18 February 2014
Ekonomi Dorayaki ala Indonesahh
Setelah capek bermacet-macet seharian, saya dan sahabat saya, Ina, memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia untuk relaxing sebentar sambil makan rujak di food court. Setelah itu, kami memutuskan untuk membeli kue dorayaki.
Biasanya saya selalu membeli kue dorayaki di Supermarket yang terletak di Pacific Place. Meskipun tidak biasa membeli di Supermarket yang terletak di Grand Indonesia itu, namun sebagai penggemar kue dorayaki, saya selalu merasa senang kalo berkesempatan membeli kue bundar yang konon merupakan kesukaan Doraemon itu.
Sesampainya di counter dorayaki, saya pun langsung memesan 6 dorayaki. Pertama saya nggak memperhatikan apa yang aneh karena sepintas semua sama dengan tempat langganan saya. Sebentar saja saya langsung tahu apa yang aneh.
Pertama, wanita yang memasak dorayaki menuangkan adonan dengan takut-takut (takut kebanyakan kah?). Karena nggak tahan saya langsung komentar kenapa adonan yang dituang sedikit sekali, sampai-sampai si mbak yang masak harus mengayun-ayunkan sendok takaran agar tertuang semua padahal sudah kosong. Saya langsung komen, “wah kenapa begitu cara masaknya mbak?” saya merasa terganggu sekali karena sebagai penggemar dorayaki yang fanatik, saya mengharapkan standard masak yang sama dengan yang di Pacific Place. Memang itu supermarket yang berbeda.
Lebih jauh lagi, dengan cueknya saya terus berkomentar, “kenapa kecil dan tipis dorayaki yang kalian buat. Saya biasa beli di PP dengan merek yang sama tapi supermarket yang berbeda, mereka buat besar dan tebal” Si mbak dan temannya agak cemberut tapi mencoba menjawab dengan serempak dan setengah menyeringai puas ke saya, kata mereka “yah di sana kan harganya beda…lebih mahal, disana Rp 8.500…sedangkan kita Rp 8 ribu saja.”
Bukannya merasa happy karena membayar lebih murah seperti yang mereka klaim, saya malah menjawab kenapa mereka tidak samakan saja harganya jadi 8.500 rupiah dan berikan takaran yang sama. Keduanya semakin cemberut.
Yang lucunya lagi, ketika tahu saya memesan 6, mereka langsung menempatkan adonan sebanyak 12 lembar di atas pan yang sama persis dengan yang di PP. Hasilnya pan yang seharusnya hanya memuat 8 lembar kue, dipaksakan memuat 12 lembar kue. Artinya, mereka menghemat adonan bukan? Untuk menghasilkan 12 lembar kue, adonannya harus dikurangi agar ukurannya pas di atas pan.
Bagi saya itu suatu kecurangan, kecurangan #2. Kecurangan #1 adalah harga. Mereka menjual dengan harga 8000 rupiah seakan lebih murah dari supermarket saingan. Padahal, dari adonan dan isi, penghematan mereka jauh melebihi 500 rupiah yang mereka klaim lebih murah.
Tunggu dulu, masih ada lagi kecurangan yang berikutnya. Biasanya di Pacific Place, untuk pembelian dorayaki sebanyak >6, saya selalu mendapat box, kecuali box sedang habis. Tadi saya dapati dorayaki saya yang sizenya menyusut itu dimasukkan ke dalam tas plastik belanjaan biasa sebelum diganti box atas protes saya.
Sekarang saya pengen mengajak teman-teman semua untuk berhitung. Benarkan harga 8.500 yang kita bayar di Pacific Place itu lebih mahal daripada harga dorayaki dengan merek yang sama yg terletak di Grand Indonesia?
Selisih 500 rupiah, tapi pembeli kehilangan kue sebanyak 4 lembar atau 2 pasang dorayaki yang total harganya 16 ribu rupiah sebagai akibat size yang diperkecil. Artinya dengan memasang harga lebih murah 500 rupiah, penjual meraup keuntungan 16 ribu sementara keuntungan yang diiming-imingi kepada pembeli adalah 6 dorayaki x 500 rupiah, yaitu 3.000 rupiah, ‘cerdas’ bukan? Kalau setiap pembeli yang nggak protes dikasih kantong kresek, maka mereka telah mengurangi cost untuk box yang pasti ada harganya. Belum lagi dari sisi isi. Kalau di Pacific Place, saya minta isi cheese, artinya cream cheese dengan keju parut. Tapi di Grand Indonesia, kalau saya minta cheese maka yang hadir hanya keju parut. Alasannya lagi-lagi, kalo cheese dan cream cheese harganya beda. Semua itu atas dasar harga yang lebih murah 500 rupiah.
Pertanyaan saya, kenapa counter dorayaki dengan brand yang sama namun berbeda supermarket yang menjualkannya, bisa berbeda standard harga. Secara spontan saya protes. Saya bilang seharusnya kalian menaikkan harga supaya bisa memberikan service yang sama, bukan malah menurunkan harga tapi banyak hal yang ditilep.
Dorayaki hanyalah dorayaki, nggak penting, saya tahu. Tapi bagi saya, Dorayaki-gate itu merupakan representasi gaya bisnis orang Indonesia kebanyakan, saya tidak bilang seluruhnya. Seharusnya para ahli ekonomi mengulas teori ekonomi dorayaki itu. Apakah benar, dengan membayar harga murah seseorang mendapat keuntungan?
Bagaimana bisa para pembuat kebijakan dalam pengadaan misalnya, menetapkan harga merupakan patokan, bukan specification. Hasilnya, nggak heran kalo pengadaan barang pemerintah juga amburadul. Harga dimurahin supaya menang tender, tapi spek ngawur semua. Kalo itu masalah konstruksi, spek dikurang-kurangi sehingga penawaran terkesan terendah, tapi hasil konstruksi malah tidak terpakai. Membeli barang sebesar 10 ribu rupiah sekalipun akan menjadi pemborosan kalau baru sekali atau belum sempat dipakai sudah rusak. Konon menjadi kontraktor di Perancis luar biasa berat karena wajib memberi jaminan seumur hidup, bukan setahun atau dua tahun seperti di Indonesia. Harga jaminan seumur hidup itu sudah mereka hitung dan masukkan ke dalam penawaran. Kalau seperti itu, apakah bisa memberikan penawaran dengan banting harga?
Saya bukan ekonom, bukan seorang ahli hitung atau pengamat ekonomi. Saya hanyalah seorang penggemar dorayaki yang merasa kesal karena ada pedagang yang nggak paham spek dan menganggap semua beres dengan mengiming-imingi saya harga yang lebih murah 500 perak saja sementara mereka meraup keuntungan jauh lebih banyak daripada yang menjual lebih mahal 500 dari mereka. Sistem dagang apa itu?
Apa bagusnya berdagang dengan cara curang seperti itu. Saya nggak heran kalo model jualan dorayaki itu diterapkan di semua bidang industri, termasuk telekomunikasi kita yang udah sampe titik memuakkan. Kenapa memaksa diri melayani semua pengguna telepon, mulai dari pengangguran sampai presiden. Uang kita semua diterima, tapi service??? sedikit di atas nolll besar. Konon, soal perusahaan telekomunikasi itu juga erat dengan penerapan teori dorayaki tadi. Supaya harga jual bisa murah, gunakan mesin dari negeri seberang yang nggak jelas kualitasnya alias abal-abal. Akibatnya, judul paket internet apalah namanya, tetap saja kita tidak bisa gunakan. Memang pola ekonomi seperti itu pola ekonomi yang baik? Itu sama saja dengan perampokan uang masyarakat. Kalau itu pengadaan pemerintah, itu sama dengan kerugian Negara, seharusnya KPK menelusurinya.
Saya teringat salah satu kisah dimana seorang pedagang gula mengadu kepada Rasulullah. “Hai Rasulullah, pedagang di pasar tempat aku berjualan sekarang berlomba-lomba memberikan harga yang murah, namun mereka telah mengurangi timbangan mereka sebanyak 250 gram untuk setiap kilogramnya. Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku lakukan yang sama ya Rasul. Pembeliku berangsur-angsur pindah ke tempat lain.”
Rasulullah menjawab, “Hai fulan, jangan pernah kau lakukan kecurangan seperti itu. Lebih baik kau tetap bertahan dengan hargamu tetapi berikan kelebihan timbangan untuk setiap kilogram yang kau jual. Insya Allah barang daganganmu akan semakin laris.”
Si fulan mempraktekkan yang disarankan Rasulullah, hasilnya, benar para pembeli yang semula beralih kembali berbelanja kepada si fulan setelah mereka menyadari kurangnya timbangan yang melebih keuntungan harga yang ditawarkan kepada mereka.
Demikianlah kurang lebih ilustrasi yang saya pikir relevan dengan situasi perdagangan kita sekarang. Mohon maaf jika pada bagian percakapan Rasulullah dengan umatnya kurang akurat. Yang hendak saya kedepankan adalah hikmahnya. Berjualan itu profesi yang mulia, sangat mulia. Namun, Allah juga sudah memperingatkan para pedagang agar tidak melakukan kecurangan pada timbangan, termasuk di dalamnya sulap-sulapan harga padahal di sanalah terselip keuntungan tidak halal mereka. Yah itu bagi mereka yang masih percaya adanya surga dan neraka.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung. Semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah SWT untuk terus menetapi jalan kebenaran, tidak perduli seberapa parah kondisi umum yang berlangsung di sekitar kita. Aamiin yra.
Rasuna, 18 Februari 2014
Nela Dusan
10 September 2012
Sebuah Permohonan
Kadang kita lupa dan khilaf,
membalaskan sakit hati dan membenci secara berlebih
Mengapa kita tidak mau membaca dengan cara yang diajarkanNya
Melalui sifat-sifatNya...
Sesungguhnya kezaliman seseorang adalah kezalimannya kepada Sang Maha Haq...
fitrahnya yang tersimpan jauh di dalam qalbu
Apabila tengah datang kepada kita suatu kezaliman
Kembalikanlah kepada Tuhan kita, Sang Penguasa Siang dan Malam...
yang ubun-ubun kita dalam genggamanNya...
Marilah kita bermohon doa hanya kepadaNya...
mohonkanlah perlindungan dan pertolonganNya..
Tiada tempat lain yang layak bagi kita untuk meminta pertolongan
kecuali kepada Sang Maha Pelindung...
Tuhanku...karuniakanlah aku
sedikit sifatmu yang Maha Pemaaf,
agar dapat kuredakan amarahku
Agar dapat kuturunkan kesombonganku
Karuniakanlah aku
Sedikit sifatmu yang Maha Penyayang
Agar dapat kulunakkan hatiku
Untuk membalaskan kezaliman dengan kasih sayang
Agar dapat kujalani kehidupan yang Kau karuniai penuh ridho dan syukur...
Agar dapat kulalui waktu tanpa rasa resah...
menanti waktu terindah...di hari penjemputanku
Kembali kepadaMu ya Rabb...Amin
Pos Pengumben, 26 Februari 2011
Nela Dusan
09 September 2012
The Golden Mean Aspect Ratio
Bola Karet dan PlatformNya
25 March 2011
Di Antara Dua Rahang dan Dua Kaki
04 March 2011
Robbighfirli…
03 March 2011
KALA IBLIS MENERIMA LAPORAN…
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Banyak rumah tangga saat ini yang goyah bahkan hancur berantakan dikarenakan seorang suami atau istri tergoda wanita atau laki-laki lain. Jika ditanya, rata-rata jawaban mereka adalah mereka sudah tidak menemukan kebahagiaan lagi bersama pasangan masing-masing. Sungguh disayangkan jika suatu rumah tangga, apalagi di dalamnya telah lahir anak-anak yang lucu, pintar, yang siap dibina untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah, dengan mudahnya diluluhlantakan hanya oleh nafsu yang sekejap, sepejam mata, namun membawa akibat dan mudharat yang dahsyat.
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.
Al Qur’an telah menyinggung mengenai perihal perselingkuhan, jadi masalah perselingkuhan ini bukan masalah baru yang cuma dihadapi oleh rumah tangga mahluk akhir zaman seperti kita-kita ini. Sungguh tragis, jika kita pernah mendengar praktek kawin kontrak, nikah siri yang mungkin dilakukan pula oleh para ahli ibadah sekelas ustad atau kyai terkenal, yang dilakukan untuk melegitimasi perbuatan zina. Allah swt tidak membicarakan mengenai hukum formal ala manusia yang kerap menggunakan akal pikirannya untuk mengambil keuntungan bagi diri mereka sendiri.
Allah swt menegaskan prinsip kebenaran yang mutlak yang hanya hati nurani kita sendiri yang mampu menjawab dan menilainya, bahkan akal pikiran terkadang tidak lagi mampu karena telah dicemari dan dikendalikan oleh hawa nafsu.
Poligami merupakan lembaga yang sakral bukan untuk disalahgunakan untuk melegitimasi hawa nafsu para lelaki. Pada prakteknya poligami dijadikan alasan pembenar bagi para lelaki untuk memuaskan hawa nafsu mereka terhadap wanita yang jelas-jelas tidak memenuhi kriteria dalam Al Qur’an tersebut, yaitu:
- perempuan yang menjaga kehormatannya;
- perempuan yang beriman;
- niat menikahi sebelum terjadinya perzinahan;
- bukan untuk berzina; dan
- bukan untuk dijadikan gundik.
Sungguh ironis jika seorang suami mengorbankan anak dan istrinya demi menikahi perempuan yang tidak mampu menjaga kehormatan terbukti sudah pernah dizinahinya sebelum adanya pernikahan untuk melegitimasi perzinahan yang sudah terus menerus dilakukan sebelumnya, semuanya hanya untuk alasan sederhana mencari kebahagiaan. Sementara dia berani menzalimi istri dan anak-anaknya yang dapat berakibat pada kehancuran masa depan anak-anak dan kelak memukul dirinya sendiri karena gagal membina anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).
- ilmu yang bermanfaat;
- amal jariyah;
- doa anak yang sholeh.
Sebaiknya kita pikirkan hal itu sebelum mengambil keputusan untuk berselingkuh, bercerai atau berpoligami yang tidak sesuai dengan tata cara menurut Al Qur’an dan hadits. Janganlah kita memperlakukan hidup ini seperti tengah berjudi. Demi mencari kebahagiaan di dunia kita sampai mengorbankan kehidupan akhirat yang kekal. Terlalu besar taruhannya, kehidupan yang kekal di surga atau neraka jahannam, sungguh keputusan itu bukan keputusan yang sederhana.
Rasuna, 29 November 2010
Nela Dusan
