03 March 2011

KALA IBLIS MENERIMA LAPORAN…

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Suatu hari Iblis menerima laporan dari anak buahnya, “hari ini saya berhasil memisahkan si fulan dari istrinya”, “hari ini saya berhasil memperdayai dan menghasut istri si fulan agar menuntut cerai dari suaminya”…dan banyak lagi laporan-laporan sejenis lainnya. Ini bukanlah penggalan berita yang ditayangkan oleh infotainment yang menjadi suguhan tetap televisi yang jelas-jelas berisi ghibah, tetapi laporan yang diterima Iblis itu adalah nyata dan memang demikian mekanisme yang berlaku di antara Iblis dan pasukannya.

Saya tergerak membicarakan mengenai laporan Iblis untuk hal yang satu ini menilik kecenderungan manusia jaman sekarang ini memandang rendah arti pernikahan karena beragam faktor dan alasan. Meskipun sudah menjadi berita sehari-hari yang tidak lagi istimewa, membicarakan masalah yang satu ini bagi saya masih tetap membuat hati ini berdebar, perut saya rasanya melilit, terbayang kesedihan dan kehancuran hati malaikat-malaikat kecil kita, ada hati-hati kecil yang remuk redam cuma gara-gara salah satu atau kedua orang tua mereka berpaling satu sama lain atau berpaling ke orang lain.

Pernahkan teman-teman merenungi kenapa sekarang ini sangat mudah bagi seorang suami atau istri untuk memutuskan menceraiberaikan keluarganya sendiri? Kisah mengenai percakapan antara pasukan Iblis dengan sang Iblis saya sampaikan demi membuat teman-teman memahami betapa skenario Iblis untuk menjerumuskan manusia sungguh taktis dan strategis.

Kenapa saya katakan demikian, karena keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah adalah keluarga yang mampu menghasilkan keturunan yang kuat, anak-anak yang sholeh dan sholehah, tempat kita bergantung doa kelak saat kita menghuni rumah kita di alam barzakh yang akan menerangi kubur kita yang berukuran 1x2 meter dengan amalan dan doa mereka yang diijabah oleh Allah swt, hanya karena mereka tergolong anak-anak yang sholeh dan sholehah. Tentunya akan sia-sia pekerjaan Iblis dan pasukannya yang sudah berusaha keras menggoda manusia, jika pada akhirnya Allah mengampuni dosa hambaNya. Namun memang demikianlah janji Allah swt kepada siapapun manusia yang memohon ampun kepadaNya.

Jelas iblis berkepentingan dengan urusan amar makruf nahi munkar ini. Iblis menginginkan setiap manusia melakukan yang dilarang dan melalaikan yang diwajibkan. Segala hal yang menuju kebaikan merupakan pantangan dalam kamus Iblis. Kita tentu ingat bahwa Iblis juga diijinkan oleh Allah swt untuk menggoda anak cucu adam sampai Hari Perhitungan nanti. Yang pasti Iblis tidak ingin hanya golongannya saja yang akan menghuni neraka jahannam yang kekal, naudzubillah. Meskipun Allah mengijinkan Iblis menggoda manusia, namun Allah Maha Pemberi Rahmat telah berjanji akan memberikan ampunan kepada siapapun yang bertobat dengan taubatan nasuha.

Saya pernah menulis mengenai masalah perkawinan dalam Kisah Tentang Sepasang Rel Kereta. Saya ingin membicarakan lebih lanjut mengenai masalah ini karena sepertinya memang Iblis dan anteknya sangat berambisi untuk merusak setiap rumah tangga, termasuk rumah tangga yang diawali dengan kesucian. Saya ingin membicarakan pernikahan yang sakral dan suci yang kemudian dirusak oleh Iblis berserta pasukannya.

Saya tidak bermaksud menggurui siapa pun, bahkan saya sendiri pun tidak memiliki kemampuan membaca nasib perkawinan saya sendiri. Namun, saya memiliki keyakinan bahwa Allah Maha Pelindung dan maha luas kasih sayangNya, sehingga saya tidak mau membiarkan diri saya menjadi takut, khawatir yang berlebihan apalagi sampai paranoid terhadap segala sesuatu yang bukan di bawah kendali kita. Bagi saya segala sesuatu yang bukan di bawah kendali kita adalah batas kemampuan kita, itulah pagar maya yang kita harus sadari. Diluar itu semua, merupakan pengaturan mutlak dari Allah swt. Salah satu hal yang semestinya berada di bawah kendali kita adalah cara kita bersikap tatkala datang suatu musibah ke dalam hidup kita. Kita memiliki pilihan, apakah kita berjuang mati-matian untuk menyelesaikan persoalan yang ada menurut cara dan kemampuan kita, atau kita memilih untuk berserah diri kepada Sang Maha Kuasa, Maha Pengatur. Petunjuk telah diberikan oleh Allah swt tersebar dalam Al Qur’an, kita hanya perlu membacanya.

Kembali ke masalah perkawinan yang sah dan suci. Kenapa Iblis menjadikan perusakan perkawinan menjadi satu divisi sendiri dimana ada anteknya yang diberi tanggung jawab untuk memastikan rencana mereka berhasil, yaitu menggiring suatu rumah tangga menuju kehancuran.

Rumah tangga adalah platform bagi kita untuk membina keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Bagi setiap muslim, hendaknya mereka menikah karena berarti mereka telah menyempurnakan sebagian ibadahnya, imannya, disamping mengikuti sunah Rasul. Menikah memberikan kita kesempatan untuk menjaga kehormatan.

Banyak rumah tangga saat ini yang goyah bahkan hancur berantakan dikarenakan seorang suami atau istri tergoda wanita atau laki-laki lain. Jika ditanya, rata-rata jawaban mereka adalah mereka sudah tidak menemukan kebahagiaan lagi bersama pasangan masing-masing. Sungguh disayangkan jika suatu rumah tangga, apalagi di dalamnya telah lahir anak-anak yang lucu, pintar, yang siap dibina untuk menjadi anak yang sholeh dan sholehah, dengan mudahnya diluluhlantakan hanya oleh nafsu yang sekejap, sepejam mata, namun membawa akibat dan mudharat yang dahsyat.

Banyak lelaki yang sudah menikah menjadikan Firman Allah mengenai poligami sebagai dasar pembenar perbuatan zalim mereka.

Poligami merupakan suatu opsi, bukan kewajiban, bukan pula dimaksudkan sebagai hak istimewa yang mesti selalu diambil oleh seorang lelaki muslim. Poligami diijinkan dengan syarat-syarat yang demikian tegasnya. Mari kita sama-sama lihat ketentuan yang berbicara mengenai Poligami yang ada dalam Al Quran Surat An Nissaa:

QS: 4.3

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

QS: 4.129

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sementara itu, di sisi lain, banyak perempuan yang amat membenci poligami dan ironisnya perempuan itu justru perempuan yang datang kemudian dalam hidup si laki-laki yang umumnya kita kenal sebagai perempuan simpanan atau wanita idaman lain. Kerap mereka memaksa para lelaki yang takluk di bawah lutut mereka untuk menceraikan istri lelaki tersebut sebelum dia bersedia dinikahi oleh lelaki yang lemah tersebut. Memang sungguh ironis, kebanyakan perempuan simpanan sangat mengetahui bahwa laki-laki yang mendekatinya itu sudah berkeluarga dan umumnya mereka hanya memiliki satu keinginan yang nyata terhadap dirinya, yaitu mengajaknya berzina. Sungguh naïf jika seorang wanita, dewasa yang genap akal pikirannya, sampai tidak memahami niat yang terpancar dari sikap seorang lelaki seperti itu.

Al Quran juga mengatur mengenai kriteria pemilihan istri bagi lelaki muslim. Berdasarkan Surat Al Maa-idah ayat 5, Allah sudah mengarahkan mengenai criteria wanita yang layak untuk dijadikan istri. Di dalam ayat yang sama Al Quran juga menyinggung mengenai wanita simpanan dan menyebutnya secara spesifik dengan istilah gundik. Bunyi ayat itu selengkapnya:

[QS 5: 5]

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.

Al Qur’an telah menyinggung mengenai perihal perselingkuhan, jadi masalah perselingkuhan ini bukan masalah baru yang cuma dihadapi oleh rumah tangga mahluk akhir zaman seperti kita-kita ini. Sungguh tragis, jika kita pernah mendengar praktek kawin kontrak, nikah siri yang mungkin dilakukan pula oleh para ahli ibadah sekelas ustad atau kyai terkenal, yang dilakukan untuk melegitimasi perbuatan zina. Allah swt tidak membicarakan mengenai hukum formal ala manusia yang kerap menggunakan akal pikirannya untuk mengambil keuntungan bagi diri mereka sendiri.

Allah swt menegaskan prinsip kebenaran yang mutlak yang hanya hati nurani kita sendiri yang mampu menjawab dan menilainya, bahkan akal pikiran terkadang tidak lagi mampu karena telah dicemari dan dikendalikan oleh hawa nafsu.

Poligami merupakan lembaga yang sakral bukan untuk disalahgunakan untuk melegitimasi hawa nafsu para lelaki. Pada prakteknya poligami dijadikan alasan pembenar bagi para lelaki untuk memuaskan hawa nafsu mereka terhadap wanita yang jelas-jelas tidak memenuhi kriteria dalam Al Qur’an tersebut, yaitu:

  1. perempuan yang menjaga kehormatannya;
  2. perempuan yang beriman;
  3. niat menikahi sebelum terjadinya perzinahan;
  4. bukan untuk berzina; dan
  5. bukan untuk dijadikan gundik.

Sungguh ironis jika seorang suami mengorbankan anak dan istrinya demi menikahi perempuan yang tidak mampu menjaga kehormatan terbukti sudah pernah dizinahinya sebelum adanya pernikahan untuk melegitimasi perzinahan yang sudah terus menerus dilakukan sebelumnya, semuanya hanya untuk alasan sederhana mencari kebahagiaan. Sementara dia berani menzalimi istri dan anak-anaknya yang dapat berakibat pada kehancuran masa depan anak-anak dan kelak memukul dirinya sendiri karena gagal membina anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Apakah kita memahami kebahagiaan seperti apa yang kita cari di dunia ini, sementara tujuan keberadaan kita di dunia ini hanya satu yaitu menjadi khalifah Allah yang pekerjaannya hanya satu yaitu menyembahNya. Kita di sini bukan mencari kebahagiaan kita masing-masing, bahkan kita kembali kepadaNya kelak pun hanya sendiri, sebagaimana firman Allah swt dalam Surat Al An’am ayat (94):

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).

Satu hal lainnya yang kita harus waspadai dari cara kerja Iblis beserta antek-anteknya adalah, mereka sangat piawai membungkus istilah yang dipakai sehingga mempesona kita, mereka canggih mengemas suatu perbuatan sia-sia dan memberi nama yang memukau manusia. Antara lain, mereka mampu mengemas perzinahan dengan istilah kasih sayang, kebahagiaan; merendahkan perempuan dengan mendandani mereka berpakaian hingga hampir telanjang dengan istilah mode yang ngetrend, sexy, menghargai tubuh yang indah, yang membuat kaum perempuan yang lemah akalnya bisa melayang ke langit ke-7 tanpa sadar dirinya tengah dieksploitasi oleh kaum pria. Bahkan seorang perempuan rela difoto bugil atas nama seni, sungguh itu semua hasil kerja setan, Iblis dan seluruh pasukannya.

Memiliki anak sholeh adalah kepentingan kita sendiri, bukan orang lain. Sungguh aneh jika seorang suami dan bapak, juga seorang istri dan ibu, tidak memahami hal itu. Setelah kita meninggal maka terputus pulalah amal ibadah kita selama di dunia ini kecuali tiga hal:

  1. ilmu yang bermanfaat;
  2. amal jariyah;
  3. doa anak yang sholeh.

Sebaiknya kita pikirkan hal itu sebelum mengambil keputusan untuk berselingkuh, bercerai atau berpoligami yang tidak sesuai dengan tata cara menurut Al Qur’an dan hadits. Janganlah kita memperlakukan hidup ini seperti tengah berjudi. Demi mencari kebahagiaan di dunia kita sampai mengorbankan kehidupan akhirat yang kekal. Terlalu besar taruhannya, kehidupan yang kekal di surga atau neraka jahannam, sungguh keputusan itu bukan keputusan yang sederhana.

Semoga kita semua selalu berada dalam lindunganNya. Amin ya rabbal alamin. Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

Rasuna, 29 November 2010

Nela Dusan

SUJUDLAH, SEBAGAIMANA DIPERINTAHKANNYA IBLIS UNTUK BERSUJUD KEPADA ADAM

Seringkali kita mendapati situasi dimana kita harus bersedia menerima kenyataan yang kita tidak sukai, misalnya, berurusan dengan orang yang pernah menzalimi kita, berhubungan kembali dengan orang yang pernah menghancurkan hidup kita, menerima seseorang kembali ke dalam lingkungan kita padahal orang itu pernah membuat kita sangat marah pada suatu masa.

Sebenarnya apa yang kita tidak terima dari orang itu, orangnya, perilakunya atau situasinya kah yang membuat kita merasa tidak lagi bisa menerimanya? Sikap ketidaksukaan kita pada seseorang biasanya lahir dari suatu peristiwa yang mungkin menyakitkan bagi kita. Misalnya jika dulu kita pernah punya atasan yang ‘kejam’ sehingga membuat kita keluar dari kantor yang lama saking tidak tahan menghadapi orang tersebut, dan kita sempat bertekad tidak mau lagi bertemu dengan orang tersebut sampai kapanpun. Contoh lainnya, jika seorang istri atau suami mendapati pasangan hidupnya menghianati kepercayaan dan kehormatan mereka, tentunya menjadi pengalaman yang traumatis dan sangat sulit untuk dimaafkan apalagi dilupakan. Banyak kasus terjadi dimana perkawinan itu berakhir dengan perpisahan atau perceraian yang tentunya memakan korban, sekurangnya, anak-anak hasil perkawinan tersebut. Contoh lainnya lagi, misalnya kita mempunyai saudara yang barangkali karena keegoisannya membuat hidup kita menjadi tidak nyaman, hingga terjadi percekcokan di antara saudara yang berakhir dengan putusnya silaturahmi antar saudara. Demikian pula halnya antar sahabat, sangat mungkin terjadi perselisihan paham antara beberapa orang yang bersahabat, bisa karena hal yang prinsip, bisa juga karena hal yang sangat sederhana.

Alasan prinsip atau sederhana bisa jadi hal sangat subyektif, akan tetapi sebenarnya dapat kita ukur berdasarkan norma-norma kepatutan dan norma agama, dalam hal ini tentunya berdasarkan Al Quran dan Hadits bagi kaum muslimin. Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan yang sering kita alami tentunya turut berperan membentuk watak dan sifat kita saat ini.

Satu hal yang paling berpengaruh terhadap cara kita bereaksi dan berinteraksi paska kejadian yang menyakitkan tadi adalah kekerasan hati. Dalam haditsnya Rasulullah mengatakan bahwa Allah tidak menyukai orang yang keras hati, karena kekerasan hati menjauhkan orang tersebut dari Allah. Kekerasan hati membuat kita tidak mampu menerima kebenaran dan cenderung menyalahkan atau meremehkan orang. Sungguh buruk efek dari keras hati karena perilaku tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan orang identik dengan sifat sombong.

Tentunya kita semua sudah mengetahui kisah yang disebutkan dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 34 dan Surat Al Kahf ayat 50 mengenai kejadian diperintahkannya Malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam oleh Allah SWT, Malaikat tanpa komentar langsung melaksanakan perintahNya, namun Iblis menolak. Betapa nekatnya Iblis, itu selalu menjadi komentar saya dalam hati setiap kali mengingat atau membaca ayat Al Quran tersebut. Iblis menolak dengan mendalilkan asal muasal bahan ciptaannya, dia diciptakan dari api sedangkan Adam ‘hanya’ dari tanah yang hina. Bagi Iblis cukuplah alasan itu baginya menolak perintah Allah, Sang Maha Pencipta, yang juga menciptakan dirinya juga, sangat ironis bukan. Bagaimana mungkin Iblis berpikir menolak perintah bersujud kepada mahluk yang lebih hina darinya merupakan suatu tindakan yang hak, sementara dia sangat tahu bahwa yang memerintahkannya adalah Allah yang telah menciptakannya juga, Sang Maha Kuasa. Mari kita renungkan kisah sensasional penolakan Iblis atas perintah Allah yang mengakibatkan dirinya tercerabut dari Surga dan tidak akan pernah kembali lagi ke Surga.

Sebelum terjadinya ‘insiden’ penolakan tersebut konon Iblis juga merupakan hamba Allah yang taat. Namun, hanya melewati satu ujian kecil dari Allah ia tak mampu. Jika kita pikirkan lagi, apa sebenarnya yang menyulitkan atau menghalangi Iblis dari sujud yang diperintahkan atasnya tersebut? Kiranya jawabannya adalah kesombongan yang mengakibatkan kekerasan hati. Jika Iblis tidak mengikuti kata hatinya yang sombong, tentunya dia akan bersegera memenuhi perintah Allah tersebut, jika Iblis tidak mempertahankan kekerasan hatinya, tentunya dia akan sangat mendengarkan perintah Allah dan melaksanakannya karena begitulah cara kita membuktikan ketaatan kita kepadaNya. Bagaimana mungkin Iblis berpikir menaati Allah, menjadi hambaNya yang patuh, sementara sikapnya menentang.

Kadang dalam hidup ini, hubungan antar manusia saja bisa diwarnai dengan ajang pembuktian kepatuhan, yang sederhana adalah jika kita ingin menjadi warga negara yang baik, maka mematuhi semua peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara itu menjadi suatu kewajiban kita dan membawa implikasi hukum terhadap setiap pelanggaran yang kita lakukan.

Jadi, kembali kepada kisah Iblis versus Adam tadi, jika saja Iblis menuruti perintah Allah, tentunya kita semua tidak akan pernah terlempar keluar Surga, karena Adam tidak akan sampai diperdaya Iblis untuk mendekati pohon terlarang yang mengakibatkan murkanya Allah. Jika Iblis berpikir sehat, tentunya dia tahu ketaatan kepada Allah sang pemberi perintah derajatnya jauh lebih tinggi daripada rasa terhinanya karena harus bersujud pada manusia yang diciptakan dari tanah. Allah murka kepada Iblis bukan karena sakit hati Adam tidak mendapat penghormatan dari Iblis, tetapi karena Allah tidak memperoleh pembuktian ketaatan hambanya, dalam hal ini Iblis. Ketaatan manusia dan jin kepada Allah Sang Khalik adalah mutlak dan tanpa syarat. Hal itu disampaikan oleh Allah dalam Al Quran Surat Adz Dzaariyaat ayat (56), bahwa tidak dijadikan jin dan manusia selain untuk menyembahNya.

Dalam kehidupan kita sehari-hari kadang kita menemui kisah serupa dengan kisah Iblis dan Adam tadi. Seorang istri atau suami merasa demikian bencinya untuk menerima pasangannya yang dianggap berkhianat, padahal pasangannya itu sudah meminta maaf. Memang tidak mudah bagi kita untuk melalui pengalaman yang menyakitkan seperti itu. Hampir semua dari kita pernah mengalami ujian atau cobaan dalam hidup. Sesungguhnya Allah sudah memperingatkan kita akan adanya ujian tersebut. Jika kita menyadari bahwa setiap ujian atau cobaan yang datang kepada kita adalah atas ijin Allah, maka tentunya kita pun harus bisa menerima setiap hal yang terkait di dalamnya. Setiap ujian atau cobaan dari Allah hanya bisa diselesaikan berdasarkan keikhlasan, ketaklukan semata kepada Allah, lantas kenapa kita tidak bersedia menuntaskannya dengan menetapkan sendiri syarat-syarat yang kita anggap bisa diterima atau menyenangkan diri kita?

Yang saya maksud adalah setiap ujian pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Hikmah itu hanya dapat kita peroleh jika kita berusaha merenunginya, mengoreksi diri. Keberanian untuk jujur kepada diri kita sendiri insya Allah menghasilkan hasil perenungan yang memberikan pencerahan diri. Kadang kita lupa bahwa mungkin sikap-sikap kita selama ini kurang pas, meremehkan orang lain, sombong, menganggap diri paling sempurna, menganggap diri paling utama, merasa yakin paling dicintai, dsb. Semua sikap itu terus kita pertahankan hingga datang waktunya Allah mengubah segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Satu saat kita berada di puncak kemegahan, kekuasaan, kejayaan dan kekayaan, detik lain kita terpuruk di tempat yang terendah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Situasi itulah yang melahirkan ungkapan ‘roda berputar’. Keberhasilan seorang manusia melewati ujian adalah ditandai dengan perubahan dalam sikapnya, jika semula sombong maka ia berubah menjadi rendah hati, jika semula ia seorang yang sangat kasar dan keras hati maka menjadi menjadi lembutlah hatinya, segala hal yang mengarah pada kebaikan dan bermanfaat; dan meninggalkan semua yang mudharat.

Melampaui suatu ujian berarti pula menerima segala konsekuensinya. Salah satu dari konsekuensi itu adalah melanjutkan hidup dan berhubungan kembali dengan orang atau pihak yang sebelumnya mungkin bermusuhan dengan kita. Kerelaan kita untuk menerima suatu konsekuensi adalah harus berdasarkan kesadaran untuk menaati perintah Allah yang menurut pandangan saya bisa kita sebut sebagai ‘underlying obligation’. Jika menyangkut menerima kebenaran, kita harus bisa menundukkan kesombongan karena adanya ‘underlying obligationnya’ adalah kita tidak boleh sombong, terdapat Hadits yang mengatakan bahwa tidak akan pernah seseorang masuk surga jika masih ada kesombongan dalam hatinya.

Jika menyangkut memaafkan orang, barangkali silaturahim merupakan salah satu kelanjutan dari proses memaafkan seseorang. Silaturahim diwajibkan oleh Allah, Rasulullah mengatakan pula keutamaan dari silaturahim dalam beragam hadits sehingga jika terjadi benturan antara harga diri, ego, perasaan sakit hati, terhina, dsb dengan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Allah swt atas kita, maka yang manakah yang harus kita utamakan?

Secara naluriah, setiap manusia akan menarik diri, melindungi dirinya dari sakit hati, wujudnya bisa jadi menolak untuk bertemu dengan orang yang bersangkutan, bahkan memilih untuk memutus tali silaturahim demi memuaskan nafsu amarahnya. Dalam kondisi demikian, manusia cenderung melupakan bahwa menaati perintah Allah adalah prioritas, melebihi haknya untuk melindungi dirinya dari sakit hati. Sebagaimana sakitnya hati seorang istri yang harus merelakan suaminya berpoligami dengan seorang pelacur, misalnya. Bagaimana dia harus bisa menerima kenyataan hidup berdampingan dengan perempuan nista yang barangkali derajatnya jauh dibawahnya.

Sedikit menyinggung lebih jauh mengenai masalah poligami, terlepas dari penyalahgunaan lembaga poligami oleh kaum muslim sendiri yang pada prakteknya saat ini lebih banyak ditujukan untuk melegitimasi nafsu hewani, terbukti dengan betapa banyaknya proses poligami itu sendiri yang dimulai dengan penghianatan dan perzinahan yang sama sekali bertentangan dengan ketentuan Al Quran, baik hal tersebut dilakukan oleh manusia yang buta agama maupun oleh seorang ahli ibadah, menunjukkan penodaan terhadap lembaga poligami yang sakral yang sebenarnya justru sangat melindungi kepentingan perempuan muslim dalam kedudukannya sebagai istri pertama atau istri-istri yang sudah ada sebelumnya.

Sungguh ironis, lembaga poligami justru sering ditentang oleh perempuan yang datang belakangan yang dibuktikan dengan tuntutan menceraikan istri pertama sebelum si laki-laki bisa meminangnya. Banyak kita temui, laki-laki muslim yang tanpa alasan menceraikan istrinya demi menuruti permintaan kekasih gelapnya itu, meskipun ia tahu dia dapat memilih berpoligami dan sang istri itu pun sudah memberikan ijin untuk poligami. Banyak lelaki muslim yang tidak bertanggung jawab atau (pura-pura) tidak mengerti tanggung jawabnya sebagai suami dan bapak dari anak-anaknya dengan repot-repot membina rumah tangga baru dengan perempuan ‘idaman’nya sementara buah hatinya hancur berantakan. Kebahagiaan apa yang hendak dicapai dengan cara demikian, sungguh tragis bukan.

Kadang manusia membodohi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dengan poligami dia melakukan ibadah kepada Allah swt seakan-akan poligami menjadi suatu kewajiban yang melampaui segudang kewajibannya yang sudah ada dan belum tentu telah dia tunaikan dengan baik sebagai seorang suami yang sah terhadap istrinya yang sah berdasarkan pernikahan yang suci. Bahkan kadang para lelaki muslim yang bersikeras melaksanakan poligami justru melakukan hal-hal yang menzalimi istri pertamanya beserta anak-anak mereka. Bagaimana mungkin suatu perbuatan yang diklaim sebagai amal ibadah yang berlandaskan iman dan ketakwaan kepada Allah swt sementara perbuatan itu sendiri justru dipenuhi kezaliman.

Seseorang yang bertakwa dan beriman kepada Allah pastilah lembut hatinya dan tidak ada kemampuan untuk berbuat zalim kepada orang lain apalagi kepada darah dagingnya sendiri. Semua itu bisa terjadi hanya karena kebanyakan manusia melakukan poligami dalam kondisi kesesatan yang nyata. Bagaimana tidak, apakah mungkin seorang yang beriman dan bertakwa berani melakukan perzinahan? Apakah mungkin perzinahan yang dilakukannya luput dari azab Allah sehingga selanjutnya membuatnya terjebak dalam kesesatan? Keputusan seperti apa yang diambil oleh seseorang dalam keadaan kesesatan yang nyata, tentunya keputusan yang sangat jauh dari ridha Allah.

Poligami adalah suatu pintu exit yang semestinya digunakan hanya apabila terjadi kondisi darurat dan kondisi darurat itupun sudah diatur secara jelas dalam Al Quran dan Hadits. Setiap pelanggaran terhadap tata cara poligami itu serta motif atau alasan di belakangnya pasti wajib dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Adil.

Kembali lagi kepada masalah ketaklukan kita kepada Allah, betapapun sakit hati kita, jika kita sudah memutuskan untuk menjalani suatu ujian berdasarkan keikhlasan kepada Allah, maka hendaknya kitapun siap pula untuk ikhlas menerima setiap konsekuensinya. Salah satu bentuk konsekuensi dari ujian keikhlasan dalam hal poligami adalah menerima perempuan ‘murahan’ yang sudah memporakporandakan rumah tangga seorang istri pertama itu ke dalam kehidupan keluarga mereka. Dapat dibayangkan betapa sulitnya seorang istri pertama untuk menerima kenyataan harus berbagi suami dengan perempuan yang telah menghancurkan keluarganya, bisa jadi ia seorang pelacur berdasarkan profesinya maupun karena perbuatannya. Dalam situasi yang sangat sulit tersebut, mari kita bayangkan situasi pada saat mana Iblis yang menolak perintah sujud kepada Adam. Iblis menolak perintah Tuhan karena merasa derajatnya lebih tinggi, padahal yang memerintahkannya adalah Sang Khalik sendiri. Demikian halnya dengan situasi yang dihadapi seorang istri pertama yang relatif merasa derajatnya lebih tinggi dari perempuan simpanan suaminya, jika dia sudah ikhlas dengan poligami, maka semestinya persoalan dengan siapa dia berbagi suami sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Bukan berarti dia merasa takut kepada suaminya atau tidak berdaya menghadapi desakan istri muda suaminya itu, namun ia hanya takut jika Allah menganggap dia tidak ikhlas menerima ketetapanNYa, sebab jika dia tidak bisa mengikhlaskan dia dapat memilih untuk bercerai yang mana meskipun tidak disukai oleh Allah namun diperkenankan.

Jika kita mengedepankan harga diri, sakit hati, martabat kita sehingga kita berani melanggar ketetapan Allah, naudzubillah, jangan sampai kisah durhakanya Iblis kepada Allah menjadi terulang oleh kita sendiri. Sujud dalam konteks ujian setiap manusia adalah menerima ketetapan Allah berikut semua konsekuensinya dengan lapang dada yang didasarkan pada keikhlasan.

Allah memiliki hak prerogatif dalam menetapkan setiap ujian atau cobaan bagi tiap-tiap hambaNya, semuanya tidak lain untuk kebaikan kita sendiri, Allah Maha Kaya, tidak ada kebutuhan apapun dariNya kepada kita. Semua ujian didatangkan kepada kita hanya untuk menaikkan derajat kita sendiri di mataNya. Masing-masing kita memiliki tanggung jawab sendiri yang harus kita pertanggungjawabkan pada saat hari pembalasan kelak. Dalam situasi saat ini banyak kita temui orang-orang yang sedang tersesat dan orang-orang itu besar kemungkinannya bersinggungan dengan kita dalam suatu masa dalam bentuk konflik.

Setiap ujian selalu diberikan berpasangan, seburuk apapun perlakuan yang kita peroleh dari seseorang dan jika kita memaafkannya serta mengikhlaskan sakit hati dan ketidakberdayaan kita itu semata kepada Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik, sungguh tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita. Meskipun pasangan cobaan kita berbuat zalim, namun jika dia menyadari perbuatannya dan memperoleh hidayah serta bertobat kepadaNya, niscaya Allah mengabulkan tobatnya tersebut. Jika yang bersangkutan tidak pernah memperoleh hidayah sekalipun, janji Allah kepada orang yang berbuat zalim dan sesat adalah pasti. Tidak pun di dunia ini kita menyaksikan balasannya terhadap orang-orang tersebut, perhitungan Allah tidak pernah meleset sedikit pun.

Bersikap ikhlas adalah ibaratnya meminum obat untuk mengobati penyakit kita, jika kita yang meminum obat, kita pula yang akan mengalami kesembuhan. Demikian pula halnya dengan ikhlas, jika kita yang memilih ikhlas, maka kita pula yang terhindar dari sakit hati. Keikhlasan kita menerima suatu cobaan dalam bentuk kezaliman seseorang kepada diri kita, tidak sekalipun mengurangi bobot kezaliman orang itu di mata Allah. Jika ikhlas adalah penawar sakit hati dari kezaliman atau ujian, maka tobat adalah satu-satunya obat dari perbuatan zalim. Kezaliman seseorang wajib dipertanggungjawabkan sampai yang bersangkutan bertobat kepada Allah dan Allah menerima tobatnya tersebut. Semoga kita semua masih sempat bertobat sebelum malaikat maut memisahkan nyawa dari raga kita.

Renungan ini sekedar pengingat bagi kita semua, terutama bagi diri saya sendiri. Menyadari betapa lemahnya kita sebagai manusia dan sedemikian gencarnya Iblis beserta pasukannya, baik dari kalangan jin sendiri maupun dari kalangan manusia, ada baiknya kita senantiasa saling mengingatkan, nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah swt selalu melindungi kita semua dari godaan setan yang terkutuk. Amin ya rabbal alamin.


Rasuna, 9 April 2010

Nela Dusan

12 February 2011

Untuk Suamiku Tersayang

Kita memulai semuanya dengan modal seadanya
Namun kita tidak pernah takut melangkah
Yakin karena niat kita satu…menuju ridha Sang Pencipta

Hari demi hari kita lalui
Perjuangan mendapatkan rumah…berhasil
Doa agar dikaruniai buah hati…pun terkabul
Keinginan kita semakin menanjak…
Penghasilan yang dulu tak terbayangkan kini sudah di tangan

Ujian demi ujian…
Cobaan datang silih berganti
Alhamdulillah kita mampu bertahan
Ingatkah engkau suamiku…
janji Allah kepada mereka yang mengaku diri beriman
Pasti akan diselipkanNya suatu ujian bagi mereka
Untuk mengingatkan kita betapa diri kita tidak berdaya…
Meskipun telah ada segudang harta…
bertimbun rejeki yang datang dari segala arah…
Akankah kita masih bersyukur kepadaNya…Yang Maha Pemurah
Akankah kita takut untuk bermaksiat
semata karena tidak ingin mendapat murka dariNya…
Yang Tidak Terlihat
Atau…
Justru kita menjadi pongah melangkahkan kaki kita di atas bumi ciptaanNya
Di saat tangan kita semakin rakus mengais rejeki
Malah bersikap semakin jumawa mengumbar nafsu ke seantero dunia
Melupakan rahmat, nikmat dan kasih sayangNya…
Menginjakkan kaki dengan sombongnya dengan langkah yang bahkan tanahpun
menyerukan kemuakan mereka…sungguh tidak rela kaki kita mengotori mereka

Suamiku tercinta…
Aku sungguh berharap engkau menyadari
Betapa terbatasnya pilihan tempat kita kembali
Kelak hanya akan ada pintu surga dan pintu neraka
Melalui manakah engkau dan aku akan datang…?

Aku menyadari…sungguh
Tiada ujian yang ringan
Allah menguji kita melalui penderitaan dalam kemiskinan
Juga kelimpahan harta dalam kekayaan
Sepantasnya kita bersyukur
Allah memberikan kita ujian dalam kenikmatan
Karenanya…nikmatNya yang mana lagi yang engkau ingkari?

Suamiku tercinta…
Panjangnya waktu perkawinan
Menambah warna warni sejarah hidup kita
Kala usia semakin bertambah, tak patut hanya mengandalkan cinta
Cinta seperti apakah gerangan yang kau harapkan
Penuh nafsu merebak membakar sukma, mengatur raga, menggelapkan mata?
Ataukah mencinta karenaNya?

Di usia kita yang menginjak paruh kedua babak hidup kita
Semoga kecintaanmu pada dunia semakin meredup
Berganti dengan cintamu kepada Sang Maha Haq
Membuncahkan kesadaranmu pada kehidupan setelah pulang kelak
Sungguh tempat kembali kita hanya dua,
Menuju surga atau neraka…

Suamiku tersayang…
Tentunya aku masih mengharapkan curahan cinta dan kasih sayangmu
Bersama mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada anak kita
Bisa jadi cintamu kepadaku mulai memudar bahkan bisa hilang sekalipun
Insya Allah kuterima dengan lapang dada…

Akan kuusahakan untuk menganggap kehilangan cintamu kepadaku tidak lebih sebagai suatu kesedihan…bukan musibah
Masih dapat kusyukuri…
Namun, kehilangan cinta dan kasih sayang dari Sang Maha Pencipta…sungguh tak tertahankan
Itulah musibah yang sebenar-benarnya musibah…
Semoga engkau menyadarinya…

Rasuna, 31 January 2011
Nela Dusan

08 November 2010

Ainun Mardhiah...Dalam Kenangan


Ainun Mardhiah...Dalam Kenangan

Persahabatan kita dimulai di tahun 1993, waktu itu kita bertemu di Law Firm Kartini Muljadi & Rekan. Pasang surut hubungan pertemanan selalu mewarnai persahabatan kita selama 17 tahun. Meskipun kita cuma sempat bekerja dalam satu kantor selama 3 tahun namun pertemanan itu telah berhasil berubah menjadi persahabatan yang tidak pernah usang yang hanya dapat dipisahkan oleh kematian. Tidak mudah memang untuk terus mempertahankan hubungan persahabatan denganmu mengingat sifat dasar kita yang sangat mirip, yaitu keras kepala.

Inun, dibalik sifatmu yang penuh pertentangan dan kontroversi, engkau memiliki kelembutan dan kebaikan hati. Dari seorang teman yang sulit untuk bersepakat, belakangan telah berubah menjadi sahabat yang paling menyenangkan, penuh perhatian, teman curhat yang sabar, tetap mau mendengarkan keluh kesah setiap sahabatmu termasuk aku sementara beban penyakit yang kau derita sungguh tidak ringan.

Pada satu titik terendah hubungan persahabatan kita tiga tahun yang lalu, aku mendapat kabar darimu bahwa kau divonis sakit kanker. Pada saat itu sempat terbayang mengenai pilihan mengenai akhir perjuanganmu melawan kanker, akankah kau mampu memenangkan pertempuran melawan kanker atau akankah kau menyerah seperti orang-orang lainnya yang tidak mampu menang melawan kanker. Barangkali tidak tepat mengatakan ‘tidak mampu menang’ melawan kanker, seakan-akan kanker tersebut sesuatu yang harus diperangi dan jikapun peperangan itu ada, seolah-olah kita yang mengendalikan apakah kita mampu untuk memenangkannya atau tidak sementara seluruh hal yang terjadi pada diri kita dan hidup kita, tidak lepas dari ijinNya.

Inun, masih terngiang ditelingaku pembicaraan kita di malam terakhir sebelum Allah mulai mengambil kesadaranmu satu hari sebelum kepergianmu. Pada saat kubacakan doa permohonan kesembuhan bagimu apabila Tuhan belum menetapkan ajalmu saat ini, dan pernyataan keikhlasan apabila telah sampai janjimu kepadaNya. Selesai mendengarkan doa kamu terdiam sejenak sebelum melanjutkan perkataanmu seraya menggoyangkan telunjuk yang kau arahkan kepadaku, kau menyuruh aku untuk tidak lagi ngotot berdoa untuk kesembuhanmu.

Aku terkejut melihat reaksimu. Kenapa memangnya jika aku mendoakan kesembuhan bagimu. Kau berkata “jangan doakan kesembuhan bagiku, karena kesembuhan bukanlah satu-satunya tujuan doa, aku tidak ingin diberi kesembuhan apabila setelahnya aku kembali lagi menjadi diriku yang dulu”.

Sungguh terkejut aku mendengar perkataanmu. Belakangan setelah kepergianmu sahabatku, aku merenungkan ucapanmu pada malam itu. Agaknya ucapanmu tidak sepenuhnya salah, bahkan sangat benar, menyadarkanku betapa terbatasnya pengetahuanku akan kebutuhanmu. Sungguh Allah Maha Tahu.

Ingin kukutip satu paragraph dalam buku Syekh Abdul Qadir Jaelani yang mengatakan “Wahai orang fakir, janganlah engkau bercita-cita menjadi kaya, boleh jadi kekayaan itu menjadi penyebab kehancuranmu. Dan engkau wahai orang sakit, janglah bercita-cita untuk sehat, boleh jadi hal itu menjadi sebab kebinasaanmu”.

Inun, sahabatku tersayang, bisa jadi kamu belum sempat membaca buku tersebut, namun ucapanmu sejalan dengan apa yang tertulis dalam buku yang berjudul “Menjadi Kekasih Allah” karangan Abdul Qadir Jaelani yang terkenal itu.

Sejenak aku flash back, dalam 17 tahun persahabatanku denganmu, sedikitnya tercatat 5 kali kita mengalami pasang surut. Kita sempat berargumentasi dalam cara pandang kita terhadap akidah dan tauhid. Kita mempunya perbedaan pandangan yang cukup tajam. Pada saat kudengar darimu bahwa kau baru saja divonis kanker, aku tahu bahwa kau akan memulai jalan panjang berbatu yang mungkin akan menghempaskanmu di sana sini. Tiga tahun telah kau jalani dalam kondisi kesakitan luar biasa. Namun kau pun memahami, tiga tahun tersebut adalah masa pencucian jiwamu sebelum Allah memanggilmu persis sebagaimana yang kau pinta ketika berdoa di depan kabah saat kita menunaikan ibadah haji hampir 5 tahun yang lalu. Dari mulutmu kudengar langsung betapa kau pernah melantunkan permintaan kepada Allah swt agar dibersihkan.

Keinginanmu saat itu merupakan keinginan seorang hamba untuk menunjukkan penghambaannya kepada Sang Khalik. Pada hari itu sesungguhnya kau telah menyerahkan dirimu kepadaNya meskipun saat itu kau sendiri pun belum memahami arti penyerahan yang sesungguhnya.

Masa sakitmu selama 3 tahun adalah tahapan baru dalam hidupmu. Di hari kau dinyatakan sakit oleh dokter, sesungguhnya pada hari itulah kau dilahirkan kembali. Ujian yang diberikan oleh Allah kepadamu telah membukakan hijab diantara kau dan Sang Pencipta. Melalui sakitmu, Allah mencurahkan kasih sayangNya kepadamu. Melalui penderitaan panjang, isak tangis kesakitan, perasaan yang menyesakkan hingga kedamaian dalam tahajud di keheningan malam, kau menemukan jalanmu kembali kepada Sang Maha Penyayang.

Aku bersyukur untuk kesempatan yang diberikan Tuhan kepadaku untuk bisa meluangkan waktu yang cukup panjang bersamamu selama sebulan terakhir hidupmu meskipun rasanya waktu sebulan itu tidak pernah cukup mengingat kau meninggalkan kami semua selamanya. Akhir pekan silam merupakan kesedihan luar biasa bagi kami berempat, Ninin, Meiny, Dita dan aku sendiri, para sahabatmu yang selalu kau sebut sebagai ‘gank Troll’ mengingat akhir pekan selama sebulan terakhir telah menjadi kegiatan rutin kami berempat untuk menjengukmu di rumah sakit.

Ainun, sahabatku, sahabat kami tercinta, inginnya kulukiskan betapa indahnya persahabatan yang pernah terjalin di antara kita, penuh warna warni yang menghiasi perjalanan hidup dalam babak kedua usia dua puluh tahun kita. Kata-kata sepertinya tidak pernah cukup bisa menggambarkan rasa kehilanganku, kehilangan kami berempat juga keluargamu atas kepergianmu. Kami hanya bisa berjanji satu sama lain untuk tetap mengikat dan melanjutkan persahabatan ini hingga maut memisahkan. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik bagiku.

Selamat jalan sahabatku, semoga Allah memberikan tempat yang terbaik bagimu di sisiNya dan kelak mempertemukan kita semua di surgaNya. Amin.

Untuk sahabatku tercinta Ainun Mardhiah

2 April 1970 - 2 November 2010.

Rasuna, 8 November 2010

Nela Dusan

27 September 2010

Cermin Kehidupan di Jalan Raya

Pernahkah kita sadari betapa dalamnya filosofi kehidupan yang dapat kita temui di jalan raya. Bagi saya jalan raya seakan berbicara banyak mengenai hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Sambil menyetir atau duduk di kursi penumpang pikiran saya seakan tidak terbendung lagi mengembara sejenak.

Jalan raya adalah sebuah analogi kehidupan yang sangat menarik untuk direnungkan. Barangkali hampir semua orang menganggap jalan raya hanyalah rute rutin yang wajib ditempuh dan sangat membosankan. Sebenarnya banyak hal menarik yang bisa kita petik sebagai suatu pelajaran hidup yang dapat kita tangkap jika kita mengaktifkan mata batin kita.

Salah satu pelajaran yang dapat kita petik adalah situasi lalu lintas di jalan tol. Kadang kita menemui kendaraan yang berjalan lambat namun ngotot bertahan di jalur paling kanan. Kita semua tahu bahwa jalur kanan adalah jalur yang disediakan untuk kendaraan yang lebih cepat agar dapat melampaui kendaraan yang lebih lambat. Semestinya kendaraan yang ingin atau hanya mampu melaju dengan kecepatan lebih rendah dengan sukarela memilih atau berpindah ke lajur kiri atau tengah. Namun, kenyataan yang kita lihat tidak demikian. Kerap kita temui kendaraan dengan kecepatan tanggung justru berada di jalur paling kanan dan tetap bertahan di jalur tersebut meskipun kendaraan di belakangnya sudah memberikan isyarat berupa menyalakan lampu beam sesekali atau bahkan sampai menyalakan klakson tanda meminta jalan. Saya pribadi sering menyaksikan sendiri betapa pengendara kendaraan yang lambat tersebut tetap bertahan tidak mengindahkan isyarat yang kita berikan. Akhirnya demi kelancaran, saya harus mencari jalan dengan berpindah ke jalur yang ada di sebelah kiri, ironis bukan, untuk melampaui suatu kendaraan lambat di jalur kanan, kita harus berpindah ke jalur kiri yang semestinya disediakan untuk kendaraan yang lebih lambat.

Saya sering membayangkan kendaraan seperti itu tidak ubahnya seorang pemimpin yang sebenarnya tidak memiliki kualitas seorang pemimpin namun ngotot ingin duduk di posisi sebagai pemimpin. Jika kita analogikan jalur kanan atau jalur cepat itu sebagai kursi pemimpin, maka kita sering menemui kenyataan dimana seseorang yang tidak cakap bersikeras ingin disebut pemimpin. Jika di jalan raya kadang kita temui kendaraan yang berjalan lambat disebabkan setidaknya dua faktor, yaitu (1) umur kendaraan atau kondisi kendaraan yang sudah uzur atau tidak dalam keadaan laik jalan; (2) secara phisik kendaraan tersebut masih baru namun kualitas pengendaranya sangat tidak cakap, entah tidak punya nyali untuk menekan pedal gas lebih dalam lagi, entah memang tidak memahami aturan main di jalan tol atau jalan raya, atau lebih parah lagi barangkali, memang menjadi ketetapan hatinya untuk bertahan di jalur kanan dan merasakan kepuasaan ketika menyaksikan dari kaca spionnya betapa panjang iringan kendaraan yang mengikuti di belakang mobilnya.

Sederhananya umur atau phisik kendaraan mewakili kesehatan jasmani seorang pemimpin sedangkan kecakapan pengendara menggambarkan mental atau jiwa kepemimpinan seseorang. Di jalan raya sudah terbukti bahwa tidak selalu kendaraan terbaru dan mewah merupakan kendaraan yang paling terampil menggunakan jalan raya. Banyak kendaraan yang memenuhi kedua syarat tersebut berjalan bak model di catwalk, terkadang sangat membuat saya geram. Demikian pula halnya dengan kehidupan politik di Negara kita ini, banyak orang-orang yang ngotot ingin memimpin negeri ini padahal sama sekali tidak punya kemampuan phisik dan mental. Di samping mental pemimpin yang masih plin plan, kita belum menemukan seorang pemimpin yang mampu membawa kita menjadi suatu bangsa yang memiliki visi. Sebagai konsekuensi dari kendaraan yang berjalan lambat, tentunya cepat atau lambat akan disusul oleh kendaraan lain. Demikian halnya mengenai posisi seorang pemimpin, jika tidak mampu membaca aspirasi rakyat, akan terjadi pengambilalihan posisi. Namun berbeda dari situasi jalan raya dimana jika kita ingin menyalib suatu kendaraan yang lambat, kita tinggal mencari peluang di jalur yang lainnya, kehidupan politik tidak sesederhana itu. Ada perangkat alat kekuasaan yang digunakan untuk mengamankan kekuasaan, sekedar menjaga posisi ‘kendaraan’ yang lambat itu agar tidak disalib kendaraan lain yang supirnya lebih cakap.

Orang-orang yang seperti itu menganggap diri mereka terlalu tinggi. Mereka terobsesi menjadi seorang pemimpin tanpa paham bagaimana mestinya seorang pemimpin sejati bersikap. Pemimpin sejati harusnya terampil menggunakan kekuasaannya untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan, bukan golongan apalagi pribadi. Namun sebelumnya, cita-cita itu harus diciptakan dulu dalam bentuk visi nasional yang semua orang Indonesia menerimanya dan berusaha untuk mewujudkannya. Jadi visi itu harus dimulai dari sang pemimpin itu sendiri. Sama halnya dengan seorang supir, dia harus memahami kemampuan kendaraan yang disetirnya, berapa kecepatan maksimum yang dipunyai, berapa bahan bakar yang tersisa, dan apa saja manuver yang bisa dilakukan oleh kendaraan yang dikemudikannya itu serta yang terpenting adalah memahami kapan dia harus menepi ke jalur yang lebih lambat untuk memberikan ruang bagi kendaraan lain yang mampu berlari lebih cepat darinya, semua demi keselamatan semua orang.

Jika kita lihat kehidupan politik dan bernegara di Indonesia saat ini, sangat mengingatkan kita pada kondisi jalan raya yang dipenuhi pengemudi yang sangat tidak cakap yang kebetulan penghasilannya membuatnya mampu untuk membeli kendaraan yang paling gress sekalipun. Secara sinis kadang saya menyebut kondisi seperti itu dengan istilah kemampuan ekonomi yang tidak didukung dengan kecerdasan sosial. Sungguh menggemaskan memang menyaksikan jalan raya dipenuhi oleh orang-orang yang tidak mempunyai skill berkendara yang memadai. Akibatnya jalanan menjadi kurang lancar dengan tumpah ruahnya pengendara mobil bodoh yang pongah. Jangan-jangan mereka sebenarnya bukan pula termasuk golongan yang patut memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli kendaraan itu sekali pun, asal usul uang pembeli kendaraan juga menjadi pertanyaan. Makanya tidak heran, mental tetap primitif meskipun kemampuan ekonomi sangat mapan.

Membandingkan kehidupan berpolitik Negara Indonesia dengan jalan raya, bisa kita lihat persamaan selanjutnya. Kemampuan keuangan seseorang mampu membeli suara konsituennya, entah bagaimana caranya. Bahkan saat ini sudah ada suatu alat bantu politik yang telah membuktikan keampuhannya mendongkrak dan menjamin perolehan suara dalam setiap pilkada dan pemilu yang telah lampau. Jadi bagi para pemimpin karbitan itu yang terpenting adalah memiliki uang untuk menyumpal banyak mulut agar dirinya terpilih. Karena modalnya untuk menjadi seorang pemimpin mengandalkan uang, maka tidak heran orientasinya yang paling utama setelah terpilih adalah bagaimana cara yang paling cepat untuk memperoleh uang. Jika demikian kenyataan yang ada secara umum, lantas apalagi yang tersisa bagi kepentingan rakyat jelata seperti kita ini? Pemimpin yang seperti itu hanyalah pemimpin kualitas sampah yang tidak akan membawa manfaat bagi bangsa dan negaranya, malahan hanya akan mendatangkan mudharat demi mudharat. Seorang pemimpin semestinya mempunyai orientasi dunia dan akhirat karena pada akhirnya dia wajib mempertanggungjawabkan tindak tanduk serta keputusannya di hadapan Yang Maha Kuasa. Agaknya hal ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah sebagai salah satu tanda datangnya kiamat yaitu dimana seorang yang tidak memiliki kecakapan dipilih sebagai seorang pemimpin.

Hal lainnya yang dapat kita petik dari jalan raya adalah kerap kali kita temui iring-iringan kendaraan sampai berpuluh bahkan beratus meter. Kadang kita menyimpulkan bahwa terjadi kemacetan di depan kita. Jika saja kita punya kemampuan melihat seolah sedang menaiki suatu helikopter atau yang biasa disebut helicopter view, tentunya kita bisa mengetahui bahwa iring-iringan kendaraan yang kita sebut kemacetan itu sebenarnya hanya disebabkan oleh satu truk kontainer raksasa yang berjalan sangat lambat yang diikuti oleh kendaraan truk gandeng yang membawa plat baja yang beratnya berton-ton. Bisa kita bayangkan, karena ulah dua kendaraan yang berjalan super lambat tersebut telah mengakibatkan kemacetan sampai ratusan meter di belakang mereka. Jika menemui kondisi jalan seperti itu, maka sebagian dari kita secara naluriah akan mencoba mencari peluang agar dapat menyalib mobil yang ada di depan kita, dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan tentunya. Sering kali setelah melampaui kendaraan demi kendaraan yang menghalangi jalan di depan kita, akhirnya kita berhasil mengatasi iring-iringan tersebut dengan menyalib kendaraan penyebab kelambatan tersebut, misalnya kontainer atau truk gandeng atau sekedar mobil pribadi yang tidak laik jalan atau supirnya tidak cakap tadi.

Setelah melampaui krisis tersebut kita menemukan betapa jalan raya atau jalan tol di depan kita terbentang kosong. Jika demikian, maka kita dapat segera memacu kendaraan dengan kecepatan yang kita inginkan. Dengan cara demikian kita dapat mencapai suatu tempat tujuan dengan cara yang cepat. Kuncinya adalah efisiensi, bukan melulu masalah kecepatan yang digantungkan pada kinerja kendaraan kita. Mobil kita bisa jadi sedan atau SUV mewah keluaran pabrikan papan atas, bermodalkan mesin 2000 bahkan 3000 CC, namun kita tidak punya inisiatif untuk mencari peluang mendahului kendaraan di depan, maka kehebatan kinerja kendaraan itu menjadi terbuang percuma. Memang pada akhirnya dalam situasi demikian, the man behind the gun-lah yang berperan.

Saya bukan bermaksud membahas skill berkendara tetapi saya tergelitik ingin mengajak kita semua merenungkan iring-iringan di jalan raya yang kerap kita temui tersebut. Jika kita analogikan dengan kehidupan, iring-iringan kendaraan seperti itu menggambarkan krisis demi krisis yang kerap kita hadapi dalam hidup. Kadang kita larut dalam krisis tersebut, hasilnya kita tidak kunjung berhasil melampaui ujian hidup yang diberikan Sang Khalik kepada kita. Jika ujian itu diberikan kepada kita agar kita naik kelas, maka ketidakmampuan kita menyelesaikan ujian tersebut akan membuat kita terus menerus dalam kondisi yang sama, bahkan frustrasi. Dalam bayangan saya, krisis di jalan raya harus kita tempuh dan lalui, hasilnya ada jalan yang lancar di ujung sana. Sungguh sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surat Asy-Insyirah (Alam Nasyrah) yang berarti melapangkan, QS 94:5, “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” lantas kenapa kita meragukannya?

Allah sudah memberikan petunjuk yaitu “dalam setiap kesulitan, pasti ada kemudahan”. Allah memberikan ujian kepada kita agar iman kita bertambah kuat kepadaNya. Pada saat kita diuji sesungguhnya pada saat itu puncak hubungan kita dengan sang Pencipta terjadi, Allah membukakan hijabnya kepada kita. Oleh karena itu memang sudah semestinya kita membuka doa kita dengan rasa syukur, dan semakin bersyukur pada saat kita menyadari betapa kita tengah dalam keadaan diuji olehNya. Bagi saya, cukuplah janjiNya bahwa kita akan menemukan kemudahan dibalik kesulitan yang kita hadapi. Untuk menemukan dan sampai pada kemudahan tersebut syaratnya hanya satu yaitu, jalani ujian tersebut agar dapat segera sampai di ujung sehingga kita dapat memperoleh kemudahan yang dijanjikan. Sebagaimana halnya dengan analogi ‘krisis’ di jalan raya tadi, kita tidak akan sampai pada kondisi jalan yang lowong jika kita tidak berupaya mencari peluang mendahului kendaraan yang ada di depan kita satu persatu.

Sikap yang hendaknya dimiliki oleh setiap orang yang sedang mengalami krisis kehidupan, apapun itu, adalah yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan setelah kita melampui kesulitan yang ada. Keyakinan bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada seseorang melainkan orang yang bersangkutan sanggup memikulnya (QS 2:286) semestinya membuat kita sadar bahwa ujian yang diberikan kepada kita sudah dirancang sedemikian rupa sehingga pasti tepat bagi kita dan kita pasti mampu mengatasinya, dengan izinNya tentunya. Kadang kita menyaksikan orang-orang yang di sekitar kita yang dalam keadaan diuji. Sebagian mereka mengambil jalan pintas, memohon bantuan kepada manusia lain, sebagian lagi ngotot dengan pola pikirnya yang dianggapnya tepat untuk mengatasi persoalan atau ujian hidupnya saat itu. Sebagian dari kita ada yang merasa amat bangga dengan kemampuan intelektualnya, pendidikannya yang tinggi dianggapnya secara otomatis memampukannya mengatasi persoalan hidupnya, padahal kita semua tahu, meski banyak hal dapat diterangkan oleh logika, namun diperlukan kecerdasan nurani yang bersumber di kalbu yang bersemayam di hati kita untuk menyelesaikan banyak persoalan hidup. Orang seperti ini ibaratnya pengemudi yang masih belia yang belum cukup akal dan pertimbangannya namun mengendarai mobil sekelas Porsche, Ferrari, Maserati atau mobil-mobil kelas satu lainya. Mereka mampu bergerak sangat cepat namun sayangnya tidak mempunyai arah tujuan yang jelas. Sungguh sia-sia.

Ada juga orang yang langsung menyadari dan memohon ampun kepada Sang Maha Kuasa yang akibat kesalahannya sendirilah maka Allah mendatangkan ujian tersebut. Harus kita ingat bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menganiaya hambaNya, sesungguhnya hambaNya sendirilah yang membiarkan dirinya teraniaya. Sebagian dari kita menyikapi ujian yang dihadapi dengan rasa marah, merasa tidak sepatutnya mengalami ujian yang maha berat tersebut, bahkan berani menantang Tuhan dengan bersikap lebih durhaka terhadap ketetapanNya. Jika caranya saja masih salah, bagaimana mungkin kita mengharapkan diri untuk naik kelas.

Keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan atau ujian hidup baik yang ringan maupun yang berat adalah keterampilan berserah diri kepada Allah, menyadari sepenuhnya kelemahan kita, mengingat kekhilafan kita, memohon ampunan serta menyatakan tobat atas kesalahan dan dosa kita kepadaNya. Allah itu Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang, Maha Pengabul Doa, kenapa kita memilih melalui cara yang berliku dan berbatu tajam dengan resiko terhempas di tempat yang paling hina dalam hidup ini, sementara kita punya pilihan yang sangat mudah untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi, secara gratis pula. Semua cukup dengan membawa diri kita yang dalam keadaan porak poranda, jiwa yang compang camping, menghadap Sang Pencipta dalam shalat, dalam doa, bermunajat kepadaNya, memohonkan petunjuk hanya kepadaNya. Jangan kita lupa betapa manusia mahluk yang lemah, yang kadang tidak berdaya menghadapi hawa nafsu yang bergelora.

Diperlukan kecerdasan hati untuk menangkap petunjuk dari Allah swt selanjutnya kita menggunakan akal pikiran kita menindaklanjuti petunjuk tersebut. Dalam Mutiara Ayat yang termuat dalam Al Qur’an Bayan disebutkan penjelasan perihal sifat penghuni neraka dalam surat Al A’raaf ayat 179 yaitu bahwa manusia diberi akal pikiran oleh Allah untuk merenungkan diri pribadinya dan alam semesta ini. Orang yang diberi Allah petunjuk ialah orang yang dapat mempergunakan akal pikiran itu, sedangkan orang yang sesat ialah orang yang salah mempergunakannya. Selanjutnya disebutkan ciri orang yang sesat ialah orang yang tidak mempergunakan daya pikirnya, perasaannya dan kemauannya serta inderanya sesuai dengan fitrahnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda:

Apa pun yang menimpa seseorang, baik kesusahan maupun kesedihan lalu dia berdoa: Ya Allah, sungguh aku adalah hambaMu anak dari hambaMu (bapak) dan anak dari hambaMu (ibu). Ubun-ubunku berada di tanganMu. KeputusanMu padaku telah berlalu. KetetapanMu padaku pasti adil. Aku memohon padaMu dengan setiap namaMu yang Engkau sebut untuk diriMu atau Engkau turunkan dalam kitabMu atau Engkau ajarkan pada seseorang di antara makhlukMu atau Engkau simpan dalam pengetahuan gaib milikMu agar dengan Al Qur’an, Engkau menjadikan hatiku bersemi, dadaku bercahaya, kesedihanku hilang dan kesusahanku lepas. Maka pasti allah akan menghilangkan kesedihan dan kesusahannya dan akan menggantinya dengan kegembiraan.” Lalu Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah, bolehkan saya mempelajarinya?” beliau menjawab: Tentu, hendaknya seseorang yang mendengarkan doa ini harus mempelajarinya.” (Tafsir Ibnu Kasir: II, h.269) diambil dari Al Qur’an Bayan.

Dengan mengembalikan segala urusan kita kepada Allah swt, kita telah menyelesaikan seluruh persoalan kita. Bukanlah slogan omong kosong seperti yang menjadi slogan pemimpin karbitan “serahkan pada ahlinya” yang tidak pernah menjadi kenyataan. Menyerahkan segala urusan kepada Allah merupakan penyerahan urusan ke tangan Sang Ahlinya, insya Allah kita diberi petunjuk untuk melewati ujian hidup yang dihadapi sehingga kita berhasil mencapai ujung ujian dan menemukan kemudahan yang dijanjikan dibalik setiap kesulitan. Upaya kita yang terpenting adalah bermunajat dan mengikuti petunjuk yang diberikanNya. Jika kita tidak pernah memohon kepadaNya bagaimana mungkin kita memperoleh petunjuk. Jika kita tidak memiliki petunjuk dalam menghadapi kesulitan atau ujian hidup, kita akan menjadi segerombolan hewan ternak yang tersesat. Hasilnya, bukan kemudahan yang ditemukan malahan kesulitan demi kesulitan yang kian menjerat hidup kita. Jika kita berpegang pada tali selain tali Allah, maka kita akan mengalami kekecewaan, namun jika kita bertekad untuk hanya berpegang pada tali Allah, maka Allah akan menjadi pelindung kita, Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (Hasbunallah wa Ni’amal Wakil Ni’amal Maula wa ni’amal Nasir”) QS: 22.78, demikianlah sikap takwa yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menghadapi situasi yang sulit sekali. Setelah kita memahami betapa lemahnya kita sebagai manusia, sebagaimana dicontohkan oleh sikap tawakkal Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu kenapa kita bisa merasa diri terlalu hebat sehingga tidak merasa perlu meminta pertolongan dan perlindungan dariNya.

Marilah kita semua menyingkirkan perasaan jumawa dari hati kita masing-masing, karena sebiji kesombongan sudah cukup menjauhkan kita dari Tuhan kita, menjadi hijab yang menghalangi antara hamba dengan Pemiliknya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melindungi kita semua dan senantiasa mencurahkan hidayahnya kepada kita selamanya. Amin ya rabbal ‘alamin.

Rasuna, 18 September 2010

Nela Dusan

Sifat-sifat penghuni neraka yang disebutkan dalam Surat Al A’raaf:

[7.179]

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

22 August 2010

Sebuah Refleksi

Di setiap hela nafasku terselip

Segala keinginan, harapan, kerinduan

Akan segala yang serba memukau

Hatiku terisi penuh segala angan yang membumbung

Namun yang datang hanya kesakitan, kerisauan dan kebimbangan

Perasaan dan kesadaran hilang datang silih berganti

Tersamar dalam kenyataan semu yang tidak jarang menghampiri

Aku tidak ingin berhenti di sini namun

Kilauan yang menerpa mataku demikian menawan

Tidak kah Kau bolehkan aku sejenak duduk di sini Ya Rabb…

Ku berjanji hanya sekejap

Kau biarkan aku dengan anganku bergaul sejenak

Sebagaimana yang kurengekkan kepadaMu selalu

Bagaikan seorang bocah nakal yang belum cukup akal

Penuh kasih Kau biarkan aku terlena dengan pilihanku

Layaknya seorang bocah yang bodoh kupegang api

Kurasakan sengatan panasnya memanggang

Syukur tidak sampai menghanguskan

Kucicipi anggur yang merah menggoda

Kurasakan sekelilingku berputar…

Tak lagi bisa kurasakan tanganku, kakiku, kepalaku…

Sekejap aku rasakan terhisap

Ke dalam pusaran nafsu yang tiada berdasar

Bukan yang seperti ini yang kuinginkan Ya Tuhan

Sungguh bukan ini…

Kebimbangan dan keraguan kian menyeruak

Tak mampu lagi kubekap kalbu untuk tidak berteriak

Bukan yang seperti ini yang kuinginkan Ya Rabbi

Sungguh bukan ini…

Jangan biarkan aku mengejar mimpi yang hanya ilusi

Jangan ijinkan aku memiliki keinginan yang tidak berdasar

Berulang kali Kau katakan

Boleh jadi aku membenci sesuatu padahal ia baik bagiku

Boleh jadi aku menyukai sesuatu padahal ia teramat buruk bagiku

Maafkan aku Ya Allah…

Untuk kealpaanku mendengarkanMu

Tiada lagi kuijinkan hasrat…mimpi…kehendak dalam diri ini

Kecuali menjadi satu dengan kehendakMu Ya Rabbi

Rasuna, 22 Agustus 2010

Nela Dusan

29 August 2009

Malu KepadaMu



Setahun beberapa hari telah berlalu sejak saya melantunkan doa dan permohonan ampun yang menjadi hadiah hari jadi ke 40, doa kepada Sang Maha Pengasih. Berusaha menjalani sisa hidup yang diberikan Allah kepada saya dengan penuh syukur merupakan niat di dalam hati meskipun terkadang angin yang menghembus di sepanjang sisa perjalanan hidup ini demikian lembut dan menyejukkannya hingga dapat membuat saya terlena, namun kadang juga demikian kerasnya menerpa hingga sanggup membuat oleng atau dapat menumbangkan diri saya.

Lebih 40 tahun perjalanan hidup seorang manusia, tentunya banyak menorehkan catatan dalam buku kehidupan. Sebagian merupakan catatan pribadi saya sendiri, sebagiannya lagi merupakan pengamatan terhadap teman, sahabat, keluarga, saudara bahkan orang-orang yang termasuk kategori ‘musuh’ sekalipun. Saya mempunyai banyak teman, sahabat dan saudara yang selalu ingin saya pelihara hubungan baik dengan mereka, karena mereka turut memberikan ketentraman bagi saya, menambahkan arti dalam hidup saya. Meskipun demikian, tidak ada daya upaya saya untuk mengubah keadaan apabila suatu persahabatan, pertemanan atau bahkan persaudaraan sekalipun telah bertransformasi menjadi suatu permusuhan, kecuali jika memang Allah menghendaki sebaliknya.

Persoalan demi persoalan hidup menyertai kemana kita pergi, selama hayat dikandung badan adalah istilah klise yang kita kenal sejak kita kecil melalui salah satu lagu anak-anak yang menjadi hapalan kita ketika kecil.

Dalam satu titik terendah hidup ini saya mendapati betapa Allah menyayangi diri saya, betapa beruntungnya saya mendapatkan cobaan yang ketika itu seolah merupakan beban yang saya tidak sanggup memikulnya. Padahal Allah selalu mengatakan tidak akan datang suatu cobaan kepada seseorang kecuali ia sanggup memikulnya. Saat itu kalimat semacam itu terdengar sebagai sindiran, pelecehan, meledek jiwa yang sedang compang camping saat itu. Bagaimana mungkin kita sanggup? Kadang kita merasa kemampuan mengatasi persoalan hanya dimiliki oleh seorang alim, ulama, orang suci, yang pasti bukan kita. Kita lupa, alim ulama, orang suci, nabi, rasul juga orang biasa. Semua mengalami ujian atau cobaan hidup. Lantas, apa yang menjadikan mereka berbeda dengan kita ketika mengalami suatu ujian atau cobaan yang diberikan Allah?

Ketika mengalami ujian dalam hidup ini, saya sampai pada satu titik dimana ilmu yang selama ini saya ‘bangga-bangga’kan sungguh tidak mampu memberikan solusi bagi persoalan saya. Melalui perenungan yang panjang, melewati malam yang penuh amarah sampai isak tangis, sedu sedan keputusasaan seorang mahluk yang sungguh tidak berdaya, saya mendapati lagi jalan kembali kepadaNya. Alhamdulillah, kesulitan hidup yang pernah saya alami justru mempertemukan kembali saya dengan Sang Pencipta yang berkenan mencurahkan hidayahnya kepada saya.

Tahapan yang dilalui oleh seorang manusia ketika mengalami ujian dalam hidupnya biasanya sama. Dimulai dengan kenyataan yang tidak menyenangkan, kecewa, marah, murka, mengingkari kenyataan, menyalahkan keadaan, orang lain, bahkan berani menyalahkan Tuhannya. Proses tersebut terus berlanjut dan berlangsung dalam waktu yang sangat beragam, ada yang singkat ada yang lebih lama bahkan ada yang selamanya hingga akhir hayatnya dia tidak berhasil mengatasi ujian yang dihadapi, naudzubillah. Dalam satu titik terdapat persamaan dalam cara menyikapi persoalan yang dihadapi, yaitu sedih, marah atau kecewa. Namun, terdapat perbedaan hasil dari ujian tiap-tiap manusia, ada yang memperoleh kesuksesan tapi banyak pula yang berakhir dengan kehancuran. Sementara Allah telah mengingatkan, setiap orang yang mengaku beriman tidak akan luput dari cobaan, mengapa kita bisa lupa?

Saya menangkap terdapat benang merah dari segala bentuk ujian, apakah menyangkut pekerjaan, keluarga, penyakit, kemiskinan atau kekayaan sekalipun. Benang merah itu adalah perlawanan dalam diri kita. Kita lebih senang berjuang melawan ujian yang datang kepada kita sekuat tenaga kita. Memusuhi takdir yang sedang mendatangi kita berdasarkan pengetahuan yang ada pada kita padahal pengetahuan kita yang secuil itu sungguh tidak akan mampu mengatasinya.

Dalam fase perlawanan tersebut, kita sering melupakan suatu sikap yang justru dikehendaki Allah dari setiap umatnya, yaitu sikap bersyukur. Allah sangat menyenangi orang-orang yang bersyukur, orang-orang yang bisanya tidak cuma melantunkan tuntutan demi tuntutan dalam doanya. Orang yang mengawali keluh kesah, permohonan doanya dengan menyatakan syukur kepada Sang Rabb.

Bersyukur atas segala yang telah kita miliki, bersyukur atas segala keterbatasan yang kita miliki, bersyukur atas segala cobaan yang menghampiri. Sebenarnya kita sudah mengetahui betapa Allah menyukai orang yang bersyukur bahwa Allah akan menambah lagi kenikmatan demi kenikmatan kepada setiap orang yang bersyukur [QS: 14.7]. Allah akan mengurangi beban cobaan kita jika saja kita mau bersyukur.

Kadang cara kita untuk menyelesaikan suatu masalah justru membuat masalah tersebut jadi tambah runyam. Padahal apa yang diinginkan Allah hanyalah, kita mendatangiNya, tafakur, menyatakan syukur, memohon ampun dan meminta petunjukNya. Sesederhana pertanyaan Allah yang berulang kali tercantum dalam surah Ar Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang diulang-ulang tersebut merupakan pertanyaan sekaligus pengingat agar hendaknya kita memiliki rasa malu kepada Sang Maha Pemberi Karunia sebelum kita melanjutkan sikap protes kita. Dengan cara seperti itu agaknya proses yang tadinya berlarut-larut bisa dipersingkat. Jika saja kita mau merendahkan diri dan menundukkan hati kita di hadapan Sang Khalik, tidak perlu kita membiarkan hati kita berdarah-darah, keluarga kita porak poranda dalam waktu yang tidak jelas kapan berakhirnya.

Hal lain yang saya dapati ketika mengalami ujian dalam hidup ini adalah kenyataan betapa lemahnya diri kita. Ketidakberdayaan tersebut dapat mendekatkan diri kita kepada Allah namun dapat pula justru menjauhkan kita dariNya. Maksud saya, kadang dikarenakan rasa tidak berdaya, kita mencari penolong dari sesama golongan manusia, misalnya seorang lawyer untuk menuntut, seorang dokter untuk berobat, seorang kekasih untuk melipur lara, mengalihkan segala persoalan dengan suami atau istri kita, seorang pengedar narkoba untuk melenakan jiwa, seorang polisi untuk menakuti lawan, dan segudang profesi lainnya yang kita anggap mampu menolong kita.

Kadang memang sudah syariatnya kita mengambil jalan demikian, jika kita dituntut seseorang, maka kita memerlukan advokat untuk maju ke pengadilan, jika kita sakit, tentunya kita memeriksakan diri kepada dokter, semacam itu. Namun, kadang dalam mencari solusi, kita menjadi berkelebihan. Dalam menegakkan keadilan kita dapat menzalimi orang lain. Dalam mencari kebenaran justru kita memalsukan fakta yang sebenarnya. Memang fitrahnya seorang yang dilanda kesulitan merasakan kesempitan dan terkadang rasa frustrasi memberikan kita dasar pertimbangan dan dasar pembenaran yang menyesatkan.

Pada saat saya mengalami ujian dalam hidup saya, saya sampai pada tahap kontemplasi, merenung, kenapa Allah mendatangkan cobaan yang demikian berat kepada saya. Apa yang hendak disampaikanNya kepada saya. Pertanyaan itu terus menerus memenuhi hati dan pikiran saya. Akhirnya saya memahami kesalahan-kesalahan yang saya lakukan yang menghantarkan saya pada kesulitan tersebut. Banyak bentuk kesalahan yang kita tidak sadari, mungkin sikap yang terlalu percaya diri merupakan wujud dari sikap takabur yang tidak diridhai Allah, sikap riya, tinggi hati atau sombong, sungguh meracuni jiwa. Jika kita membaca sejarah para nabi sejak Adam hingga Rasulullah, belum pernah ada satupun kesombongan suatu bangsa yang menang melawan Allah, semua berakhir dengan kemusnahan, kehancuran. Lantas, apa yang membuat kita, umat akhir zaman yang telah berani bersikap sombong ini, luput dari murka Sang Pencipta?

Melalui tahap kontemplasi saya menemukan betapa kecilnya diri ini di mata Tuhan Yang Maha Perkasa, betapa tidak ada daya upaya kita yang berhasil tanpa persetujuannya. Allah Al Malikul Mulk, Maha Penguasa Semesta, tidak membutuhkan seonggok upeti yang biasa dimintakan pejabat korup kepada korbannya; ataupun perempuan bayaran yang diumpankan pengusaha bejat kepada pejabat hidung belang demi memuluskan bisnisnya. Allah tidak membutuhkan semua itu bahkan Allah tidak merasakan kerugian sedikit pun sekalipun kita membelakangiNya sama sekali. Justru kita sendiri yang membutuhkan Allah, kita yang merasakan kerugian dari tindakan kita yang mendurhakaiNya [QS: 27.40]. Kedurhakaan kita kepada sang Maha Pencipta hanya membuat diri kita semakin tersesat dalam rimba belantara kehidupan.

Tahap kontemplasi adalah tahap yang kritikal, sungguh penting, yang harus kita lalui menjelang memperoleh petunjuk mengenai solusi yang diharapkan. Satu sikap dasar yang wajib ada dalam diri setiap orang yang melakukan perenungan adalah kepasrahan. Pasrah merupakan wujud dari pernyataan keikhlasan jiwa kita. Ikhlas menerima ujian, ikhlas merasakan sakit, ikhlas menerima ketidakadilan, ikhlas menerima kenyataan. Jika kita mau berpikir dan merenung sejenak, intisari dari segala bentuk ujian yang menghampiri setiap manusia berujung pada satu hal yang sama yaitu keikhlasan.

Semua ujian mendatangkan rasa sakit yang sama, kekecewaan yang sama bagi setiap orang yang merasakannya. Masing-masing orang yang tengah diuji menganggap ujiannyalah yang terberat, padahal jika kita mau sedikit menoleh ke sekitar kita, barangkali ujian kita hanya seujung kuku dari ujian yang diterima orang lain tersebut. Namun, kita demikian bersikukuh, menganggap ujian yang kita hadapi lebih meyedihkan, menyeramkan dan demikian tidak tertahankan dibandingkan dengan segenap ujian penduduk bumi ini. Jika saja kita mau merenung, sebenarnya yang menjadi persoalan mendasar dalam setiap ujian dalam hidup ini tidak lebih dari persoalan yang menyangkut keikhlasan.

Melalui tahap perenungan semestinya kita sanggup memetakan masalah yang tengah kita hadapi dan berusaha mencari akar masalah yang sebenarnya. Menyelesaikan suatu persoalan yang bukan dari akarnya hanyalah memperpanjang persoalan itu sendiri tanpa ada kejelasan solusi. Ibaratnya seorang dokter yang tidak mengerti apa yang salah dari seorang pasiennya, mencobakan segala metode, jenis obat, melalui simptom-simptom yang ditunjukkan oleh si pasien. Menyembuhkan seorang pasien hanya berdasarkan symptom tanpa berusaha mencari penyebab munculnya symptom tersebut adalah sama saja dengan mencoba menyelesaikan suatu persoalan dari akibat. Bisa dipastikan dokter tadi akan gagal mengobati pasiennya sebagaimana gagalnya seseorang jika mencari penyelesaian berdasarkan akibatnya, bukan sebab dari segala akibat.

Seharusnya dalam merenung, kita harus berani jujur terhadap diri kita sendiri karena hanya modal kejujuran tersebutlah kita mampu menemukan inti persoalan yang harus kita selesaikan. Kadang sulit bagi sebagian kita untuk bersikap jujur, karena kita tahu kejujuran itu tidak menyenangkan hati kita, bahkan lebih sering bertentangan dengan keinginan dan harapan kita. Pada saat kita berani untuk jujur mengkoreksi diri, menyerahkan persoalan kepada Allah, memohonkan penyelesaian kepada Yang Maha Adil tersebutlah sesungguhnya kita baru mendapati kondisi hati kita yang dilandasi keikhlasan. IKHLAS merupakan bentuk penghambaan kita yang tertinggi kepada Sang Pencipta. Kata yang terdiri dari enam huruf tersebut menuntut pengorbanan total dalam diri kita yang pada akhirnya membawa kita hijrah kembali kepadaNya.

Seluruh ujian apapun bentuknya mendatangkan rasa sakit, dalam hal ini sakit hati, yang luar biasa kepada yang mengalaminya. Mari saya tanyakan satu pertanyaan sederhana kepada kita semua. Mulai dari semua industry farmasi canggih yang ada saat ini sampai dengan pengobatan alternatif, pengobatan herbal, tradisional, dan sebagainya, pernahkan manusia berhasil menemukan suatu obat yang dapat mengobati sakit hati, dalam pengertian kalbu, yang diderita manusia? Saya yakin jawabannya hanya gelengan kepala alias tidak ada. Manusia tidak mampu menemukan obat tersebut karena hanya Allah yang memilikinya. Tidak ada sakit hati yang bisa sembuh tanpa kita mengikuti resep yang dituliskan oleh Allah bersama dengan setiap ujian yang kita hadapi itu. Pada saat Allah mendatangkan ujian, sesungguhnya dalam ujian tersebut sudah diberikan kunci jawabannya atau obatnya yang bernama IKHLAS.

Ikhlas merupakan pernyataan ketaklukan mutlak kita kepada Allah, kerelaan kita menjadikan Allah satu-satunya penolong dan pelindung, sebagaimana halnya dengan doa Nabi Ibrahim dalam puncak kepasrahannya menghadapi cobaan yang dihadapinya [QS: 4.45]. Melalui segala cobaan yang diberikanNya Allah hendak berkata kepada kita agar kita melepaskan pegangan kepada tali-tali selain tali Allah dan dengan segenap keyakinan kita berpegang hanya kepada taliNya. Tali Allah tidak akan pernah mengecewakan kita karena pada saat kita memutuskan untuk berpegang pada tali Allah [QS: 22.78], saat itu pulalah kita berhasil mencapai tahap keikhlasan. Ikhlas menjalani ujian atau cobaan, ikhlas merasakan rasa sakit, dan ikhlas menerima ketetapan Allah atas persoalan, cobaan atau ujian hidup kita tersebut. Pada akhirnya kita berhasil keluar dari persoalan yang membelit tersebut dan jiwa kita terbebas dari rasa sakit.

Tiga elemen penting dalam hidup yang senantiasa harus kita pelihara adalah mempertahankan hidayah, membangun sikap bersyukur dan ikhlas. Dalam pandangan saya, Hidayah ibarat pelampung bagi seseorang yang terapung-apung di samudera, parasut bagi seorang penerjun payung. Syukur sebagai penetralisir kekecewaan kita, pengingat betapa masih banyak kenikmatan lainnya yang kita miliki disamping kesulitan yang sedang menghadang. Dan akhirnya, Ikhlas, jihad yang kita lakukan demi memperolah ridha Allah dan menerima ketetapanNya.

Jika kita sampai pada tahap keikhlasan, tanpa sadar kita telah menemukan jati diri kita yang baru. Menjadi orang yang berhasil bertransformasi, dari seorang penuntut menjadi seorang yang bersyukur, seorang yang sempit hatinya menjadi orang yang sangat lapang hatinya. Jika saat itu terjadi berarti kita baru saja berhasil hijrah kembali ke jalanNya.

Semoga sharing saya ini dapat memberikan manfaat buat kita semua dan jika ada kata-kata yang tidak berkenan mohon kiranya dimaafkan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amin.

Rasuna, 29 Agustus 2009
Nela Dusan