27 September 2010

Cermin Kehidupan di Jalan Raya

Pernahkah kita sadari betapa dalamnya filosofi kehidupan yang dapat kita temui di jalan raya. Bagi saya jalan raya seakan berbicara banyak mengenai hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Sambil menyetir atau duduk di kursi penumpang pikiran saya seakan tidak terbendung lagi mengembara sejenak.

Jalan raya adalah sebuah analogi kehidupan yang sangat menarik untuk direnungkan. Barangkali hampir semua orang menganggap jalan raya hanyalah rute rutin yang wajib ditempuh dan sangat membosankan. Sebenarnya banyak hal menarik yang bisa kita petik sebagai suatu pelajaran hidup yang dapat kita tangkap jika kita mengaktifkan mata batin kita.

Salah satu pelajaran yang dapat kita petik adalah situasi lalu lintas di jalan tol. Kadang kita menemui kendaraan yang berjalan lambat namun ngotot bertahan di jalur paling kanan. Kita semua tahu bahwa jalur kanan adalah jalur yang disediakan untuk kendaraan yang lebih cepat agar dapat melampaui kendaraan yang lebih lambat. Semestinya kendaraan yang ingin atau hanya mampu melaju dengan kecepatan lebih rendah dengan sukarela memilih atau berpindah ke lajur kiri atau tengah. Namun, kenyataan yang kita lihat tidak demikian. Kerap kita temui kendaraan dengan kecepatan tanggung justru berada di jalur paling kanan dan tetap bertahan di jalur tersebut meskipun kendaraan di belakangnya sudah memberikan isyarat berupa menyalakan lampu beam sesekali atau bahkan sampai menyalakan klakson tanda meminta jalan. Saya pribadi sering menyaksikan sendiri betapa pengendara kendaraan yang lambat tersebut tetap bertahan tidak mengindahkan isyarat yang kita berikan. Akhirnya demi kelancaran, saya harus mencari jalan dengan berpindah ke jalur yang ada di sebelah kiri, ironis bukan, untuk melampaui suatu kendaraan lambat di jalur kanan, kita harus berpindah ke jalur kiri yang semestinya disediakan untuk kendaraan yang lebih lambat.

Saya sering membayangkan kendaraan seperti itu tidak ubahnya seorang pemimpin yang sebenarnya tidak memiliki kualitas seorang pemimpin namun ngotot ingin duduk di posisi sebagai pemimpin. Jika kita analogikan jalur kanan atau jalur cepat itu sebagai kursi pemimpin, maka kita sering menemui kenyataan dimana seseorang yang tidak cakap bersikeras ingin disebut pemimpin. Jika di jalan raya kadang kita temui kendaraan yang berjalan lambat disebabkan setidaknya dua faktor, yaitu (1) umur kendaraan atau kondisi kendaraan yang sudah uzur atau tidak dalam keadaan laik jalan; (2) secara phisik kendaraan tersebut masih baru namun kualitas pengendaranya sangat tidak cakap, entah tidak punya nyali untuk menekan pedal gas lebih dalam lagi, entah memang tidak memahami aturan main di jalan tol atau jalan raya, atau lebih parah lagi barangkali, memang menjadi ketetapan hatinya untuk bertahan di jalur kanan dan merasakan kepuasaan ketika menyaksikan dari kaca spionnya betapa panjang iringan kendaraan yang mengikuti di belakang mobilnya.

Sederhananya umur atau phisik kendaraan mewakili kesehatan jasmani seorang pemimpin sedangkan kecakapan pengendara menggambarkan mental atau jiwa kepemimpinan seseorang. Di jalan raya sudah terbukti bahwa tidak selalu kendaraan terbaru dan mewah merupakan kendaraan yang paling terampil menggunakan jalan raya. Banyak kendaraan yang memenuhi kedua syarat tersebut berjalan bak model di catwalk, terkadang sangat membuat saya geram. Demikian pula halnya dengan kehidupan politik di Negara kita ini, banyak orang-orang yang ngotot ingin memimpin negeri ini padahal sama sekali tidak punya kemampuan phisik dan mental. Di samping mental pemimpin yang masih plin plan, kita belum menemukan seorang pemimpin yang mampu membawa kita menjadi suatu bangsa yang memiliki visi. Sebagai konsekuensi dari kendaraan yang berjalan lambat, tentunya cepat atau lambat akan disusul oleh kendaraan lain. Demikian halnya mengenai posisi seorang pemimpin, jika tidak mampu membaca aspirasi rakyat, akan terjadi pengambilalihan posisi. Namun berbeda dari situasi jalan raya dimana jika kita ingin menyalib suatu kendaraan yang lambat, kita tinggal mencari peluang di jalur yang lainnya, kehidupan politik tidak sesederhana itu. Ada perangkat alat kekuasaan yang digunakan untuk mengamankan kekuasaan, sekedar menjaga posisi ‘kendaraan’ yang lambat itu agar tidak disalib kendaraan lain yang supirnya lebih cakap.

Orang-orang yang seperti itu menganggap diri mereka terlalu tinggi. Mereka terobsesi menjadi seorang pemimpin tanpa paham bagaimana mestinya seorang pemimpin sejati bersikap. Pemimpin sejati harusnya terampil menggunakan kekuasaannya untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan, bukan golongan apalagi pribadi. Namun sebelumnya, cita-cita itu harus diciptakan dulu dalam bentuk visi nasional yang semua orang Indonesia menerimanya dan berusaha untuk mewujudkannya. Jadi visi itu harus dimulai dari sang pemimpin itu sendiri. Sama halnya dengan seorang supir, dia harus memahami kemampuan kendaraan yang disetirnya, berapa kecepatan maksimum yang dipunyai, berapa bahan bakar yang tersisa, dan apa saja manuver yang bisa dilakukan oleh kendaraan yang dikemudikannya itu serta yang terpenting adalah memahami kapan dia harus menepi ke jalur yang lebih lambat untuk memberikan ruang bagi kendaraan lain yang mampu berlari lebih cepat darinya, semua demi keselamatan semua orang.

Jika kita lihat kehidupan politik dan bernegara di Indonesia saat ini, sangat mengingatkan kita pada kondisi jalan raya yang dipenuhi pengemudi yang sangat tidak cakap yang kebetulan penghasilannya membuatnya mampu untuk membeli kendaraan yang paling gress sekalipun. Secara sinis kadang saya menyebut kondisi seperti itu dengan istilah kemampuan ekonomi yang tidak didukung dengan kecerdasan sosial. Sungguh menggemaskan memang menyaksikan jalan raya dipenuhi oleh orang-orang yang tidak mempunyai skill berkendara yang memadai. Akibatnya jalanan menjadi kurang lancar dengan tumpah ruahnya pengendara mobil bodoh yang pongah. Jangan-jangan mereka sebenarnya bukan pula termasuk golongan yang patut memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli kendaraan itu sekali pun, asal usul uang pembeli kendaraan juga menjadi pertanyaan. Makanya tidak heran, mental tetap primitif meskipun kemampuan ekonomi sangat mapan.

Membandingkan kehidupan berpolitik Negara Indonesia dengan jalan raya, bisa kita lihat persamaan selanjutnya. Kemampuan keuangan seseorang mampu membeli suara konsituennya, entah bagaimana caranya. Bahkan saat ini sudah ada suatu alat bantu politik yang telah membuktikan keampuhannya mendongkrak dan menjamin perolehan suara dalam setiap pilkada dan pemilu yang telah lampau. Jadi bagi para pemimpin karbitan itu yang terpenting adalah memiliki uang untuk menyumpal banyak mulut agar dirinya terpilih. Karena modalnya untuk menjadi seorang pemimpin mengandalkan uang, maka tidak heran orientasinya yang paling utama setelah terpilih adalah bagaimana cara yang paling cepat untuk memperoleh uang. Jika demikian kenyataan yang ada secara umum, lantas apalagi yang tersisa bagi kepentingan rakyat jelata seperti kita ini? Pemimpin yang seperti itu hanyalah pemimpin kualitas sampah yang tidak akan membawa manfaat bagi bangsa dan negaranya, malahan hanya akan mendatangkan mudharat demi mudharat. Seorang pemimpin semestinya mempunyai orientasi dunia dan akhirat karena pada akhirnya dia wajib mempertanggungjawabkan tindak tanduk serta keputusannya di hadapan Yang Maha Kuasa. Agaknya hal ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah sebagai salah satu tanda datangnya kiamat yaitu dimana seorang yang tidak memiliki kecakapan dipilih sebagai seorang pemimpin.

Hal lainnya yang dapat kita petik dari jalan raya adalah kerap kali kita temui iring-iringan kendaraan sampai berpuluh bahkan beratus meter. Kadang kita menyimpulkan bahwa terjadi kemacetan di depan kita. Jika saja kita punya kemampuan melihat seolah sedang menaiki suatu helikopter atau yang biasa disebut helicopter view, tentunya kita bisa mengetahui bahwa iring-iringan kendaraan yang kita sebut kemacetan itu sebenarnya hanya disebabkan oleh satu truk kontainer raksasa yang berjalan sangat lambat yang diikuti oleh kendaraan truk gandeng yang membawa plat baja yang beratnya berton-ton. Bisa kita bayangkan, karena ulah dua kendaraan yang berjalan super lambat tersebut telah mengakibatkan kemacetan sampai ratusan meter di belakang mereka. Jika menemui kondisi jalan seperti itu, maka sebagian dari kita secara naluriah akan mencoba mencari peluang agar dapat menyalib mobil yang ada di depan kita, dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan tentunya. Sering kali setelah melampaui kendaraan demi kendaraan yang menghalangi jalan di depan kita, akhirnya kita berhasil mengatasi iring-iringan tersebut dengan menyalib kendaraan penyebab kelambatan tersebut, misalnya kontainer atau truk gandeng atau sekedar mobil pribadi yang tidak laik jalan atau supirnya tidak cakap tadi.

Setelah melampaui krisis tersebut kita menemukan betapa jalan raya atau jalan tol di depan kita terbentang kosong. Jika demikian, maka kita dapat segera memacu kendaraan dengan kecepatan yang kita inginkan. Dengan cara demikian kita dapat mencapai suatu tempat tujuan dengan cara yang cepat. Kuncinya adalah efisiensi, bukan melulu masalah kecepatan yang digantungkan pada kinerja kendaraan kita. Mobil kita bisa jadi sedan atau SUV mewah keluaran pabrikan papan atas, bermodalkan mesin 2000 bahkan 3000 CC, namun kita tidak punya inisiatif untuk mencari peluang mendahului kendaraan di depan, maka kehebatan kinerja kendaraan itu menjadi terbuang percuma. Memang pada akhirnya dalam situasi demikian, the man behind the gun-lah yang berperan.

Saya bukan bermaksud membahas skill berkendara tetapi saya tergelitik ingin mengajak kita semua merenungkan iring-iringan di jalan raya yang kerap kita temui tersebut. Jika kita analogikan dengan kehidupan, iring-iringan kendaraan seperti itu menggambarkan krisis demi krisis yang kerap kita hadapi dalam hidup. Kadang kita larut dalam krisis tersebut, hasilnya kita tidak kunjung berhasil melampaui ujian hidup yang diberikan Sang Khalik kepada kita. Jika ujian itu diberikan kepada kita agar kita naik kelas, maka ketidakmampuan kita menyelesaikan ujian tersebut akan membuat kita terus menerus dalam kondisi yang sama, bahkan frustrasi. Dalam bayangan saya, krisis di jalan raya harus kita tempuh dan lalui, hasilnya ada jalan yang lancar di ujung sana. Sungguh sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surat Asy-Insyirah (Alam Nasyrah) yang berarti melapangkan, QS 94:5, “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” lantas kenapa kita meragukannya?

Allah sudah memberikan petunjuk yaitu “dalam setiap kesulitan, pasti ada kemudahan”. Allah memberikan ujian kepada kita agar iman kita bertambah kuat kepadaNya. Pada saat kita diuji sesungguhnya pada saat itu puncak hubungan kita dengan sang Pencipta terjadi, Allah membukakan hijabnya kepada kita. Oleh karena itu memang sudah semestinya kita membuka doa kita dengan rasa syukur, dan semakin bersyukur pada saat kita menyadari betapa kita tengah dalam keadaan diuji olehNya. Bagi saya, cukuplah janjiNya bahwa kita akan menemukan kemudahan dibalik kesulitan yang kita hadapi. Untuk menemukan dan sampai pada kemudahan tersebut syaratnya hanya satu yaitu, jalani ujian tersebut agar dapat segera sampai di ujung sehingga kita dapat memperoleh kemudahan yang dijanjikan. Sebagaimana halnya dengan analogi ‘krisis’ di jalan raya tadi, kita tidak akan sampai pada kondisi jalan yang lowong jika kita tidak berupaya mencari peluang mendahului kendaraan yang ada di depan kita satu persatu.

Sikap yang hendaknya dimiliki oleh setiap orang yang sedang mengalami krisis kehidupan, apapun itu, adalah yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan setelah kita melampui kesulitan yang ada. Keyakinan bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada seseorang melainkan orang yang bersangkutan sanggup memikulnya (QS 2:286) semestinya membuat kita sadar bahwa ujian yang diberikan kepada kita sudah dirancang sedemikian rupa sehingga pasti tepat bagi kita dan kita pasti mampu mengatasinya, dengan izinNya tentunya. Kadang kita menyaksikan orang-orang yang di sekitar kita yang dalam keadaan diuji. Sebagian mereka mengambil jalan pintas, memohon bantuan kepada manusia lain, sebagian lagi ngotot dengan pola pikirnya yang dianggapnya tepat untuk mengatasi persoalan atau ujian hidupnya saat itu. Sebagian dari kita ada yang merasa amat bangga dengan kemampuan intelektualnya, pendidikannya yang tinggi dianggapnya secara otomatis memampukannya mengatasi persoalan hidupnya, padahal kita semua tahu, meski banyak hal dapat diterangkan oleh logika, namun diperlukan kecerdasan nurani yang bersumber di kalbu yang bersemayam di hati kita untuk menyelesaikan banyak persoalan hidup. Orang seperti ini ibaratnya pengemudi yang masih belia yang belum cukup akal dan pertimbangannya namun mengendarai mobil sekelas Porsche, Ferrari, Maserati atau mobil-mobil kelas satu lainya. Mereka mampu bergerak sangat cepat namun sayangnya tidak mempunyai arah tujuan yang jelas. Sungguh sia-sia.

Ada juga orang yang langsung menyadari dan memohon ampun kepada Sang Maha Kuasa yang akibat kesalahannya sendirilah maka Allah mendatangkan ujian tersebut. Harus kita ingat bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menganiaya hambaNya, sesungguhnya hambaNya sendirilah yang membiarkan dirinya teraniaya. Sebagian dari kita menyikapi ujian yang dihadapi dengan rasa marah, merasa tidak sepatutnya mengalami ujian yang maha berat tersebut, bahkan berani menantang Tuhan dengan bersikap lebih durhaka terhadap ketetapanNya. Jika caranya saja masih salah, bagaimana mungkin kita mengharapkan diri untuk naik kelas.

Keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan atau ujian hidup baik yang ringan maupun yang berat adalah keterampilan berserah diri kepada Allah, menyadari sepenuhnya kelemahan kita, mengingat kekhilafan kita, memohon ampunan serta menyatakan tobat atas kesalahan dan dosa kita kepadaNya. Allah itu Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang, Maha Pengabul Doa, kenapa kita memilih melalui cara yang berliku dan berbatu tajam dengan resiko terhempas di tempat yang paling hina dalam hidup ini, sementara kita punya pilihan yang sangat mudah untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi, secara gratis pula. Semua cukup dengan membawa diri kita yang dalam keadaan porak poranda, jiwa yang compang camping, menghadap Sang Pencipta dalam shalat, dalam doa, bermunajat kepadaNya, memohonkan petunjuk hanya kepadaNya. Jangan kita lupa betapa manusia mahluk yang lemah, yang kadang tidak berdaya menghadapi hawa nafsu yang bergelora.

Diperlukan kecerdasan hati untuk menangkap petunjuk dari Allah swt selanjutnya kita menggunakan akal pikiran kita menindaklanjuti petunjuk tersebut. Dalam Mutiara Ayat yang termuat dalam Al Qur’an Bayan disebutkan penjelasan perihal sifat penghuni neraka dalam surat Al A’raaf ayat 179 yaitu bahwa manusia diberi akal pikiran oleh Allah untuk merenungkan diri pribadinya dan alam semesta ini. Orang yang diberi Allah petunjuk ialah orang yang dapat mempergunakan akal pikiran itu, sedangkan orang yang sesat ialah orang yang salah mempergunakannya. Selanjutnya disebutkan ciri orang yang sesat ialah orang yang tidak mempergunakan daya pikirnya, perasaannya dan kemauannya serta inderanya sesuai dengan fitrahnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda:

Apa pun yang menimpa seseorang, baik kesusahan maupun kesedihan lalu dia berdoa: Ya Allah, sungguh aku adalah hambaMu anak dari hambaMu (bapak) dan anak dari hambaMu (ibu). Ubun-ubunku berada di tanganMu. KeputusanMu padaku telah berlalu. KetetapanMu padaku pasti adil. Aku memohon padaMu dengan setiap namaMu yang Engkau sebut untuk diriMu atau Engkau turunkan dalam kitabMu atau Engkau ajarkan pada seseorang di antara makhlukMu atau Engkau simpan dalam pengetahuan gaib milikMu agar dengan Al Qur’an, Engkau menjadikan hatiku bersemi, dadaku bercahaya, kesedihanku hilang dan kesusahanku lepas. Maka pasti allah akan menghilangkan kesedihan dan kesusahannya dan akan menggantinya dengan kegembiraan.” Lalu Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah, bolehkan saya mempelajarinya?” beliau menjawab: Tentu, hendaknya seseorang yang mendengarkan doa ini harus mempelajarinya.” (Tafsir Ibnu Kasir: II, h.269) diambil dari Al Qur’an Bayan.

Dengan mengembalikan segala urusan kita kepada Allah swt, kita telah menyelesaikan seluruh persoalan kita. Bukanlah slogan omong kosong seperti yang menjadi slogan pemimpin karbitan “serahkan pada ahlinya” yang tidak pernah menjadi kenyataan. Menyerahkan segala urusan kepada Allah merupakan penyerahan urusan ke tangan Sang Ahlinya, insya Allah kita diberi petunjuk untuk melewati ujian hidup yang dihadapi sehingga kita berhasil mencapai ujung ujian dan menemukan kemudahan yang dijanjikan dibalik setiap kesulitan. Upaya kita yang terpenting adalah bermunajat dan mengikuti petunjuk yang diberikanNya. Jika kita tidak pernah memohon kepadaNya bagaimana mungkin kita memperoleh petunjuk. Jika kita tidak memiliki petunjuk dalam menghadapi kesulitan atau ujian hidup, kita akan menjadi segerombolan hewan ternak yang tersesat. Hasilnya, bukan kemudahan yang ditemukan malahan kesulitan demi kesulitan yang kian menjerat hidup kita. Jika kita berpegang pada tali selain tali Allah, maka kita akan mengalami kekecewaan, namun jika kita bertekad untuk hanya berpegang pada tali Allah, maka Allah akan menjadi pelindung kita, Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (Hasbunallah wa Ni’amal Wakil Ni’amal Maula wa ni’amal Nasir”) QS: 22.78, demikianlah sikap takwa yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menghadapi situasi yang sulit sekali. Setelah kita memahami betapa lemahnya kita sebagai manusia, sebagaimana dicontohkan oleh sikap tawakkal Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu kenapa kita bisa merasa diri terlalu hebat sehingga tidak merasa perlu meminta pertolongan dan perlindungan dariNya.

Marilah kita semua menyingkirkan perasaan jumawa dari hati kita masing-masing, karena sebiji kesombongan sudah cukup menjauhkan kita dari Tuhan kita, menjadi hijab yang menghalangi antara hamba dengan Pemiliknya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melindungi kita semua dan senantiasa mencurahkan hidayahnya kepada kita selamanya. Amin ya rabbal ‘alamin.

Rasuna, 18 September 2010

Nela Dusan

Sifat-sifat penghuni neraka yang disebutkan dalam Surat Al A’raaf:

[7.179]

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

22 August 2010

Sebuah Refleksi

Di setiap hela nafasku terselip

Segala keinginan, harapan, kerinduan

Akan segala yang serba memukau

Hatiku terisi penuh segala angan yang membumbung

Namun yang datang hanya kesakitan, kerisauan dan kebimbangan

Perasaan dan kesadaran hilang datang silih berganti

Tersamar dalam kenyataan semu yang tidak jarang menghampiri

Aku tidak ingin berhenti di sini namun

Kilauan yang menerpa mataku demikian menawan

Tidak kah Kau bolehkan aku sejenak duduk di sini Ya Rabb…

Ku berjanji hanya sekejap

Kau biarkan aku dengan anganku bergaul sejenak

Sebagaimana yang kurengekkan kepadaMu selalu

Bagaikan seorang bocah nakal yang belum cukup akal

Penuh kasih Kau biarkan aku terlena dengan pilihanku

Layaknya seorang bocah yang bodoh kupegang api

Kurasakan sengatan panasnya memanggang

Syukur tidak sampai menghanguskan

Kucicipi anggur yang merah menggoda

Kurasakan sekelilingku berputar…

Tak lagi bisa kurasakan tanganku, kakiku, kepalaku…

Sekejap aku rasakan terhisap

Ke dalam pusaran nafsu yang tiada berdasar

Bukan yang seperti ini yang kuinginkan Ya Tuhan

Sungguh bukan ini…

Kebimbangan dan keraguan kian menyeruak

Tak mampu lagi kubekap kalbu untuk tidak berteriak

Bukan yang seperti ini yang kuinginkan Ya Rabbi

Sungguh bukan ini…

Jangan biarkan aku mengejar mimpi yang hanya ilusi

Jangan ijinkan aku memiliki keinginan yang tidak berdasar

Berulang kali Kau katakan

Boleh jadi aku membenci sesuatu padahal ia baik bagiku

Boleh jadi aku menyukai sesuatu padahal ia teramat buruk bagiku

Maafkan aku Ya Allah…

Untuk kealpaanku mendengarkanMu

Tiada lagi kuijinkan hasrat…mimpi…kehendak dalam diri ini

Kecuali menjadi satu dengan kehendakMu Ya Rabbi

Rasuna, 22 Agustus 2010

Nela Dusan

29 August 2009

Malu KepadaMu



Setahun beberapa hari telah berlalu sejak saya melantunkan doa dan permohonan ampun yang menjadi hadiah hari jadi ke 40, doa kepada Sang Maha Pengasih. Berusaha menjalani sisa hidup yang diberikan Allah kepada saya dengan penuh syukur merupakan niat di dalam hati meskipun terkadang angin yang menghembus di sepanjang sisa perjalanan hidup ini demikian lembut dan menyejukkannya hingga dapat membuat saya terlena, namun kadang juga demikian kerasnya menerpa hingga sanggup membuat oleng atau dapat menumbangkan diri saya.

Lebih 40 tahun perjalanan hidup seorang manusia, tentunya banyak menorehkan catatan dalam buku kehidupan. Sebagian merupakan catatan pribadi saya sendiri, sebagiannya lagi merupakan pengamatan terhadap teman, sahabat, keluarga, saudara bahkan orang-orang yang termasuk kategori ‘musuh’ sekalipun. Saya mempunyai banyak teman, sahabat dan saudara yang selalu ingin saya pelihara hubungan baik dengan mereka, karena mereka turut memberikan ketentraman bagi saya, menambahkan arti dalam hidup saya. Meskipun demikian, tidak ada daya upaya saya untuk mengubah keadaan apabila suatu persahabatan, pertemanan atau bahkan persaudaraan sekalipun telah bertransformasi menjadi suatu permusuhan, kecuali jika memang Allah menghendaki sebaliknya.

Persoalan demi persoalan hidup menyertai kemana kita pergi, selama hayat dikandung badan adalah istilah klise yang kita kenal sejak kita kecil melalui salah satu lagu anak-anak yang menjadi hapalan kita ketika kecil.

Dalam satu titik terendah hidup ini saya mendapati betapa Allah menyayangi diri saya, betapa beruntungnya saya mendapatkan cobaan yang ketika itu seolah merupakan beban yang saya tidak sanggup memikulnya. Padahal Allah selalu mengatakan tidak akan datang suatu cobaan kepada seseorang kecuali ia sanggup memikulnya. Saat itu kalimat semacam itu terdengar sebagai sindiran, pelecehan, meledek jiwa yang sedang compang camping saat itu. Bagaimana mungkin kita sanggup? Kadang kita merasa kemampuan mengatasi persoalan hanya dimiliki oleh seorang alim, ulama, orang suci, yang pasti bukan kita. Kita lupa, alim ulama, orang suci, nabi, rasul juga orang biasa. Semua mengalami ujian atau cobaan hidup. Lantas, apa yang menjadikan mereka berbeda dengan kita ketika mengalami suatu ujian atau cobaan yang diberikan Allah?

Ketika mengalami ujian dalam hidup ini, saya sampai pada satu titik dimana ilmu yang selama ini saya ‘bangga-bangga’kan sungguh tidak mampu memberikan solusi bagi persoalan saya. Melalui perenungan yang panjang, melewati malam yang penuh amarah sampai isak tangis, sedu sedan keputusasaan seorang mahluk yang sungguh tidak berdaya, saya mendapati lagi jalan kembali kepadaNya. Alhamdulillah, kesulitan hidup yang pernah saya alami justru mempertemukan kembali saya dengan Sang Pencipta yang berkenan mencurahkan hidayahnya kepada saya.

Tahapan yang dilalui oleh seorang manusia ketika mengalami ujian dalam hidupnya biasanya sama. Dimulai dengan kenyataan yang tidak menyenangkan, kecewa, marah, murka, mengingkari kenyataan, menyalahkan keadaan, orang lain, bahkan berani menyalahkan Tuhannya. Proses tersebut terus berlanjut dan berlangsung dalam waktu yang sangat beragam, ada yang singkat ada yang lebih lama bahkan ada yang selamanya hingga akhir hayatnya dia tidak berhasil mengatasi ujian yang dihadapi, naudzubillah. Dalam satu titik terdapat persamaan dalam cara menyikapi persoalan yang dihadapi, yaitu sedih, marah atau kecewa. Namun, terdapat perbedaan hasil dari ujian tiap-tiap manusia, ada yang memperoleh kesuksesan tapi banyak pula yang berakhir dengan kehancuran. Sementara Allah telah mengingatkan, setiap orang yang mengaku beriman tidak akan luput dari cobaan, mengapa kita bisa lupa?

Saya menangkap terdapat benang merah dari segala bentuk ujian, apakah menyangkut pekerjaan, keluarga, penyakit, kemiskinan atau kekayaan sekalipun. Benang merah itu adalah perlawanan dalam diri kita. Kita lebih senang berjuang melawan ujian yang datang kepada kita sekuat tenaga kita. Memusuhi takdir yang sedang mendatangi kita berdasarkan pengetahuan yang ada pada kita padahal pengetahuan kita yang secuil itu sungguh tidak akan mampu mengatasinya.

Dalam fase perlawanan tersebut, kita sering melupakan suatu sikap yang justru dikehendaki Allah dari setiap umatnya, yaitu sikap bersyukur. Allah sangat menyenangi orang-orang yang bersyukur, orang-orang yang bisanya tidak cuma melantunkan tuntutan demi tuntutan dalam doanya. Orang yang mengawali keluh kesah, permohonan doanya dengan menyatakan syukur kepada Sang Rabb.

Bersyukur atas segala yang telah kita miliki, bersyukur atas segala keterbatasan yang kita miliki, bersyukur atas segala cobaan yang menghampiri. Sebenarnya kita sudah mengetahui betapa Allah menyukai orang yang bersyukur bahwa Allah akan menambah lagi kenikmatan demi kenikmatan kepada setiap orang yang bersyukur [QS: 14.7]. Allah akan mengurangi beban cobaan kita jika saja kita mau bersyukur.

Kadang cara kita untuk menyelesaikan suatu masalah justru membuat masalah tersebut jadi tambah runyam. Padahal apa yang diinginkan Allah hanyalah, kita mendatangiNya, tafakur, menyatakan syukur, memohon ampun dan meminta petunjukNya. Sesederhana pertanyaan Allah yang berulang kali tercantum dalam surah Ar Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Kalimat yang diulang-ulang tersebut merupakan pertanyaan sekaligus pengingat agar hendaknya kita memiliki rasa malu kepada Sang Maha Pemberi Karunia sebelum kita melanjutkan sikap protes kita. Dengan cara seperti itu agaknya proses yang tadinya berlarut-larut bisa dipersingkat. Jika saja kita mau merendahkan diri dan menundukkan hati kita di hadapan Sang Khalik, tidak perlu kita membiarkan hati kita berdarah-darah, keluarga kita porak poranda dalam waktu yang tidak jelas kapan berakhirnya.

Hal lain yang saya dapati ketika mengalami ujian dalam hidup ini adalah kenyataan betapa lemahnya diri kita. Ketidakberdayaan tersebut dapat mendekatkan diri kita kepada Allah namun dapat pula justru menjauhkan kita dariNya. Maksud saya, kadang dikarenakan rasa tidak berdaya, kita mencari penolong dari sesama golongan manusia, misalnya seorang lawyer untuk menuntut, seorang dokter untuk berobat, seorang kekasih untuk melipur lara, mengalihkan segala persoalan dengan suami atau istri kita, seorang pengedar narkoba untuk melenakan jiwa, seorang polisi untuk menakuti lawan, dan segudang profesi lainnya yang kita anggap mampu menolong kita.

Kadang memang sudah syariatnya kita mengambil jalan demikian, jika kita dituntut seseorang, maka kita memerlukan advokat untuk maju ke pengadilan, jika kita sakit, tentunya kita memeriksakan diri kepada dokter, semacam itu. Namun, kadang dalam mencari solusi, kita menjadi berkelebihan. Dalam menegakkan keadilan kita dapat menzalimi orang lain. Dalam mencari kebenaran justru kita memalsukan fakta yang sebenarnya. Memang fitrahnya seorang yang dilanda kesulitan merasakan kesempitan dan terkadang rasa frustrasi memberikan kita dasar pertimbangan dan dasar pembenaran yang menyesatkan.

Pada saat saya mengalami ujian dalam hidup saya, saya sampai pada tahap kontemplasi, merenung, kenapa Allah mendatangkan cobaan yang demikian berat kepada saya. Apa yang hendak disampaikanNya kepada saya. Pertanyaan itu terus menerus memenuhi hati dan pikiran saya. Akhirnya saya memahami kesalahan-kesalahan yang saya lakukan yang menghantarkan saya pada kesulitan tersebut. Banyak bentuk kesalahan yang kita tidak sadari, mungkin sikap yang terlalu percaya diri merupakan wujud dari sikap takabur yang tidak diridhai Allah, sikap riya, tinggi hati atau sombong, sungguh meracuni jiwa. Jika kita membaca sejarah para nabi sejak Adam hingga Rasulullah, belum pernah ada satupun kesombongan suatu bangsa yang menang melawan Allah, semua berakhir dengan kemusnahan, kehancuran. Lantas, apa yang membuat kita, umat akhir zaman yang telah berani bersikap sombong ini, luput dari murka Sang Pencipta?

Melalui tahap kontemplasi saya menemukan betapa kecilnya diri ini di mata Tuhan Yang Maha Perkasa, betapa tidak ada daya upaya kita yang berhasil tanpa persetujuannya. Allah Al Malikul Mulk, Maha Penguasa Semesta, tidak membutuhkan seonggok upeti yang biasa dimintakan pejabat korup kepada korbannya; ataupun perempuan bayaran yang diumpankan pengusaha bejat kepada pejabat hidung belang demi memuluskan bisnisnya. Allah tidak membutuhkan semua itu bahkan Allah tidak merasakan kerugian sedikit pun sekalipun kita membelakangiNya sama sekali. Justru kita sendiri yang membutuhkan Allah, kita yang merasakan kerugian dari tindakan kita yang mendurhakaiNya [QS: 27.40]. Kedurhakaan kita kepada sang Maha Pencipta hanya membuat diri kita semakin tersesat dalam rimba belantara kehidupan.

Tahap kontemplasi adalah tahap yang kritikal, sungguh penting, yang harus kita lalui menjelang memperoleh petunjuk mengenai solusi yang diharapkan. Satu sikap dasar yang wajib ada dalam diri setiap orang yang melakukan perenungan adalah kepasrahan. Pasrah merupakan wujud dari pernyataan keikhlasan jiwa kita. Ikhlas menerima ujian, ikhlas merasakan sakit, ikhlas menerima ketidakadilan, ikhlas menerima kenyataan. Jika kita mau berpikir dan merenung sejenak, intisari dari segala bentuk ujian yang menghampiri setiap manusia berujung pada satu hal yang sama yaitu keikhlasan.

Semua ujian mendatangkan rasa sakit yang sama, kekecewaan yang sama bagi setiap orang yang merasakannya. Masing-masing orang yang tengah diuji menganggap ujiannyalah yang terberat, padahal jika kita mau sedikit menoleh ke sekitar kita, barangkali ujian kita hanya seujung kuku dari ujian yang diterima orang lain tersebut. Namun, kita demikian bersikukuh, menganggap ujian yang kita hadapi lebih meyedihkan, menyeramkan dan demikian tidak tertahankan dibandingkan dengan segenap ujian penduduk bumi ini. Jika saja kita mau merenung, sebenarnya yang menjadi persoalan mendasar dalam setiap ujian dalam hidup ini tidak lebih dari persoalan yang menyangkut keikhlasan.

Melalui tahap perenungan semestinya kita sanggup memetakan masalah yang tengah kita hadapi dan berusaha mencari akar masalah yang sebenarnya. Menyelesaikan suatu persoalan yang bukan dari akarnya hanyalah memperpanjang persoalan itu sendiri tanpa ada kejelasan solusi. Ibaratnya seorang dokter yang tidak mengerti apa yang salah dari seorang pasiennya, mencobakan segala metode, jenis obat, melalui simptom-simptom yang ditunjukkan oleh si pasien. Menyembuhkan seorang pasien hanya berdasarkan symptom tanpa berusaha mencari penyebab munculnya symptom tersebut adalah sama saja dengan mencoba menyelesaikan suatu persoalan dari akibat. Bisa dipastikan dokter tadi akan gagal mengobati pasiennya sebagaimana gagalnya seseorang jika mencari penyelesaian berdasarkan akibatnya, bukan sebab dari segala akibat.

Seharusnya dalam merenung, kita harus berani jujur terhadap diri kita sendiri karena hanya modal kejujuran tersebutlah kita mampu menemukan inti persoalan yang harus kita selesaikan. Kadang sulit bagi sebagian kita untuk bersikap jujur, karena kita tahu kejujuran itu tidak menyenangkan hati kita, bahkan lebih sering bertentangan dengan keinginan dan harapan kita. Pada saat kita berani untuk jujur mengkoreksi diri, menyerahkan persoalan kepada Allah, memohonkan penyelesaian kepada Yang Maha Adil tersebutlah sesungguhnya kita baru mendapati kondisi hati kita yang dilandasi keikhlasan. IKHLAS merupakan bentuk penghambaan kita yang tertinggi kepada Sang Pencipta. Kata yang terdiri dari enam huruf tersebut menuntut pengorbanan total dalam diri kita yang pada akhirnya membawa kita hijrah kembali kepadaNya.

Seluruh ujian apapun bentuknya mendatangkan rasa sakit, dalam hal ini sakit hati, yang luar biasa kepada yang mengalaminya. Mari saya tanyakan satu pertanyaan sederhana kepada kita semua. Mulai dari semua industry farmasi canggih yang ada saat ini sampai dengan pengobatan alternatif, pengobatan herbal, tradisional, dan sebagainya, pernahkan manusia berhasil menemukan suatu obat yang dapat mengobati sakit hati, dalam pengertian kalbu, yang diderita manusia? Saya yakin jawabannya hanya gelengan kepala alias tidak ada. Manusia tidak mampu menemukan obat tersebut karena hanya Allah yang memilikinya. Tidak ada sakit hati yang bisa sembuh tanpa kita mengikuti resep yang dituliskan oleh Allah bersama dengan setiap ujian yang kita hadapi itu. Pada saat Allah mendatangkan ujian, sesungguhnya dalam ujian tersebut sudah diberikan kunci jawabannya atau obatnya yang bernama IKHLAS.

Ikhlas merupakan pernyataan ketaklukan mutlak kita kepada Allah, kerelaan kita menjadikan Allah satu-satunya penolong dan pelindung, sebagaimana halnya dengan doa Nabi Ibrahim dalam puncak kepasrahannya menghadapi cobaan yang dihadapinya [QS: 4.45]. Melalui segala cobaan yang diberikanNya Allah hendak berkata kepada kita agar kita melepaskan pegangan kepada tali-tali selain tali Allah dan dengan segenap keyakinan kita berpegang hanya kepada taliNya. Tali Allah tidak akan pernah mengecewakan kita karena pada saat kita memutuskan untuk berpegang pada tali Allah [QS: 22.78], saat itu pulalah kita berhasil mencapai tahap keikhlasan. Ikhlas menjalani ujian atau cobaan, ikhlas merasakan rasa sakit, dan ikhlas menerima ketetapan Allah atas persoalan, cobaan atau ujian hidup kita tersebut. Pada akhirnya kita berhasil keluar dari persoalan yang membelit tersebut dan jiwa kita terbebas dari rasa sakit.

Tiga elemen penting dalam hidup yang senantiasa harus kita pelihara adalah mempertahankan hidayah, membangun sikap bersyukur dan ikhlas. Dalam pandangan saya, Hidayah ibarat pelampung bagi seseorang yang terapung-apung di samudera, parasut bagi seorang penerjun payung. Syukur sebagai penetralisir kekecewaan kita, pengingat betapa masih banyak kenikmatan lainnya yang kita miliki disamping kesulitan yang sedang menghadang. Dan akhirnya, Ikhlas, jihad yang kita lakukan demi memperolah ridha Allah dan menerima ketetapanNya.

Jika kita sampai pada tahap keikhlasan, tanpa sadar kita telah menemukan jati diri kita yang baru. Menjadi orang yang berhasil bertransformasi, dari seorang penuntut menjadi seorang yang bersyukur, seorang yang sempit hatinya menjadi orang yang sangat lapang hatinya. Jika saat itu terjadi berarti kita baru saja berhasil hijrah kembali ke jalanNya.

Semoga sharing saya ini dapat memberikan manfaat buat kita semua dan jika ada kata-kata yang tidak berkenan mohon kiranya dimaafkan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amin.

Rasuna, 29 Agustus 2009
Nela Dusan

15 February 2009

Sebait Puisi Buat Malaikat Kecilku



Enam tahun adalah waktu yang mama dan papa habiskan untuk menunggumu…malaikat kecilku
Penuh perjuangan mama berusaha untuk memperolehmu
Ketika Allah berkenan menjawab doa kami…bahagia, penuh harap dan cemas bercampur aduk
Tidak mungkin mama lupakan ketika suatu malam sepulang kantor
Kau berontak di dalam perut mama, mengingatkan ketika mama hampir melupakan betapa sulitnya mendapatkanmu sebelumnya…
Seolah protes, kamu katakan pada mama, “stop bekerja seperti kuda ma,
Bukankah mama yang selalu berdoa agar bisa ketemu aku?”
Saat mama tersadar semua hampir terlambat, syukurlah om dokter masih bisa membujukmu
Agar betah bermain dalam perut mama untuk beberapa minggu lagi
Kau masih terlalu kecil untuk lahir sayangku…

Sejak dalam perut mama, kamu sudah bisa memaksa mama untuk menurutimu, lewat dokter tentunya
Om dokter bilang pada mama untuk beristirahat di tempat tidur sampai kamu bisa kuat untuk bertemu mama dan papa
Mama harus bisa menyetop kerja yang tiada berujung kalau masih ingin menimangmu
Tahukah kamu suatu yang tidak pernah mama sangka, betapa mudahnya mama mengambil keputusan memilihmu dibandingkan pekerjaan
Semata karena inginnya kami bertemu denganmu…

Belum lewat 36 minggu kau berdiam dalam perut mama,
Kau memaksa untuk segera berjumpa dengan mama
15 Februari delapan tahun yang lalu, pagi hari dokter datang menjemputmu
Rambut hitam yang menutupi kepalamu yang mungil seolah memenuhi dahi untuk bersambung dengan alis kecilmu yang hitam dan tebal, membuat mama tidak akan pernah salah mengenalimu meski ditengah belasan bayi lainnya
Betapa mungilnya kau malaikat kecilku…

Delapan tahun sudah kau isi hidup mama dan papa dengan celoteh dan kenakalanmu
Mulai belajar merangkak hingga mampu berlari…
Belajar berenang hingga bersepeda …dalam waktu delapan tahun
Tahukah kamu apa yang selalu menjadi doa mama untukmu
Semoga Allah memberikan kekayaan dalam hatimu untuk selalu mensyukuri apa yang engkau miliki kelak…
Menjauhkanmu dari rasa sepi…
Meskipun hingga saat ini kami belum juga mampu memberikan satu apalagi dua saudara bagimu
Semoga Allah menjadikanmu perempuan sholehah yang selalu menyayangi mama dan papa
Yang akan membimbing kami ketika tungkai ini sudah tak sanggup lagi menopang tubuh renta kami nanti
Yang tetap mencintai kami meskipun kami cuma bisa terangguk-angguk diatas kursi tanpa daya
Meskipun kadang kami sering salah menyebut namamu kala ingatan kami semakin berkurang seiring waktu…
Semoga Allah mengirimkan seseorang sebagai suami yang akan mencintaimu dan menjagamu dengan tulus kelak
Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan kepadamu
Untuk merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang mama rasakan ketika pertama kali berjumpa denganmu delapan tahun yang lalu…malaikat kecilku.

Rasuna, 15 Februari 2009

Untuk putriku tercinta, Syifa Adila Prasetyo
Di hari ulang tahunnya yang kedelapan
Semoga Allah mengabulkan doa mama. Amin.

Penuh cinta,
Nela Dusan

17 December 2008

Bintang di Langit Madinah

Dua puluh hari kujejakkan langkahku
Di tanahMu
Kumasuki rumahMu
Kuhampiri masjid NabiMu
Setiap detik kukagumi indahnya masjidMu, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Agungnya Masjidil Haram menggetarkan bathinku
Cantiknya Masjid Nabawi dengan warna yang mengingatkanku akan indahnya surgaMu

Kunikmati setiap saat yang kulalui di masjidMu Ya Rasul
Kagumi setiap ukiran dan sapuan warna pastel masjidmu yang indah
Kutahan nafas ketika kubahmu perlahan membuka lebar
Tatkala langitMu menyapa dan angin sejukMu menerpa wajah yang terkantuk menunggu panggilan shalatMu
Kukagumi langitMu yang biru dari lantai marmer Masjid RasulMu

Saat malam menjelang, kupandangi kubah yang bergeser
Membiarkan langit malam menjadi tontonan hambaMu
Kukagumi langitMu dan bulanMu Ya Allah...langit di atas Nabawi

Maafkan kelancanganku Ya Rabbi…
Tak mampu kutahan tanya hatiku
Kemana gerangan bintang-bintangMu

Dua puluh malam kulalui di tanahMu Ya Allah…
Tak kulewatkan semalam pun tanpa menengadah ke langitMu
Kemana gerangan bintangMu bersembunyi Ya Rabbi…
Tidakkah kau ijinkan mataku mengagumi indahnya malam bertabur bintang ditanahMu
Kurindu menyaksikan gemerlap bintang dilangitMu

Setiap kali kutengadah di setiap malam sesudah kembali dari MasjidMu
Setiap kali tanya hatiku bergema
Kemana gerangan bintang-bintangMu Ya Rabbi…

Maafkan aku Ya Tuhan,
Bukan maksudku tidak mensyukuri nikmatMu
Kehadiranku di rumahMu dan masjid-masjidMu
Menjadi nikmat tak terhingga bagiku, hanya…
Kurindu menatap gemerlap bintang-bintang di langitMu…
Menjelang berakhirnya dua puluh tiga hari kunjunganku di tanahMu


Genap di malam ke dua puluh dua kuhirup segarnya udara di kota RasulMu
Ketika hati ini lelah bertanya
Ketika mata ini tak lagi mencari
Kutangkap satu kerjap cahaya bintangMu di langit
Saat kunikmati kebab di pinggir taman
Kau beri aku kejutan indah
Aku tahu Ya Allah
Kau Maha Pengasih
Setelah penantianku lebih dari dua puluh malam
Kau beri aku kesempatan menikmati indahnya gemerlap bintangmu
Meski hanya satu bintang
Terima kasih Ya Allah
Telah memberiku satu bintang hiasi langit Madinah

Oleh: Nela Dusan
Madinah, 11 Jan 2007

08 December 2008

Wukuf

Hari ini aku nantikan perjumpaan denganMu
Kukenakan pakaian putihku yang terbaik
Pakaian yang kupilih sendiri untuk
Perjumpaanku denganMu di Arafah

Sebagaimana aku berjumpa denganMu di Arafah
Demikian kiranya perjumpaanku denganMu di padang Masyar kelak
Hanya pakaian putihku bukanlah pilihanku, bukan pula yang terbaik

Hari ini di Arafah kubayangkan saat pertemuan denganMu
Bukan pertemuan di Arafah
Tetapi saat pertemuan di Padang Masyar
Pada saat ampunan sirna
Pintu tobat tertutup

Ya Allah,
Jangan biarkan aku berada di luar
pada saat Kau tutup pintuMu
Kutempuh perjalanan berdebu
Untuk sampai ke tempat ini
Betapa syukurnya aku atas kesempatan yang Kau berikan padaku
Untuk mendatangimu di sini
Di Arafah

Sebelum Kau kumpulkan kami di Padang Masyar
Kau ijinkan aku menghadapMu
di Arafah
Dengan pakaian putih terbaikku
Dengan selembar sajadah
Tengadah kepadaMu
Ampuni aku Ya Allah

Betapa syukurnya aku
Bersimpuh diatas pasir berdebu
Dengan pakaian putihku yang terbaik
menghadapMu pada saat Kau bukakan pintu ampunMu dan limpahan berkahMu kepada semua mahluk yang memohon kepadaMu selagi wukuf di Arafah

Arafah, 29 Dec 2006

Oleh: Nela Dusan

05 November 2008

Perjuangan Abadi

Syukurku pada hari ini, berhasil berjumpa denganMu
Sesalku malam ini, betapa cepatnya waktu berlalu
Harus kukemas semua bawaanku keluar dari Arafah
Pakaian putih yang masih melekat, menandai pertemuan istimewa dengan Sang Tuan Rumah
Arafah, sebentar lagi kutinggalkan engkau.

Meskipun berat untuk beranjak, namun bergegas kaki bergerak menaiki kendaraan yang menunggu
Selamat tinggal Arafah, entah kapan aku bisa berkunjung lagi

Semalam suntuk menuju Mekkah untuk thawaf ifadah
Tak terbayang kelelahan para pengendara
bersabar ditengah lautan manusia dan kendaraan,
semalam suntuk di Muzdalifah
Sejak kaki ini menaiki bis, tertidur, terjaga, kembali lelap hingga terjaga lagi, sepuluh jam berlalu
Sampai jualah kami di Masjidil Haram, Rumah Allah

Pagi itu di saat Raja Arab menghadiri shalat ied
Aku terus melanjutkan tawaf ifadah dengan hati bergelora,
Dapatkah kuselesaikan rukun hajiku dengan sempurna?
Ya Allah betapa kuingin selesaikan rukun hajiku dengan sempurna

Menyudahi tujuh putaran tawaf ifadah,
Dilanjutkan dengan Sa’i
Terbayang tangisan Siti Hajar dan bayinya
Bersatu dalam tekad,
Betapa air mata dan keringat membasahi wajah
Cinta, permohonan belas kasihan dan usaha tanpa menyerah
Meluruhkan Penguasa Surga yang menyaksikan dari singgasanaNya
Cukuplah usahamu ya Siti Hajar,
biarlah Kuhadiahi engkau setetes air,
tidak hanya untuk anakmu, tetapi untuk anak dari anakmu,
cucu dari cucu-cucumu,
Sebuah sumber air yang kau sebut zamzam.

Terseok-seok langkahku, menyeret kaki yang terasa bagai menginjak paku
Ya Allah, ijinkanlah aku selesaikan Sa’i ku sebagaimana layaknya yang dilakukan oleh nenek dari nenek-nenekku, Siti Hajar.
Tak ada tandingannya rasa pedih yang dirasakannya
Tidak pula rasa sakit kaki ini meski seperti diiris sembilu, aku harus mampu

Genap tujuh kali kujalani perjalanan dari Safa menuju Marwa
Genaplah rukun haji kami jalani,
Saling memotong beberapa helai rambut
Saling berpelukan memberi selamat,
Selamat menjadi seorang haji dan hajjah
Terselip perasaan haru tak terlukiskan
Setengah tidak percaya, aku telah menjadi hajjah
Beginikah rasanya berhasil menjadi seorang hajjah?
Sejenak semua rasa berkecamuk di dalam dada
Ya Allah, benarkah aku telah menjadi seorang hajjah?
Sekejap terbayang kecemasan, bagaimana aku seharusnya sebagai seorang hajjah?
Ya Allah, patutkah aku menyandang gelar hajjah?

Terbayang kembali perjuangan Siti Hajar, peluh dan tangisnya
Betapa berat perjuangannya dulu,
Kenapa aku mesti cemas sementara aku telah berkesempatan membasuh diri
Kenapa aku mesti bimbang menetapkan langkah,

Perlahan tetapi pasti, Kau kembalikan ketenangan jiwaku
Aku mantap ya Allah, aku ikhlas ya Allah melangkah mendekatiMu
Bimbinglah aku selalu Ya Rabbi, dalam hijrahku ke jalanMu

Nela Dusan
Masjidil Haram, 30 Desember 2006