan diri kepada dokter, semacam itu. Namun, kadang dalam mencari solusi, kita menjadi berkelebihan. Dalam menegakkan keadilan kita dapat menzalimi orang lain. Dalam mencari kebenaran justru kita memalsukan fakta yang sebenarnya. Memang fitrahnya seorang yang dilanda kesulitan merasakan kesempitan dan terkadang rasa frustrasi memberikan kita dasar pertimbangan dan dasar pembenaran yang menyesatkan.

Pada saat saya mengalami ujian dalam hidup saya, saya sampai pada tahap kontemplasi, merenung, kenapa Allah mendatangkan cobaan yang demikian berat kepada saya. Apa yang hendak disampaikanNya kepada saya. Pertanyaan itu terus menerus memenuhi hati dan pikiran saya. Akhirnya saya memahami kesalahan-kesalahan yang saya lakukan yang menghantarkan saya pada kesulitan tersebut. Banyak bentuk kesalahan yang kita tidak sadari, mungkin sikap yang terlalu percaya diri merupakan wujud dari sikap takabur yang tidak diridhai Allah, sikap riya, tinggi hati atau sombong, sungguh meracuni jiwa. Jika kita membaca sejarah para nabi sejak Adam hingga Rasulullah, belum pernah ada satupun kesombongan suatu bangsa yang menang melawan Allah, semua berakhir dengan kemusnahan, kehancuran. Lantas, apa yang membuat kita, umat akhir zaman yang telah berani bersikap sombong ini, luput dari murka Sang Pencipta?

Melalui tahap kontemplasi saya menemukan betapa kecilnya diri ini di mata Tuhan Yang Maha Perkasa, betapa tidak ada daya upaya kita yang berhasil tanpa persetujuannya. Allah Al Malikul Mulk, Maha Penguasa Semesta, tidak membutuhkan seonggok upeti yang biasa dimintakan pejabat korup kepada korbannya; ataupun perempuan bayaran yang diumpankan pengusaha bejat kepada pejabat hidung belang demi memuluskan bisnisnya. Allah tidak membutuhkan semua itu bahkan Allah tidak merasakan kerugian sedikit pun sekalipun kita membelakangiNya sama sekali. Justru kita sendiri yang membutuhkan Allah, kita yang merasakan kerugian dari tindakan kita yang mendurhakaiNya [QS: 27.40]. Kedurhakaan kita kepada sang Maha Pencipta hanya membuat diri kita semakin tersesat dalam rimba belantara kehidupan.

Tahap kontemplasi adalah tahap yang kritikal, sungguh penting, yang harus kita lalui menjelang memperoleh petunjuk mengenai solusi yang diharapkan. Satu sikap dasar yang wajib ada dalam diri setiap orang yang melakukan perenungan adalah kepasrahan. Pasrah merupakan wujud dari pernyataan keikhlasan jiwa kita. Ikhlas menerima ujian, ikhlas merasakan sakit, ikhlas menerima ketidakadilan, ikhlas menerima kenyataan. Jika kita mau berpikir dan merenung sejenak, intisari dari segala bentuk ujian yang menghampiri setiap manusia berujung pada satu hal yang sama yaitu keikhlasan.

Semua ujian mendatangkan rasa sakit yang sama, kekecewaan yang sama bagi setiap orang yang merasakannya. Masing-masing orang yang tengah diuji menganggap ujiannyalah yang terberat, padahal jika kita mau sedikit menoleh ke sekitar kita, barangkali ujian kita hanya seujung kuku dari ujian yang diterima orang lain tersebut. Namun, kita demikian bersikukuh, menganggap ujian yang kita hadapi lebih meyedihkan, menyeramkan dan demikian tidak tertahankan dibandingkan dengan segenap ujian penduduk bumi ini. Jika saja kita mau merenung, sebenarnya yang menjadi persoalan mendasar dalam setiap ujian dalam hidup ini tidak lebih dari persoalan yang menyangkut keikhlasan.

Melalui tahap perenungan semestinya kita sanggup memetakan masalah yang tengah kita hadapi dan berusaha mencari akar masalah yang sebenarnya. Menyelesaikan suatu persoalan yang bukan dari akarnya hanyalah memperpanjang persoalan itu sendiri tanpa ada kejelasan solusi. Ibaratnya seorang dokter yang tidak mengerti apa yang salah dari seorang pasiennya, mencobakan segala metode, jenis obat, melalui simptom-simptom yang ditunjukkan oleh si pasien. Menyembuhkan seorang pasien hanya berdasarkan symptom tanpa berusaha mencari penyebab munculnya symptom tersebut adalah sama saja dengan mencoba menyelesaikan suatu persoalan dari akibat. Bisa dipastikan dokter tadi akan gagal mengobati pasiennya sebagaimana gagalnya seseorang jika mencari penyelesaian berdasarkan akibatnya, bukan sebab dari segala akibat.

Seharusnya dalam merenung, kita harus berani jujur terhadap diri kita sendiri karena hanya modal kejujuran tersebutlah kita mampu menemukan inti persoalan yang harus kita selesaikan. Kadang sulit bagi sebagian kita untuk bersikap jujur, karena kita tahu kejujuran itu tidak menyenangkan hati kita, bahkan lebih sering bertentangan dengan keinginan dan harapan kita. Pada saat kita berani untuk jujur mengkoreksi diri, menyerahkan persoalan kepada Allah, memohonkan penyelesaian kepada Yang Maha Adil tersebutlah sesungguhnya kita baru mendapati kondisi hati kita yang dilandasi keikhlasan. IKHLAS merupakan bentuk penghambaan kita yang tertinggi kepada Sang Pencipta. Kata yang terdiri dari enam huruf tersebut menuntut pengorbanan total dalam diri kita yang pada akhirnya membawa kita hijrah kembali kepadaNya.

Seluruh ujian apapun bentuknya mendatangkan rasa sakit, dalam hal ini sakit hati, yang luar biasa kepada yang mengalaminya. Mari saya tanyakan satu pertanyaan sederhana kepada kita semua. Mulai dari semua industry farmasi canggih yang ada saat ini sampai dengan pengobatan alternatif, pengobatan herbal, tradisional, dan sebagainya, pernahkan manusia berhasil menemukan suatu obat yang dapat mengobati sakit hati, dalam pengertian kalbu, yang diderita manusia? Saya yakin jawabannya hanya gelengan kepala alias tidak ada. Manusia tidak mampu menemukan obat tersebut karena hanya Allah yang memilikinya. Tidak ada sakit hati yang bisa sembuh tanpa kita mengikuti resep yang dituliskan oleh Allah bersama dengan setiap ujian yang kita hadapi itu. Pada saat Allah mendatangkan ujian, sesungguhnya dalam ujian tersebut sudah diberikan kunci jawabannya atau obatnya yang bernama IKHLAS.

Ikhlas merupakan pernyataan ketaklukan mutlak kita kepada Allah, kerelaan kita menjadikan Allah satu-satunya penolong dan pelindung, sebagaimana halnya dengan doa Nabi Ibrahim dalam puncak kepasrahannya menghadapi cobaan yang dihadapinya [QS: 4.45]. Melalui segala cobaan yang diberikanNya Allah hendak berkata kepada kita agar kita melepaskan pegangan kepada tali-tali selain tali Allah dan dengan segenap keyakinan kita berpegang hanya kepada taliNya. Tali Allah tidak akan pernah mengecewakan kita karena pada saat kita memutuskan untuk berpegang pada tali Allah [QS: 22.78], saat itu pulalah kita berhasil mencapai tahap keikhlasan. Ikhlas menjalani ujian atau cobaan, ikhlas merasakan rasa sakit, dan ikhlas menerima ketetapan Allah atas persoalan, cobaan atau ujian hidup kita tersebut. Pada akhirnya kita berhasil keluar dari persoalan yang membelit tersebut dan jiwa kita terbebas dari rasa sakit.

Tiga elemen penting dalam hidup yang senantiasa harus kita pelihara adalah mempertahankan hidayah, membangun sikap bersyukur dan ikhlas. Dalam pandangan saya, Hidayah ibarat pelampung bagi seseorang yang terapung-apung di samudera, parasut bagi seorang penerjun payung. Syukur sebagai penetralisir kekecewaan kita, pengingat betapa masih banyak kenikmatan lainnya yang kita miliki disamping kesulitan yang sedang menghadang. Dan akhirnya, Ikhlas, jihad yang kita lakukan demi memperolah ridha Allah dan menerima ketetapanNya.

Jika kita sampai pada tahap keikhlasan, tanpa sadar kita telah menemukan jati diri kita yang baru. Menjadi orang yang berhasil bertransformasi, dari seorang penuntut menjadi seorang yang bersyukur, seorang yang sempit hatinya menjadi orang yang sangat lapang hatinya. Jika saat itu terjadi berarti kita baru saja berhasil hijrah kembali ke jalanNya.

Semoga sharing saya ini dapat memberikan manfaat buat kita semua dan jika ada kata-kata yang tidak berkenan mohon kiranya dimaafkan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amin.

Rasuna, 29 Agustus 2009
Nela Dusan

15 February 2009

Sebait Puisi Buat Malaikat Kecilku



Enam tahun adalah waktu yang mama dan papa habiskan untuk menunggumu…malaikat kecilku
Penuh perjuangan mama berusaha untuk memperolehmu
Ketika Allah berkenan menjawab doa kami…bahagia, penuh harap dan cemas bercampur aduk
Tidak mungkin mama lupakan ketika suatu malam sepulang kantor
Kau berontak di dalam perut mama, mengingatkan ketika mama hampir melupakan betapa sulitnya mendapatkanmu sebelumnya…
Seolah protes, kamu katakan pada mama, “stop bekerja seperti kuda ma,
Bukankah mama yang selalu berdoa agar bisa ketemu aku?”
Saat mama tersadar semua hampir terlambat, syukurlah om dokter masih bisa membujukmu
Agar betah bermain dalam perut mama untuk beberapa minggu lagi
Kau masih terlalu kecil untuk lahir sayangku…

Sejak dalam perut mama, kamu sudah bisa memaksa mama untuk menurutimu, lewat dokter tentunya
Om dokter bilang pada mama untuk beristirahat di tempat tidur sampai kamu bisa kuat untuk bertemu mama dan papa
Mama harus bisa menyetop kerja yang tiada berujung kalau masih ingin menimangmu
Tahukah kamu suatu yang tidak pernah mama sangka, betapa mudahnya mama mengambil keputusan memilihmu dibandingkan pekerjaan
Semata karena inginnya kami bertemu denganmu…

Belum lewat 36 minggu kau berdiam dalam perut mama,
Kau memaksa untuk segera berjumpa dengan mama
15 Februari delapan tahun yang lalu, pagi hari dokter datang menjemputmu
Rambut hitam yang menutupi kepalamu yang mungil seolah memenuhi dahi untuk bersambung dengan alis kecilmu yang hitam dan tebal, membuat mama tidak akan pernah salah mengenalimu meski ditengah belasan bayi lainnya
Betapa mungilnya kau malaikat kecilku…

Delapan tahun sudah kau isi hidup mama dan papa dengan celoteh dan kenakalanmu
Mulai belajar merangkak hingga mampu berlari…
Belajar berenang hingga bersepeda …dalam waktu delapan tahun
Tahukah kamu apa yang selalu menjadi doa mama untukmu
Semoga Allah memberikan kekayaan dalam hatimu untuk selalu mensyukuri apa yang engkau miliki kelak…
Menjauhkanmu dari rasa sepi…
Meskipun hingga saat ini kami belum juga mampu memberikan satu apalagi dua saudara bagimu
Semoga Allah menjadikanmu perempuan sholehah yang selalu menyayangi mama dan papa
Yang akan membimbing kami ketika tungkai ini sudah tak sanggup lagi menopang tubuh renta kami nanti
Yang tetap mencintai kami meskipun kami cuma bisa terangguk-angguk diatas kursi tanpa daya
Meskipun kadang kami sering salah menyebut namamu kala ingatan kami semakin berkurang seiring waktu…
Semoga Allah mengirimkan seseorang sebagai suami yang akan mencintaimu dan menjagamu dengan tulus kelak
Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan kepadamu
Untuk merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang mama rasakan ketika pertama kali berjumpa denganmu delapan tahun yang lalu…malaikat kecilku.

Rasuna, 15 Februari 2009

Untuk putriku tercinta, Syifa Adila Prasetyo
Di hari ulang tahunnya yang kedelapan
Semoga Allah mengabulkan doa mama. Amin.

Penuh cinta,
Nela Dusan

17 December 2008

Bintang di Langit Madinah

Dua puluh hari kujejakkan langkahku
Di tanahMu
Kumasuki rumahMu
Kuhampiri masjid NabiMu
Setiap detik kukagumi indahnya masjidMu, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Agungnya Masjidil Haram menggetarkan bathinku
Cantiknya Masjid Nabawi dengan warna yang mengingatkanku akan indahnya surgaMu

Kunikmati setiap saat yang kulalui di masjidMu Ya Rasul
Kagumi setiap ukiran dan sapuan warna pastel masjidmu yang indah
Kutahan nafas ketika kubahmu perlahan membuka lebar
Tatkala langitMu menyapa dan angin sejukMu menerpa wajah yang terkantuk menunggu panggilan shalatMu
Kukagumi langitMu yang biru dari lantai marmer Masjid RasulMu

Saat malam menjelang, kupandangi kubah yang bergeser
Membiarkan langit malam menjadi tontonan hambaMu
Kukagumi langitMu dan bulanMu Ya Allah...langit di atas Nabawi

Maafkan kelancanganku Ya Rabbi…
Tak mampu kutahan tanya hatiku
Kemana gerangan bintang-bintangMu

Dua puluh malam kulalui di tanahMu Ya Allah…
Tak kulewatkan semalam pun tanpa menengadah ke langitMu
Kemana gerangan bintangMu bersembunyi Ya Rabbi…
Tidakkah kau ijinkan mataku mengagumi indahnya malam bertabur bintang ditanahMu
Kurindu menyaksikan gemerlap bintang dilangitMu

Setiap kali kutengadah di setiap malam sesudah kembali dari MasjidMu
Setiap kali tanya hatiku bergema
Kemana gerangan bintang-bintangMu Ya Rabbi…

Maafkan aku Ya Tuhan,
Bukan maksudku tidak mensyukuri nikmatMu
Kehadiranku di rumahMu dan masjid-masjidMu
Menjadi nikmat tak terhingga bagiku, hanya…
Kurindu menatap gemerlap bintang-bintang di langitMu…
Menjelang berakhirnya dua puluh tiga hari kunjunganku di tanahMu


Genap di malam ke dua puluh dua kuhirup segarnya udara di kota RasulMu
Ketika hati ini lelah bertanya
Ketika mata ini tak lagi mencari
Kutangkap satu kerjap cahaya bintangMu di langit
Saat kunikmati kebab di pinggir taman
Kau beri aku kejutan indah
Aku tahu Ya Allah
Kau Maha Pengasih
Setelah penantianku lebih dari dua puluh malam
Kau beri aku kesempatan menikmati indahnya gemerlap bintangmu
Meski hanya satu bintang
Terima kasih Ya Allah
Telah memberiku satu bintang hiasi langit Madinah

Oleh: Nela Dusan
Madinah, 11 Jan 2007

08 December 2008

Wukuf

Hari ini aku nantikan perjumpaan denganMu
Kukenakan pakaian putihku yang terbaik
Pakaian yang kupilih sendiri untuk
Perjumpaanku denganMu di Arafah

Sebagaimana aku berjumpa denganMu di Arafah
Demikian kiranya perjumpaanku denganMu di padang Masyar kelak
Hanya pakaian putihku bukanlah pilihanku, bukan pula yang terbaik

Hari ini di Arafah kubayangkan saat pertemuan denganMu
Bukan pertemuan di Arafah
Tetapi saat pertemuan di Padang Masyar
Pada saat ampunan sirna
Pintu tobat tertutup

Ya Allah,
Jangan biarkan aku berada di luar
pada saat Kau tutup pintuMu
Kutempuh perjalanan berdebu
Untuk sampai ke tempat ini
Betapa syukurnya aku atas kesempatan yang Kau berikan padaku
Untuk mendatangimu di sini
Di Arafah

Sebelum Kau kumpulkan kami di Padang Masyar
Kau ijinkan aku menghadapMu
di Arafah
Dengan pakaian putih terbaikku
Dengan selembar sajadah
Tengadah kepadaMu
Ampuni aku Ya Allah

Betapa syukurnya aku
Bersimpuh diatas pasir berdebu
Dengan pakaian putihku yang terbaik
menghadapMu pada saat Kau bukakan pintu ampunMu dan limpahan berkahMu kepada semua mahluk yang memohon kepadaMu selagi wukuf di Arafah

Arafah, 29 Dec 2006

Oleh: Nela Dusan

05 November 2008

Perjuangan Abadi

Syukurku pada hari ini, berhasil berjumpa denganMu
Sesalku malam ini, betapa cepatnya waktu berlalu
Harus kukemas semua bawaanku keluar dari Arafah
Pakaian putih yang masih melekat, menandai pertemuan istimewa dengan Sang Tuan Rumah
Arafah, sebentar lagi kutinggalkan engkau.

Meskipun berat untuk beranjak, namun bergegas kaki bergerak menaiki kendaraan yang menunggu
Selamat tinggal Arafah, entah kapan aku bisa berkunjung lagi

Semalam suntuk menuju Mekkah untuk thawaf ifadah
Tak terbayang kelelahan para pengendara
bersabar ditengah lautan manusia dan kendaraan,
semalam suntuk di Muzdalifah
Sejak kaki ini menaiki bis, tertidur, terjaga, kembali lelap hingga terjaga lagi, sepuluh jam berlalu
Sampai jualah kami di Masjidil Haram, Rumah Allah

Pagi itu di saat Raja Arab menghadiri shalat ied
Aku terus melanjutkan tawaf ifadah dengan hati bergelora,
Dapatkah kuselesaikan rukun hajiku dengan sempurna?
Ya Allah betapa kuingin selesaikan rukun hajiku dengan sempurna

Menyudahi tujuh putaran tawaf ifadah,
Dilanjutkan dengan Sa’i
Terbayang tangisan Siti Hajar dan bayinya
Bersatu dalam tekad,
Betapa air mata dan keringat membasahi wajah
Cinta, permohonan belas kasihan dan usaha tanpa menyerah
Meluruhkan Penguasa Surga yang menyaksikan dari singgasanaNya
Cukuplah usahamu ya Siti Hajar,
biarlah Kuhadiahi engkau setetes air,
tidak hanya untuk anakmu, tetapi untuk anak dari anakmu,
cucu dari cucu-cucumu,
Sebuah sumber air yang kau sebut zamzam.

Terseok-seok langkahku, menyeret kaki yang terasa bagai menginjak paku
Ya Allah, ijinkanlah aku selesaikan Sa’i ku sebagaimana layaknya yang dilakukan oleh nenek dari nenek-nenekku, Siti Hajar.
Tak ada tandingannya rasa pedih yang dirasakannya
Tidak pula rasa sakit kaki ini meski seperti diiris sembilu, aku harus mampu

Genap tujuh kali kujalani perjalanan dari Safa menuju Marwa
Genaplah rukun haji kami jalani,
Saling memotong beberapa helai rambut
Saling berpelukan memberi selamat,
Selamat menjadi seorang haji dan hajjah
Terselip perasaan haru tak terlukiskan
Setengah tidak percaya, aku telah menjadi hajjah
Beginikah rasanya berhasil menjadi seorang hajjah?
Sejenak semua rasa berkecamuk di dalam dada
Ya Allah, benarkah aku telah menjadi seorang hajjah?
Sekejap terbayang kecemasan, bagaimana aku seharusnya sebagai seorang hajjah?
Ya Allah, patutkah aku menyandang gelar hajjah?

Terbayang kembali perjuangan Siti Hajar, peluh dan tangisnya
Betapa berat perjuangannya dulu,
Kenapa aku mesti cemas sementara aku telah berkesempatan membasuh diri
Kenapa aku mesti bimbang menetapkan langkah,

Perlahan tetapi pasti, Kau kembalikan ketenangan jiwaku
Aku mantap ya Allah, aku ikhlas ya Allah melangkah mendekatiMu
Bimbinglah aku selalu Ya Rabbi, dalam hijrahku ke jalanMu

Nela Dusan
Masjidil Haram, 30 Desember 2006

04 November 2008

Sebuah Negara Tanpa Batas

Siapa bilang Amerika Serikat sebuah negara adidaya atau Inggris sebuah kerajaan yang terhebat yang bisanya menjajah tanpa berkesempatan dijajah
Jerman negara yang sukses menata harga diri diantara reruntuhan sejarah kelam atau Perancis inspirator lahirnya perjuangan menumbangkan tirani feodalisme

Siapa bilang Jepang adalah negara paling maju yang rakyatnya rajin dan giat bekerja atau Cina yang telah lama mengubur dalam-dalam impian negara tanpa kelasnya

dengan berpaling dan merengkuh kapitalisme
Singapura atau Malaysia tetangga kita yang rajin mencari peluang eksploitasi di kampung kita

Negara hanyalah nama berikut batas-batas wilayah yang teorinya harus saling dihormati
yang tidak sembarang kita bisa saling lintas batas atau seenaknya datang dan pulang
punya kepala negara yang mestinya seorang hamba sahaya rakyat, bukan sebaliknya
berdiri di atas sekeping tanah dimana ditancapkan bendera dan dikumandangkan lagu kebangsaan

Jika tahun depan kita baru menonton perebutan kursi presiden,
Hari ini Amerika menyaksikan akhir persaingan calon presiden mereka,
John Mc Cain atau Barack Obama?
Sampai terjawab, pertanyaan itu terus mengumandang
Heran, memang ada bedanya?

Langkah telah diayunkan, rencana telah terukir
Akankah Mc Cain memiliki kesehatan berpikir dan berjiwa besar menarik pasukannya dari Irak atau berkonsentrasi membenahi urusan domestiknya berbeda dari pendahulunya
Akankah Obama memiliki keberanian dan kearifan
Yang mampu membedakan antara mudharat dan manfaat

Kita sangka presiden Amerika Serikat demikian berkuasa
Satu-satunya manusia di muka bumi ini yang boleh berjalan ke sana kemari
Menginjakkan kakinya dimana dia inginkan, kecuali secuil tanah di Arab sana
Yang baru bisa diinjaknya setelah terucap kalimat syahadat dari mulut dan hatinya

Kita percaya presiden Amerika Serikat demikian berkuasa dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya
terbiasa dijilat pemimpin dunia kelas kambing murahan

demi menambah perpanjangan masa berkuasa
Atau sekedar memperoleh kesempatan berkuasa
Dengan bermodalkan menjual dan memeras bangsanya
Pemimpin palsu karbitan
Apakah kita yakin semua itu karena kedigdayaan seorang Presiden

Sebenarnya sudah lama peran dan kuasa presiden di suatu negara itu sirna
Digantikan oleh presiden direktur atau CEO suatu perusahaan multi nasional
yang tidak mengenal batas teritori, apakah ia didirikan di Amerika, Jepang, Jerman, Inggris atau Indonesia sekalipun

Yang memiliki pengikut di seluruh dunia melalui papan pencatat Nasdaq, Hang Seng,
yang mengeruk uang investor seluruh dunia melalui NYSE, LSE, BEI, apapun namanya
Yang memiliki perangkat undang-undang sendiri dengan apapun namanya kode etik, prinsip-prinsip bisnis yang berlaku tanpa memandang batas negara
Demi kepentingan dan keuntungan segelintir pemegang saham atau pemangku kepentingan
Yang kerap berbenturan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan
Yang seringkali berlindung dibalik kekuasaan atau terang-terangan menggunakan perangkat kekuasaan


Masihkah kita berharap banyak dari perubahan suatu pemerintahan
Kenapa mesti meributkan McCain atau Obama jika efeknya buat kemashalatan bangsa Amerika sendiri masih dipertanyakan, apalagi bagi kita

Rasuna, 4 November 2008
Nela Dusan