18 June 2014

Menyatu DenganMu

Tuhanku...
Jangan biarkan hamba 
memiliki mimpi yang tidak Engkau ridhoi
Atau menginginkan sesuatu yang tidak Engkau kehendaki
Jadikanlah keinginanMu sama dg keinginanku sehingga hati ini tidak pernah tersakiti.

Karenanya, karuniakan hambaMu ini dengan keinginan yang sama denganMu
Agar terpelihara hati ini dari rasa kecewa
Lindungilah hamba dari keinginan yang tidak haq dan
Penuhi hati hamba dengan rasa syukur. Aamiin.

Another self reminderšŸ˜Š


18 February 2014

Ekonomi Dorayaki ala Indonesahh


Setelah capek bermacet-macet seharian, saya dan sahabat saya, Ina, memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia untuk relaxing sebentar sambil makan rujak di food court. Setelah itu, kami memutuskan untuk membeli kue dorayaki.

Biasanya saya selalu membeli kue dorayaki di Supermarket yang terletak di Pacific Place. Meskipun tidak biasa membeli di Supermarket yang terletak di Grand Indonesia itu, namun sebagai penggemar kue dorayaki, saya selalu merasa senang  kalo berkesempatan membeli kue bundar yang konon merupakan kesukaan Doraemon itu.

Sesampainya di counter dorayaki, saya pun langsung memesan 6 dorayaki. Pertama saya nggak memperhatikan apa yang aneh karena sepintas semua sama dengan tempat langganan saya. Sebentar saja saya langsung tahu apa yang aneh.

Pertama, wanita yang memasak dorayaki menuangkan adonan dengan takut-takut (takut kebanyakan kah?). Karena nggak tahan saya langsung komentar kenapa adonan yang dituang sedikit sekali, sampai-sampai si mbak yang masak harus mengayun-ayunkan sendok takaran agar tertuang semua padahal sudah kosong. Saya langsung komen, “wah kenapa begitu cara masaknya mbak?” saya merasa terganggu sekali karena sebagai penggemar dorayaki yang fanatik, saya mengharapkan standard masak yang sama dengan yang di Pacific Place. Memang itu supermarket yang berbeda.

Lebih jauh lagi, dengan cueknya saya terus berkomentar, “kenapa kecil dan tipis dorayaki yang kalian buat. Saya biasa beli di PP dengan merek yang sama tapi supermarket yang berbeda, mereka buat besar dan tebal” Si mbak dan temannya agak cemberut tapi mencoba menjawab dengan serempak dan setengah menyeringai puas ke saya, kata mereka “yah di sana kan harganya beda…lebih mahal, disana Rp 8.500…sedangkan kita Rp 8 ribu saja.”

Bukannya merasa happy karena membayar lebih murah seperti yang mereka klaim, saya malah menjawab kenapa mereka tidak samakan saja harganya jadi 8.500 rupiah dan berikan takaran yang sama. Keduanya semakin cemberut.

Yang lucunya lagi, ketika tahu saya memesan 6, mereka langsung menempatkan adonan sebanyak 12 lembar di atas pan yang sama persis dengan yang di PP. Hasilnya pan yang seharusnya hanya memuat 8 lembar kue, dipaksakan memuat 12 lembar kue. Artinya, mereka menghemat adonan bukan? Untuk menghasilkan 12 lembar kue, adonannya harus dikurangi agar ukurannya pas di atas pan.

Bagi saya itu suatu kecurangan, kecurangan #2. Kecurangan #1 adalah harga. Mereka menjual dengan harga 8000 rupiah seakan lebih murah dari supermarket saingan. Padahal, dari adonan dan isi, penghematan mereka jauh melebihi 500 rupiah yang mereka klaim lebih murah.

Tunggu dulu, masih ada lagi kecurangan yang berikutnya. Biasanya di Pacific Place, untuk pembelian dorayaki sebanyak >6, saya selalu mendapat box, kecuali box sedang habis. Tadi saya dapati dorayaki saya yang sizenya menyusut itu dimasukkan ke dalam tas plastik belanjaan biasa sebelum diganti box atas protes saya.

Sekarang saya pengen mengajak teman-teman semua untuk berhitung. Benarkan harga 8.500 yang kita bayar di Pacific Place itu lebih mahal daripada harga dorayaki dengan merek yang sama yg terletak di Grand Indonesia?

Selisih 500 rupiah, tapi pembeli kehilangan kue sebanyak 4 lembar atau 2 pasang dorayaki yang total harganya 16 ribu rupiah sebagai akibat size yang diperkecil. Artinya dengan memasang harga lebih murah 500 rupiah, penjual meraup keuntungan 16 ribu sementara keuntungan yang diiming-imingi kepada pembeli adalah 6 dorayaki x 500 rupiah, yaitu 3.000 rupiah, ‘cerdas’ bukan? Kalau setiap pembeli yang nggak protes dikasih kantong kresek, maka mereka telah mengurangi cost untuk box yang pasti ada harganya. Belum lagi dari sisi isi. Kalau di Pacific Place, saya minta isi cheese, artinya cream cheese dengan keju parut. Tapi di Grand Indonesia, kalau saya minta cheese maka yang hadir hanya keju parut. Alasannya lagi-lagi, kalo cheese dan cream cheese harganya beda. Semua itu atas dasar harga yang lebih murah 500 rupiah.

Pertanyaan saya, kenapa counter dorayaki dengan brand yang sama namun berbeda supermarket yang menjualkannya, bisa berbeda standard harga. Secara spontan saya protes. Saya bilang seharusnya kalian menaikkan harga supaya bisa memberikan service yang sama, bukan malah menurunkan harga tapi banyak hal yang ditilep.

Dorayaki hanyalah dorayaki, nggak penting, saya tahu. Tapi bagi saya, Dorayaki-gate itu merupakan representasi gaya bisnis orang Indonesia kebanyakan, saya tidak bilang seluruhnya. Seharusnya para ahli ekonomi mengulas teori ekonomi dorayaki itu. Apakah benar, dengan membayar harga murah seseorang mendapat keuntungan?

Bagaimana bisa para pembuat kebijakan dalam pengadaan misalnya, menetapkan harga merupakan patokan, bukan specification. Hasilnya, nggak heran kalo pengadaan barang pemerintah juga amburadul. Harga dimurahin supaya menang tender, tapi spek ngawur semua. Kalo itu masalah konstruksi, spek dikurang-kurangi sehingga penawaran terkesan terendah, tapi hasil konstruksi malah tidak terpakai. Membeli barang sebesar 10 ribu rupiah sekalipun akan menjadi pemborosan kalau baru sekali atau belum sempat dipakai sudah rusak. Konon menjadi kontraktor di Perancis luar biasa berat karena wajib memberi jaminan seumur hidup, bukan setahun atau dua tahun seperti di Indonesia. Harga jaminan seumur hidup itu sudah mereka hitung dan masukkan ke dalam penawaran. Kalau seperti itu, apakah bisa memberikan penawaran dengan banting harga?

Saya bukan ekonom, bukan seorang ahli hitung atau pengamat ekonomi. Saya hanyalah seorang penggemar dorayaki yang merasa kesal karena ada pedagang yang nggak paham spek dan menganggap semua beres dengan mengiming-imingi saya harga yang lebih murah 500 perak saja sementara mereka meraup keuntungan jauh lebih banyak daripada yang menjual lebih mahal 500 dari mereka. Sistem dagang apa itu?

Apa bagusnya berdagang dengan cara curang seperti itu. Saya nggak heran kalo model jualan dorayaki itu diterapkan di semua bidang industri, termasuk telekomunikasi kita yang udah sampe titik memuakkan. Kenapa memaksa diri melayani semua pengguna telepon, mulai dari pengangguran sampai presiden. Uang kita semua diterima, tapi service??? sedikit di atas nolll besar. Konon, soal perusahaan telekomunikasi itu juga erat dengan penerapan teori dorayaki tadi. Supaya harga jual bisa murah, gunakan mesin dari negeri seberang yang nggak jelas kualitasnya alias abal-abal. Akibatnya, judul paket internet apalah namanya, tetap saja kita tidak bisa gunakan. Memang pola ekonomi seperti itu pola ekonomi yang baik? Itu sama saja dengan perampokan uang masyarakat. Kalau itu pengadaan pemerintah, itu sama dengan kerugian Negara, seharusnya KPK menelusurinya.

Saya teringat salah satu kisah dimana seorang pedagang gula mengadu kepada Rasulullah. “Hai Rasulullah, pedagang di pasar tempat aku berjualan sekarang berlomba-lomba memberikan harga yang murah, namun mereka telah mengurangi timbangan mereka sebanyak 250 gram untuk setiap kilogramnya. Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku lakukan yang sama ya Rasul. Pembeliku berangsur-angsur pindah ke tempat lain.”
Rasulullah menjawab, “Hai fulan, jangan pernah kau lakukan kecurangan seperti itu. Lebih baik kau tetap bertahan dengan hargamu tetapi berikan kelebihan timbangan untuk setiap kilogram yang kau jual. Insya Allah barang daganganmu akan semakin laris.”
Si fulan mempraktekkan yang disarankan Rasulullah, hasilnya, benar para pembeli yang semula beralih kembali berbelanja kepada si fulan setelah mereka menyadari kurangnya timbangan yang melebih keuntungan harga yang ditawarkan kepada mereka.

Demikianlah kurang lebih ilustrasi yang saya pikir relevan dengan situasi perdagangan kita sekarang. Mohon maaf jika pada bagian percakapan Rasulullah dengan umatnya kurang akurat. Yang hendak saya kedepankan adalah hikmahnya. Berjualan itu profesi yang mulia, sangat mulia. Namun, Allah juga sudah memperingatkan para pedagang agar tidak melakukan kecurangan pada timbangan, termasuk di dalamnya sulap-sulapan harga padahal di sanalah terselip keuntungan tidak halal mereka. Yah itu bagi mereka yang masih percaya adanya surga dan neraka.

Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung. Semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk terus menetapi jalan kebenaran, tidak perduli seberapa parah kondisi umum yang berlangsung di sekitar kita. Aamiin yra.

Rasuna, 18 Februari 2014
Nela Dusan

10 September 2012

Sebuah Permohonan

SEBUAH PERMOHONAN

Kadang kita lupa dan khilaf,
membalaskan sakit hati dan membenci secara berlebih

Mengapa kita tidak mau membaca dengan cara yang diajarkanNya
Melalui sifat-sifatNya...
Sesungguhnya kezaliman seseorang adalah kezalimannya kepada Sang Maha Haq...

Kezaliman kepada dirinya sendiri dan bertentangan dengan
fitrahnya yang tersimpan jauh di dalam qalbu

Apabila tengah datang kepada kita suatu kezaliman
Kembalikanlah kepada Tuhan kita, Sang Penguasa Siang dan Malam...
yang ubun-ubun kita dalam genggamanNya...
Marilah kita bermohon doa hanya kepadaNya...
mohonkanlah perlindungan dan pertolonganNya..
Tiada tempat lain yang layak bagi kita untuk meminta pertolongan
kecuali kepada Sang Maha Pelindung...

Tuhanku...karuniakanlah aku
sedikit sifatmu yang Maha Pemaaf,
agar dapat kuredakan amarahku
Agar dapat kuturunkan kesombonganku
Karuniakanlah aku
Sedikit sifatmu yang Maha Penyayang
Agar dapat kulunakkan hatiku
Untuk membalaskan kezaliman dengan kasih sayang
Agar dapat kujalani kehidupan yang Kau karuniai penuh ridho dan syukur...
Agar dapat kulalui waktu tanpa rasa resah...
menanti waktu terindah...di hari penjemputanku
Kembali kepadaMu ya Rabb...Amin


Pos Pengumben, 26 Februari 2011
Nela Dusan

09 September 2012

The Golden Mean Aspect Ratio


Baru-baru ini saya dikirimi oleh mas Mohamad Setiawan, teman di Rumah Kayu Fotografi sebuah link video youtube mengenai golden mean aspect ratio. Yang menarik dari materi yang ditayangkan dalam video itu adalah fakta bahwa bagian-bagian tubuh manusia mempunyai rasio perbandingan yang persis sama, yaitu 1,618.

Selama ini saya pun tidak pernah terpikir untuk mengukur berapa panjang ujung alis kiri sampai ke ujung alis kanan dan membandingkannya dengan lebar ujung bibir kiri dengan ujung bibir kanan atas, atau jarak panjang pangkal lengan kita sampai ke siku berbanding panjang siku sampai ke pergelangan tangan, menurut penelitian para ahli yang melakukan studi tentang itu, memiliki rasio 1,618.

Demikian pula halnya dengan kota Mekah, berdasarkan penelitian para ahli terhadap letak geografis kota Mekah di atas muka Bumi ini jika ditarik garis batas bujur barat ke pinggir barat kota Mekah dan ditarik garis dari batas bujur timur hingga ke batas Timur kota Mekah akan diperoleh rasio jarak sebesar 1,618. Demikian pula jika diukur berdasarkan garis lintang baik secara horizontal maupun diagonal, semua mempunyai rasio 1,618. Kaabah sendiri pun terletak di kota Mekah dengan rasio 1,618 jika ditarik garis dari ujung barat dan timur batas kota Mekah. Seharusnyalah kita tidak perlu heran karena Al Quran di beberapa surat sudah menyebutkan betapa Allah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran antara lain bisa dilihat dalam Surat Al Qamar [QS.54] ayat 49. Lebih tegas lagi dalam Surat Al Furqaan [QS.25] ayat 2 disebutkan:

“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”.

Oleh karena Allah sungguh memperhatikan ukuran, sifat tersebut pun dikaruniakanNya kepada Manusia mahluk ciptaanNya. Terbukti dalam dunia seni dan arsitektur, manusia pun secara alamiah mempunyai cita rasa tertentu dan mereka menerapkan rasio yang sama dalam karya-karya mereka.

Demikian pula halnya dengan dunia fotografi. Yang menjadi perhatian saya adalah rasio itu di dunia fotografi ternyata sudah sangat dikenal namun istilah yang dipakai adalah “rule of thirds”. Dalam komposisi fotografi, pasti setiap fotografer akan mengetahui mengenai rule of thirds ini. Kini saya jadi paham dari mana rule of thirds itu berasal. Meskipun penyimpangan selalu dimungkinkan, namun terbukti foto dengan komposisi yang menerapkan rule of thirds selalu mendapat nilai lebih dari mata pengamat atau penikmat foto.

Kembali kepada fakta bahwa Kaabah berada tepat di posisi 1,618 kota Mekah dan Mekah sendiri menempati posisi dengan rasio 1,618 di atas muka bumi ini menambah keyakinan saya bahwa Kaabah itu memang merupakan centre of the earth. Jika selama ini saya menganggap demikian karena seluruh umat muslim yang melaksanakan shalat di manapun mereka berada, akan memastikan menghadapkan wajah mereka ke arah Mekah dimana Kaabah berada. Dengan diketahuinya golden mean aspect ratio tersebut, saya jadi bisa membayangkan di atas bumi ini, Mekah dan Kaabah memang merupakan point of interest sebagaimana dikenal dalam rule of thirds dalam dunia fotografi. Dan, hal itu 100% bukan kebetulan.

Allah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan takarannya. Kini kita tahu apa arti dari kalimat itu. Allah menciptakan bagian-bagian tubuh kita dengan rasio 1,618. Ada kalanya rule of thirds dalam dunia fotografi dilanggar, entah karena sengaja atau tidak sengaja (karena kurangnya pemahaman sang fotografer sendiri mengenai basic composition rule tadi). Pelanggaran itu tidak selalu berarti buruk, apalagi pelanggaran yang disengaja, justru menambah kekuatan tampilan foto.

Jika bagian tubuh kita yang diciptakan dengan rasio 1,618, yang dalam dunia seni dan arsitektur dianggap sebagai rasio yang sempurna (golden mean aspect ratio), diutak atik oleh manusia tentunya akan berdampak pada tampilan manusia itu sendiri. Sebagaimana layaknya pelanggaran rule of thirds yang disengaja pada fotografi, pelanggaran secara sengaja terhadap rasio 1,618 atas bagian tubuh manusia bisa jadi tidak terelakan. Misalnya dalam situasi kecelakaan parah yang dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia tersebut mengharuskan dilakukan tindakan operasi terhadap suatu bagian tubuh manusia yang mengakibatkan berubahnya rasio tersebut. Dalam pandangan saya hal itu seperti kesengajaan pelanggaran rule of thirds dalam fotografi, hasilnya tidak mesti buruk.

Namun, jika pelanggaran rasio 1,618 dilakukan dalam rangka menambah kecantikan melalui operasi bedah kosmetik yang marak terjadi belakangan ini, maka tindakan itu sama halnya dengan pelanggaran rule of thirds yang dilakukan oleh orang yang tidak memahami konsep dasar komposisi. Hasilnya, ya untung-untungan, tapi kebanyakan justru tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Tuhan menciptakan manusia penuh perhitungan, termasuk memperhitungkan kondisi jika manusia itu sedang kurus, gemuk, masih muda atau sudah tua. Lalu, muncul ilmu bedah kosmetik yang sedianya ditujukan untuk rekonstruksi terhadap kondisi seseorang yang diakibatkan karena kecelakaan parah yang sifatnya emergency kemudian berkembang menjadi leisure, untuk keindahan (keindahan versi siapa?). Pada saat rasio itu diganggu, maka perhitungan lain-lainnya pun terganggu. Hasilnya, bisa jadi beberapa waktu setelah operasi bedah plastik, seseorang mendapatkan hasil yang dia inginkan, namun seiring berjalannya waktu akan muncul efek operasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Setelah memahami golden mean aspect ratio yang diciptakan Tuhan, tentunya tidak mengherankan jika hasil operasi plastik yang sedianya ditujukan untuk menambah kecantikan atau keindahan tubuh, malah berbalik menjadi tindakan pengrusakan keindahan itu sendiri secara brutal. Saya pernah membaca majalah yang pada edisi itu dikupas mengenai kegagalan operasi bedah kosmetik, naudzubillah, sungguh mengerikan. Sebenarnya tidak mengherankan mengingat Al Quran dalam Surat An Nisaa ayat 119 telah memperingatkan mengenai tipu daya syaitan  dalam hal merubah ciptaan Allah dan akibat yang merugikan bagi manusia yang terperdaya akan bujukan syaitan tersebut.

Alhamdulillah Allah berkenan memberikan sedikit pemahaman mengenai golden mean aspect ratio dalam perenungan sejenak setelah melihat video dengan durasi sekitar sembilan menit itu. Mohon maaf jika ada kata-kata yang keliru atau pun tidak berkenan mengingat segala keterbatasan dan kebodohan diri ini. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca renungan ini.

Rasuna, 9 Agustus 2012
Nela Dusan

Bola Karet dan PlatformNya


Layaknya bola karet yang jatuh dari ketinggian, akan mental kembali ke udara begitu menyentuh permukaan yang keras (platform). Sepanjang bola karet itu belum juga menyentuh suatu platform, ia belum akan menghentikan luncurannya.

Jika bola karet itu adalah kondisi tiap2 manusia yang sedang diuji dalam kesulitan, maka platform itu adalah akhir dari kesulitan mereka. 

Jika dipikir2, jarak platform tempat bola karet manusia melambung kembali juga berbeda2, ada yang pendek jaraknya, ada juga bagaikan jurang tanpa akhir. Jauh dekatnya jarak bola karet kita dengan platform, yang kalau diterjemahkan adalah kesulitan dan terjawabnya doa kita sebagai akhir dari kesulitan, juga sangat variatif dan tergantung pada kita sendiri yang sedang melakoni bola karet tadi. 

Kita tidak bisa memaksa penyelesaian persoalan kita menurut cara kita, tapi kita sepenuhnya diberi kendali untuk menentukan sikap kita dalam menghadapi kesulitan yaitu apakah mau bersabar atau memilih ingkar. 

Kita boleh ngotot mencari cara sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang kita hadapi, tetapi jika cara itu berbeda dengan cara yang ditetapkan Tuhan, maka platform tadi tidak akan kunjung kita temui. Lucunya kondisi itu sering disikapi dengan pesimisme, "kenapa Tuhan tidak juga menjawab doa saya".

Ada cara yang efektif untuk mempercepat tercapai platform bola karet kita, yaitu ikhlas. Pada saat kita ikhlas menerima dan menyerahkan semua urusan kita kepadaNya secara total, maka Dia akan segera menyediakan platform bagi bola karet kita. 

Nah pada saat itulah situasi yang sebelumnya terasa sempit, rasa terabaikan, kecewa, marah ataupun galau, akan langsung hilang. Pada saat itu kita akan mulai merasa betapa persoalan kita mulai terurai satu demi satu tanpa kita pernah membayangkan caranya sebelumnya. Maka, bersyukurlah sahabat atas segala rahmat yang kita terima, baik dalam kesulitan maupun kesenangan, karena itu sudah ujian yang dipilihkan Tuhan untuk kita.

Mari kita mengosongkan hati dari keinginan mengatur, agar kita  lebih peka mengenali pertolongan Tuhan. Kadang kita terlalu lelah menunggu dikabulkannya doa kita sehingga tidak lagi mampu mengenali bahwa sebenarnya Tuhan sudah memberikan penyelesaian atas urusan kita bahkan dengan cara yang lebih indah dan baik bagi kita.

Rasuna, 11 Agustus 2012
Nela Dusan

25 March 2011

Di Antara Dua Rahang dan Dua Kaki



Kita semua adalah umat akhir zaman. Meskipun terpaut lebih dari 1400 tahun dengan Rasulullah, namun warisannya berupa Al Quran dan Hadits senantiasa menjadi pedoman bagi kita, kaum muslimin, semua.

Kita sering menemui beragam kenyataan sehari-hari yang telah disinggung dalam suatu firman Allah dalam Al Quran atau Hadits Nabi. Salah satunya yang ingin saya bicarakan adalah mengenai satu hadits:

Rasulullah bersabda: Siapa yang mau menjamin untukku sesuatu yang ada di antara dua tulang rahang (mulut) dan sesuatu yang ada di antara dua kaki (kemaluan), maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR al-Bukhari).


Allah telah berfirman dalam Surat Al Ahzab ayat 70 dan 71:
QS. 33.70
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
QS. 33:71
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Mari kita renungkan ayat Al Quran mengenai himbauan untuk berkata jujur dan bandingkan dengan kenyataannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Allah berbicara kepada manusia melalui firmanNya dalam Al Quran, insya Allah, kita lah yang Dia maksud sebagai orang-orang yang beriman.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, berapa sering kita melakukan penyalahgunaan organ tubuh kita.  Kadang kita sering mendengar pepatah “mulutmu harimaumu”. Maksudnya adalah setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa berubah menjadi sesuatu yang berbahaya bagi kita sendiri. Mungkin karena tidak menjaga lisan kita bisa menciptakan musuh-musuh baru, mengukir dusta, dsb.

Lebih spesifik lagi organ tubuh yang berperan pada saat seseorang berbicara adalah lidah, tanpa lidah mustahil seseorang bisa berbicara, demikian Allah telah menciptakan segala sesuatunya dengan teramat cermat, subhanallah. Makanya ada pepatah ‘lidah tak bertulang’ dan semua kata-kata demikian mudah terucap. Sungguh tipis beda antara beribadah dengan bermaksiat bagi lidah kita.

Allah menciptakan segala sesuatu untuk tujuan yang mulia yang mendukung pada tugas yang diembankan kepada manusia yaitu menjadi khalifah di muka bumi ini, pemelihara dan pengguna bumi berikut isinya. Semuanya harus dilaksanakan sejalan dengan maksud penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepadaNya.
QS: 51.56
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.


Jaminan surga yang disampaikan oleh Rasulullah bagi mereka yang berhasil menjaga mulut (perkataan) dan kemaluan mereka sesungguhnya mengindikasikan betapa sulitnya hal tersebut untuk dilaksanakan.

Saat ini kita lihat di sekililing kita, betapa mudah mulut kita membicarakan gossip atau ghibah. Sebagian dari kita kadang menganggap tidak masalah untuk bergosip dengan alasan sepanjang sesuai dengan faktanya. Rasulullah mengatakan bahwa membicarakan sesuatu perihal seseorang itu disebut ghibah, jika tidak sesuai dengan kebenaran, itulah yang dinamakan fitnah. Kita sudah diingatkan bergibah sama dengan memakan bangkai saudara kita sendiri, itukah yang ingin kita lakukan? Naudzubillah.

Mulut bisa membawa kita ke surga jika kita digunakan untuk berkata-kata yang bermanfaat, lisan yang benar atau haq, bukan untuk perbuatan sia-sia.  Namun, mulut akan mengantarkan kita kepada azab Allah jika digunakan untuk bermaksiat, mengucapkan rayuan demi rayuan kepada manusia yang tidak haq (bukan suami atau istri yang sah). Apalagi jika rayuan tersebut berlanjut pula kepada perzinahan. Mulut juga dapat digunakan untuk menghembuskan permusuhan, keresahan apalagi penyulut peperangan.

Sebagaimana halnya mulut, kemaluan manusia juga bisa membawa seseorang menuju surgaNya atau azabNya. Jika seorang manusia memilih untuk menikah untuk tujuan beribadah, menyempurnakan imannya, mengikuti sunnah Rasulullah dan dia menjaga pergaulannya setelah itu, maka jaminan Surga diberikan kepadanya. Akan tetapi, jika kemaluan manusia justru menjadi komando menuju perbuatan yang keji, maksiat, maka dipastikan manusia tersebut akan dituntut pertanggungjawabannya kelak di hari pembalasan.

Tujuan perkawinan dalam Islam adalah menyempurnakan agama dan memperoleh keturunan yang soleh dan solehah. Bagaimana bisa kita raih tujuan tersebut apabila yang terjadi justru penyelewengan. Sadarkah kita betapa keras larangan Allah mengenai perzinahan. 

Al Israa (QS 17.32):
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Disebutkannya mulut dan kemaluan dalam satu hadits menunjukkan betapa keduanya berperan besar dalam perbuatan yang menuju pada zina atau perbuatan zina itu sendiri. Kedua hal itu terkait erat dengan hawa nafsu. Nafsu untuk menguasai seseorang melalui bicara dan nafsu syahwat seksual berupa perzinahan. Apabila mendekati saja sudah dilarang, apalagi sampai melakukan. Sekali saja sudah merupakan kesalahan besar apalagi sampai dilakukan berulang kali.

Sungguh menyedihkan jika banyak manusia menunjukkan syukurnya atas rahmat dan karunia Tuhan yang berlimpah justru dengan melakukan segala macam hal yang dilarangNya.

Mungkin banyak di antara kita yang berpikir, sepanjang Tuhan masih memberikan rejeki yang berlimpah, kemudahan di segala urusan kita, berarti Tuhan tidak keberatan dengan segala perbuatan maksiat kita dalam hal ini berzinah, baik sekali maupun berkali-kali, baik dengan satu orang maupun dengan belasan atau puluhan orang. Di dalam buku Al Hikam karangan Syekh Ibn ‘Athaillah el Sakandari saya memperoleh mutiara hikmah yang sangat berkesan yang saya kutip sbb:

“Takutlah bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau terus berbuat maksiat kepadaNya, itu bisa jadi lambat laun akan menghancurkanmu.”

Nasihat tersebut sungguh benar adanya karena Allah telah memperingatkan kita dalam Al Quran Surat Al ‘Araaf, sbb:

QS. 7:182
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Ada atau tidaknya tegoran dari Allah atas perbuatan maksiat kita, jangan dijadikan barometer benar tidaknya perilaku kita. Kita sudah dibekali akal dan perasaan untuk menilai, kita sudah dibekali ilmu berupa perintah dan laranganNya dalam Kitabullah.  

Contoh kekonyolan sikap manusia yang menjadikan ada tidaknya tegoran langsung dari Allah menjadi pedoman benar atau tidak perbuatannya saat itu misalnya membawa-bawa Tuhan untuk membenarkan hubungan gelap seseorang. Sepasang manusia yang berselingkuh bisa berkata mungkin memang mereka sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk berjumpa dan jatuh cinta. Jika segala sesuatu tidak mungkin terjadi tanpa ijinNya, tentunya hubungan itu tidak bisa berlanjut. Kenyataan hubungan gelap itu berlanjut maka mestinya Tuhan sudah merestui mereka.

Sungguh naĆÆf manusia yang berpikir seperti itu. Kenyataan bahwa Allah tidak mengintervensi hubungan terlarang semacam itu bukan berarti Allah menyetujui. Mari kita coba untuk memahami hukum Allah. Sekali Allah menetapkan larangan dan perintah, maka hal itu sudah berlaku atas tiap-tiap manusia tanpa kecuali. Allah sudah menyerahkan penerapannya kepada akal yang sudah diberikan kepada setiap insane. Faktanya ada praktek menyimpang, itu semata-mata pelanggaran. Setiap pelanggaran pasti ada sanksi.

Ada satu kisah yang sangat tepat menggambarkan ketetapan Allah atas mahluknya. Di dalam buku yang berjudul Perjumpaan dengan Iblis karangan Muhammad Syahir yang diterbikan oleh Lentera, dikisahkan bagaimana Iblis terus berusaha menggoda Adam dan Hawa ketika di Surga.

QS 2:35
Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.

Pada saat Adam dan Hawa hidup di Surga, Iblis sudah terusir dari Surga akibat kesombongannya dan dia sudah terputus dari rahmat Allah selamanya. Pada percobaan pertama Iblis menggoda Adam melalui seekor ular, dia membisiki Adam bahwa Tuhan tidak berkenan dia memakan buah khuldi karena setelah memakannya Adam bisa hidup abadi. Adam tidak terkecoh, dia bahkan menasihati ular tersebut dengan berkata “wahai ular, itu adalah bisikan Iblis. Bagaimana mungkin aku mendekati hal yang telah dilarang oleh Tuhanku dan berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan perintahNya.”

Singkat cerita, gagal menggoda Adam, Iblis mencoba mendekati Hawa. Masih dengan menggunakan ular, Iblis mengganti trik. Dikatakannya kepada Hawa bahwa Adam dan Hawa diperkenankan untuk memakan buah khuldi sebagai hadiah ketaatan mereka kepada Allah. Awalnya Hawa tidak mempercayai, tapi Iblis kembali memberikan bujukan dan rayuan mautnya.

Pohon Khuldi dijaga oleh dua malaikat penjaga. Rayuan Iblis yang menyarankan Hawa untuk mencoba mendekati pohon itu untuk membuktikan bahwa dia tidak akan dicegah sehingga menjadi dasar pembenar tindakan pelanggaran Hawa telah nyata-nyata membuat Hawa terkecoh.  Pada saat Hawa bersedia mencoba, Malaikat penjaga pohon pun heboh berusaha melarang dan menyelamatkannya, namun turunlah wahyu yang menahan mereka:

“Kalian Aku perintahkan untuk menjaganya dari mahluk-mahluk yang tidak berakal, adapun bagi mereka yang telah Kuberikan kemampuan untuk menalar dan memilih, biarkan saja akal mereka yang telah Kujadikan hujjah bukti bagi dirinya yang menentukan. Kalau dia menuruti akalnya, maka dia berhak mendapatkan pahala-Ku, adapaun jika dia melanggar dan menylahi perintah-Ku maka dia berhak mendapatkan hukuman-Ku.”

Seakan membuktikan perkataan Iblis, Hawa dapat bebas mendekat pohon khuldi. Setelah Hawa puas memakan buah khuldi, dia pun memanggil Adam. Selanjutnya mereka berdua merasa menyesal dan bagaimana akhir kisah Adam dan Hawa selanjutnya sudah kita pahami semua.

Kisah mengenai Adam dan Hawa adalah pelajaran bagi kita. Sekali Allah menetapkan, merupakan kewajiban kita untuk menaatinya. Sungguh tidak ada lagi alasan bagi kita untuk berkelit, mengatakan kita tidak tahu akan segala sesuatu. Kita bisa belajar menuntut ilmu hingga ke luar negeri, mengapa tidak berusaha untuk membuka Al Quran untuk mencari penerangan hidup, sementara Al Quran itu sudah ada tergeletak bertahun-tahun di salah satu sudut rak buku di rumah kita.

QS. 5:10
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."

QS.  2:269
Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

QS. 76:2
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

QS. 76.3
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Jika saat ini di antara kita ada yang sedang terbuai dengan kemaksiatan, segeralah bertobat karena bisa jadi tidak lama lagi Allah akan menurunkan azabnya dan membinasakan kalian di saat kalian terlena.

Menyinggung persoalan zinah, saya ingin menyampaikan perenungan saya mengenai kenapa Allah sangat keras memperingatkan masalah ini.

Di dalam Islam, asal usul seseorang sangat diperhatikan. Asal usul di sini berarti asal usul yang hakiki, bukan yang ternyata di dalam secarik kertas yang berjudul akta kelahiran. Saat ini, dengan perzinahan yang semakin marak di mana-mana, baik yang dilakukan oleh seorang yang masih bujangan maupun yang sudah menikah, semakin banyak lahir anak-anak di luar kawin atau anak haram. Mengingat perzinahan itu kebanyakan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka tentunya anak-anak tersebut juga menjadi tersembunyi asal usulnya atau yang dikenal dengan istilah confucio sanguinis.

Demi menutupi malu kepada manusia lain, seorang perempuan yang tidak bersuami bisa jadi menyerahkan anaknya ke panti asuhan, selanjutnya panti asuhan menyerahkan anak itu untuk diadopsi oleh sepasang suami istri. Kelak anak itu besar dan mulai berumah tangga, dengan identitas yang kerap sudah dipalsukan, dia pun menikah. Bukan tidak mungkin anak itu menikah dengan orang yang memiliki pertalian darah dengannya. Ternyata laki-laki atau perempuan yang dinikahinya itu adalah saudara tirinya. Dalam keadaan normal dan nyata, tentu kita akan mencegahnya karena incest.

Contoh lain lagi, seorang suami meninggalkan pasangan zinahnya yang sudah sampai menghasilkan anak haram. Demi menjaga keutuhan rumah tangganya, seorang suami tidak bersedia mengakui anak haramnya sebagai anaknya. Setelah berpisah bertahun-tahun dan anak-anak sah dan haramnya tumbuh dewasa, mereka berkenalan lalu menikah, kembali scenario di atas terulang. Masih syukur jika pernikahan semacam itu bisa dicegah, tapi jika tidak lagi bisa dicegah dengan beragam alasan, malu kepada orang lain karena sudah  terlanjur hamil, terlanjur tidak bisa dipisahkan, terlanjur lain-lainnya.
Belum lagi jika perzinahan dilakukan oleh seorang wanita yang masih menjadi istri seseorang sampai menghasilkan anak. Tentu saja si suami tidak mengetahui kalau janin yang dikandung istrinya hasil benih orang lain, bisa jadi kelak si suami tetap memperlakukan anak itu sebagai anak kandungnya sendiri. Ketika anak itu dewasa, jika dia anak perempuan, tentunya dia bukan muhrim bagi ‘bapak’nya. Demikian pula ketika dia akan menikah, tidak sah jika suami ibunya yang menikahkan karena memang dia bukan anak dari orang yang disangkanya bapaknya itu.

Kita bisa menilai betapa kompleksnya persoalan perzinahan ini. Pernikahan seperti apa yang bisa diharapkan jika sejak awal pun sudah tidak sah. Untuk kasus perkawinan incest, kalaupun tidak ketahuan oleh manusia lain, akibatnya tetap tidak bisa dihindarkan. Penyakit yang mungkin diderita oleh keturunan yang dihasilkan dari perkawinan incest semacam itu menjadi suatu hal yang sering ditemui.

Sungguh Iblis dan antek-anteknya mampu membungkus segala sesuatu yang buruk menjadi indah, marilah kita semua senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari godaan Iblis dan setan yang terkutuk. Aamiin ya rabbal alamin.
Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang tidak berkenan.

Rasuna, 25 Maret 2011
Nela Dusan

Blog: Amazing Race, Amazing Life
www.gusnelia.blogspot.com


04 March 2011

Robbighfirli…



Setiap kali kita shalat kita selalu membaca

Robbighfirli        :            ampuni aku Tuhan
Warkhamni        :            dan kasihanilah aku
Wajburni            :            dan tutupi kekuranganku
Warfa’ni             :            dan tinggikan derajatku
Warzukni            :            dan berilah aku rejeki
Wahdini             :            dan berilah aku petunjuk
Wa’afini             :            dan berilah aku kesehatan
Wa’fuanni          :            dan maafkan aku     

Kita mengakui betapa rendah, hina dan tidak berdayanya kita di hadapanNya. Namun, kenapa kita masih belum bisa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita minta ampun kepada Tuhan untuk setiap dosa-dosa yang kita perbuat tetapi melupakan kenyataan bahwa dosa tersebut bukan hanya buruk di mata Tuhan, tetapi juga menyakiti hati manusia lain. Sementara kita tidak pernah berpikir harus meminta maaf kepada orang-orang yang tersakiti, padahal seandainya kita paham bahwa ampunan Allah akan diberikan setelah diperolehnya maaf dari orang-orang yang pernah tersakiti oleh kita. Allah mensyaratkan bahwa tidak cukup sekedar tobat kepadaNya namun perbaikan sikap antar manusia.

Kita memohon belas kasihan Tuhan, sementara yang sering kita lakukan adalah saling menindas. Kita menampakkan kelemahan kita kepadaNya sementara kita menunjukkan taring kepada sesama manusia. Bersikap tidak adil kepada seseorang atau keluarga kita. Kezaliman tidak melulu identik dengan status social. Tidak selalu orang yang mampu yang melakukan kezaliman terhadap manusia lain, dapat saja kezaliman dilakukan oleh orang-orang dari golongan tidak mampu. Setiap orang merasa dizalimi, tidak ada yang mau disebut menzalimi. Marilah kita ingat, pada akhirnya perhitungan Allah-lah yang berlaku apakah kita yang menzalimi atau terzalimi.

Kita merengek kepada Allah agar ditutupi kekurangan kita, aib kita, sementara kita tidak pernah berhenti untuk terus membuat aib baru. Betapa beraninya kita, menumpuk aib hari demi hari, dan menyuruh Tuhan untuk menutupinya. Dapatkah kita bayangkan jika Allah tidak berkenan lagi menutup aib tersebut, sanggupkah kita mengangkat wajah kita menatap manusia lain, sanggupkah kita bersikap memerintah seperti raja kepada manusia lain dan masih sanggupkah bibir kita untuk berkata bohong demi menutupi segala perbuatan sia-sia kita?

Kita meminta agar derajat kita ditinggikan sementara kita tidak bersedia mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya. Derajat seperti apakah gerangan yang kita harapkan? Kekuasaan atas manusia lain tanpa batas? Kemashuran di kalangan penduduk bumi? Pahamilah bahwa ketinggian derajat di mata Allah tidak identik dengan kejayaan versi duniawi.  Lebih baik tidak terkenal di kalangan penghuni bumi tetapi terkenal di kalangan penghuni langit.
Kita melantunkan permohonan agar dilimpahi rejeki namun bersikap serabutan seakan dengan segudang uang, setumpuk deposito, berkilogram emas, adalah ukuran kecukupan menurut kita. Sehingga kita lupa kepada siapa kita bermohon rejeki. Dalam berburu rejeki yang kita minta kepadaNya, kita justru melupakanNya.

Kita memohon diberi petunjuk tetapi dengan pongahnya tetap menetapkan cara kita sendiri dalam mengatasi setiap persoalan. Ikhlas merupakan istilah yang tabu. Kita berbangga diri dengan kepandaian yang kita miliki, dengan pendidikan setinggi langit yang kita raih, dengan gelar sarjana, doktor, professor yang kita punya. Siapakah kita jika bukan berkat karuniaNya, sementara ilmu yang diberikan Tuhan kepada manusia hanyalah setetes air di samudera yang maha luas, sungguh tiada berarti. Takkan sanggup ilmu kita yang secuil itu mengatasi persoalan hidup yang demikian banyak kecuali dengan petunjukNya.

Kita memohon agar diberi kesehatan karena kita tidak berdaya mempertahankan kesehatan. Demikian lemahnya manusia, untuk menepis sakit flu saja tidak mampu. Bagaimana bisa banyak di antara kalangan dokter yang mengingkari fakta bahwa kesehatan kita adalah karuniaNya, bukan berkat obat-obatan yang dijualnya. Padahal dapat dikatakan merekalah golongan manusia yang berkesempatan menyaksikan langsung kebesaran Tuhan melalui segala ihwal manusia ciptaanNya. Kita beranggapan kesehatan identik dengan panjang umur, namun banyak diantara kita yang memohon umur panjang agar dapat bebas melanjutkan perbuatan menumpuk dosa, aib dan perbuatan mudharat lainnya di sisa hidup kita ini. Belum ada kilatan niat untuk memperbanyak ibadah, mulai melaksanakan amar makruf, nahi munkar, sementara detik demi detik kematian kian menjelang. Marilah kita berdoa agar diberikan usia yang berkah, bukan yang panjang.

Kita berdoa, “Ya Allah maafkan aku. Maafkan untuk segala kelemahanku, untuk segala kekuranganku”, bahkan kita berani meminta maaf untuk segala kesengajaan kita berbuat dosa. Kita juga meminta maaf untuk ketiadaan waktu untuk menghadapNya lima kali sehari, untuk bersyukur karena dengan rahmatNya kita dengan bebas menghirup oksigen yang disediakannya secara cuma-cuma. Kita meminta maaf karena belum bisa berkomitmen dengan kebenaran. Maaf…maaf…dan hanya maaf yang bisa kita ucap.

Sesungguhnya tidak cukup sekedar kata maaf, permohonan ampun atau tobat kepada Sang Maha Kuasa tanpa disertai niat untuk mengubah diri. Marilah kita bermohon kepada Allah swt agar diberi kekuatan untuk dapat segera hijrah menuju ridhaNya. Amin.

Rasuna, 4 Maret 2011
Nela Dusan