15 February 2009

Sebait Puisi Buat Malaikat Kecilku



Enam tahun adalah waktu yang mama dan papa habiskan untuk menunggumu…malaikat kecilku
Penuh perjuangan mama berusaha untuk memperolehmu
Ketika Allah berkenan menjawab doa kami…bahagia, penuh harap dan cemas bercampur aduk
Tidak mungkin mama lupakan ketika suatu malam sepulang kantor
Kau berontak di dalam perut mama, mengingatkan ketika mama hampir melupakan betapa sulitnya mendapatkanmu sebelumnya…
Seolah protes, kamu katakan pada mama, “stop bekerja seperti kuda ma,
Bukankah mama yang selalu berdoa agar bisa ketemu aku?”
Saat mama tersadar semua hampir terlambat, syukurlah om dokter masih bisa membujukmu
Agar betah bermain dalam perut mama untuk beberapa minggu lagi
Kau masih terlalu kecil untuk lahir sayangku…

Sejak dalam perut mama, kamu sudah bisa memaksa mama untuk menurutimu, lewat dokter tentunya
Om dokter bilang pada mama untuk beristirahat di tempat tidur sampai kamu bisa kuat untuk bertemu mama dan papa
Mama harus bisa menyetop kerja yang tiada berujung kalau masih ingin menimangmu
Tahukah kamu suatu yang tidak pernah mama sangka, betapa mudahnya mama mengambil keputusan memilihmu dibandingkan pekerjaan
Semata karena inginnya kami bertemu denganmu…

Belum lewat 36 minggu kau berdiam dalam perut mama,
Kau memaksa untuk segera berjumpa dengan mama
15 Februari delapan tahun yang lalu, pagi hari dokter datang menjemputmu
Rambut hitam yang menutupi kepalamu yang mungil seolah memenuhi dahi untuk bersambung dengan alis kecilmu yang hitam dan tebal, membuat mama tidak akan pernah salah mengenalimu meski ditengah belasan bayi lainnya
Betapa mungilnya kau malaikat kecilku…

Delapan tahun sudah kau isi hidup mama dan papa dengan celoteh dan kenakalanmu
Mulai belajar merangkak hingga mampu berlari…
Belajar berenang hingga bersepeda …dalam waktu delapan tahun
Tahukah kamu apa yang selalu menjadi doa mama untukmu
Semoga Allah memberikan kekayaan dalam hatimu untuk selalu mensyukuri apa yang engkau miliki kelak…
Menjauhkanmu dari rasa sepi…
Meskipun hingga saat ini kami belum juga mampu memberikan satu apalagi dua saudara bagimu
Semoga Allah menjadikanmu perempuan sholehah yang selalu menyayangi mama dan papa
Yang akan membimbing kami ketika tungkai ini sudah tak sanggup lagi menopang tubuh renta kami nanti
Yang tetap mencintai kami meskipun kami cuma bisa terangguk-angguk diatas kursi tanpa daya
Meskipun kadang kami sering salah menyebut namamu kala ingatan kami semakin berkurang seiring waktu…
Semoga Allah mengirimkan seseorang sebagai suami yang akan mencintaimu dan menjagamu dengan tulus kelak
Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan kepadamu
Untuk merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang mama rasakan ketika pertama kali berjumpa denganmu delapan tahun yang lalu…malaikat kecilku.

Rasuna, 15 Februari 2009

Untuk putriku tercinta, Syifa Adila Prasetyo
Di hari ulang tahunnya yang kedelapan
Semoga Allah mengabulkan doa mama. Amin.

Penuh cinta,
Nela Dusan

17 December 2008

Bintang di Langit Madinah

Dua puluh hari kujejakkan langkahku
Di tanahMu
Kumasuki rumahMu
Kuhampiri masjid NabiMu
Setiap detik kukagumi indahnya masjidMu, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Agungnya Masjidil Haram menggetarkan bathinku
Cantiknya Masjid Nabawi dengan warna yang mengingatkanku akan indahnya surgaMu

Kunikmati setiap saat yang kulalui di masjidMu Ya Rasul
Kagumi setiap ukiran dan sapuan warna pastel masjidmu yang indah
Kutahan nafas ketika kubahmu perlahan membuka lebar
Tatkala langitMu menyapa dan angin sejukMu menerpa wajah yang terkantuk menunggu panggilan shalatMu
Kukagumi langitMu yang biru dari lantai marmer Masjid RasulMu

Saat malam menjelang, kupandangi kubah yang bergeser
Membiarkan langit malam menjadi tontonan hambaMu
Kukagumi langitMu dan bulanMu Ya Allah...langit di atas Nabawi

Maafkan kelancanganku Ya Rabbi…
Tak mampu kutahan tanya hatiku
Kemana gerangan bintang-bintangMu

Dua puluh malam kulalui di tanahMu Ya Allah…
Tak kulewatkan semalam pun tanpa menengadah ke langitMu
Kemana gerangan bintangMu bersembunyi Ya Rabbi…
Tidakkah kau ijinkan mataku mengagumi indahnya malam bertabur bintang ditanahMu
Kurindu menyaksikan gemerlap bintang dilangitMu

Setiap kali kutengadah di setiap malam sesudah kembali dari MasjidMu
Setiap kali tanya hatiku bergema
Kemana gerangan bintang-bintangMu Ya Rabbi…

Maafkan aku Ya Tuhan,
Bukan maksudku tidak mensyukuri nikmatMu
Kehadiranku di rumahMu dan masjid-masjidMu
Menjadi nikmat tak terhingga bagiku, hanya…
Kurindu menatap gemerlap bintang-bintang di langitMu…
Menjelang berakhirnya dua puluh tiga hari kunjunganku di tanahMu


Genap di malam ke dua puluh dua kuhirup segarnya udara di kota RasulMu
Ketika hati ini lelah bertanya
Ketika mata ini tak lagi mencari
Kutangkap satu kerjap cahaya bintangMu di langit
Saat kunikmati kebab di pinggir taman
Kau beri aku kejutan indah
Aku tahu Ya Allah
Kau Maha Pengasih
Setelah penantianku lebih dari dua puluh malam
Kau beri aku kesempatan menikmati indahnya gemerlap bintangmu
Meski hanya satu bintang
Terima kasih Ya Allah
Telah memberiku satu bintang hiasi langit Madinah

Oleh: Nela Dusan
Madinah, 11 Jan 2007

08 December 2008

Wukuf

Hari ini aku nantikan perjumpaan denganMu
Kukenakan pakaian putihku yang terbaik
Pakaian yang kupilih sendiri untuk
Perjumpaanku denganMu di Arafah

Sebagaimana aku berjumpa denganMu di Arafah
Demikian kiranya perjumpaanku denganMu di padang Masyar kelak
Hanya pakaian putihku bukanlah pilihanku, bukan pula yang terbaik

Hari ini di Arafah kubayangkan saat pertemuan denganMu
Bukan pertemuan di Arafah
Tetapi saat pertemuan di Padang Masyar
Pada saat ampunan sirna
Pintu tobat tertutup

Ya Allah,
Jangan biarkan aku berada di luar
pada saat Kau tutup pintuMu
Kutempuh perjalanan berdebu
Untuk sampai ke tempat ini
Betapa syukurnya aku atas kesempatan yang Kau berikan padaku
Untuk mendatangimu di sini
Di Arafah

Sebelum Kau kumpulkan kami di Padang Masyar
Kau ijinkan aku menghadapMu
di Arafah
Dengan pakaian putih terbaikku
Dengan selembar sajadah
Tengadah kepadaMu
Ampuni aku Ya Allah

Betapa syukurnya aku
Bersimpuh diatas pasir berdebu
Dengan pakaian putihku yang terbaik
menghadapMu pada saat Kau bukakan pintu ampunMu dan limpahan berkahMu kepada semua mahluk yang memohon kepadaMu selagi wukuf di Arafah

Arafah, 29 Dec 2006

Oleh: Nela Dusan

05 November 2008

Perjuangan Abadi

Syukurku pada hari ini, berhasil berjumpa denganMu
Sesalku malam ini, betapa cepatnya waktu berlalu
Harus kukemas semua bawaanku keluar dari Arafah
Pakaian putih yang masih melekat, menandai pertemuan istimewa dengan Sang Tuan Rumah
Arafah, sebentar lagi kutinggalkan engkau.

Meskipun berat untuk beranjak, namun bergegas kaki bergerak menaiki kendaraan yang menunggu
Selamat tinggal Arafah, entah kapan aku bisa berkunjung lagi

Semalam suntuk menuju Mekkah untuk thawaf ifadah
Tak terbayang kelelahan para pengendara
bersabar ditengah lautan manusia dan kendaraan,
semalam suntuk di Muzdalifah
Sejak kaki ini menaiki bis, tertidur, terjaga, kembali lelap hingga terjaga lagi, sepuluh jam berlalu
Sampai jualah kami di Masjidil Haram, Rumah Allah

Pagi itu di saat Raja Arab menghadiri shalat ied
Aku terus melanjutkan tawaf ifadah dengan hati bergelora,
Dapatkah kuselesaikan rukun hajiku dengan sempurna?
Ya Allah betapa kuingin selesaikan rukun hajiku dengan sempurna

Menyudahi tujuh putaran tawaf ifadah,
Dilanjutkan dengan Sa’i
Terbayang tangisan Siti Hajar dan bayinya
Bersatu dalam tekad,
Betapa air mata dan keringat membasahi wajah
Cinta, permohonan belas kasihan dan usaha tanpa menyerah
Meluruhkan Penguasa Surga yang menyaksikan dari singgasanaNya
Cukuplah usahamu ya Siti Hajar,
biarlah Kuhadiahi engkau setetes air,
tidak hanya untuk anakmu, tetapi untuk anak dari anakmu,
cucu dari cucu-cucumu,
Sebuah sumber air yang kau sebut zamzam.

Terseok-seok langkahku, menyeret kaki yang terasa bagai menginjak paku
Ya Allah, ijinkanlah aku selesaikan Sa’i ku sebagaimana layaknya yang dilakukan oleh nenek dari nenek-nenekku, Siti Hajar.
Tak ada tandingannya rasa pedih yang dirasakannya
Tidak pula rasa sakit kaki ini meski seperti diiris sembilu, aku harus mampu

Genap tujuh kali kujalani perjalanan dari Safa menuju Marwa
Genaplah rukun haji kami jalani,
Saling memotong beberapa helai rambut
Saling berpelukan memberi selamat,
Selamat menjadi seorang haji dan hajjah
Terselip perasaan haru tak terlukiskan
Setengah tidak percaya, aku telah menjadi hajjah
Beginikah rasanya berhasil menjadi seorang hajjah?
Sejenak semua rasa berkecamuk di dalam dada
Ya Allah, benarkah aku telah menjadi seorang hajjah?
Sekejap terbayang kecemasan, bagaimana aku seharusnya sebagai seorang hajjah?
Ya Allah, patutkah aku menyandang gelar hajjah?

Terbayang kembali perjuangan Siti Hajar, peluh dan tangisnya
Betapa berat perjuangannya dulu,
Kenapa aku mesti cemas sementara aku telah berkesempatan membasuh diri
Kenapa aku mesti bimbang menetapkan langkah,

Perlahan tetapi pasti, Kau kembalikan ketenangan jiwaku
Aku mantap ya Allah, aku ikhlas ya Allah melangkah mendekatiMu
Bimbinglah aku selalu Ya Rabbi, dalam hijrahku ke jalanMu

Nela Dusan
Masjidil Haram, 30 Desember 2006

04 November 2008

Sebuah Negara Tanpa Batas

Siapa bilang Amerika Serikat sebuah negara adidaya atau Inggris sebuah kerajaan yang terhebat yang bisanya menjajah tanpa berkesempatan dijajah
Jerman negara yang sukses menata harga diri diantara reruntuhan sejarah kelam atau Perancis inspirator lahirnya perjuangan menumbangkan tirani feodalisme

Siapa bilang Jepang adalah negara paling maju yang rakyatnya rajin dan giat bekerja atau Cina yang telah lama mengubur dalam-dalam impian negara tanpa kelasnya

dengan berpaling dan merengkuh kapitalisme
Singapura atau Malaysia tetangga kita yang rajin mencari peluang eksploitasi di kampung kita

Negara hanyalah nama berikut batas-batas wilayah yang teorinya harus saling dihormati
yang tidak sembarang kita bisa saling lintas batas atau seenaknya datang dan pulang
punya kepala negara yang mestinya seorang hamba sahaya rakyat, bukan sebaliknya
berdiri di atas sekeping tanah dimana ditancapkan bendera dan dikumandangkan lagu kebangsaan

Jika tahun depan kita baru menonton perebutan kursi presiden,
Hari ini Amerika menyaksikan akhir persaingan calon presiden mereka,
John Mc Cain atau Barack Obama?
Sampai terjawab, pertanyaan itu terus mengumandang
Heran, memang ada bedanya?

Langkah telah diayunkan, rencana telah terukir
Akankah Mc Cain memiliki kesehatan berpikir dan berjiwa besar menarik pasukannya dari Irak atau berkonsentrasi membenahi urusan domestiknya berbeda dari pendahulunya
Akankah Obama memiliki keberanian dan kearifan
Yang mampu membedakan antara mudharat dan manfaat

Kita sangka presiden Amerika Serikat demikian berkuasa
Satu-satunya manusia di muka bumi ini yang boleh berjalan ke sana kemari
Menginjakkan kakinya dimana dia inginkan, kecuali secuil tanah di Arab sana
Yang baru bisa diinjaknya setelah terucap kalimat syahadat dari mulut dan hatinya

Kita percaya presiden Amerika Serikat demikian berkuasa dan terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya
terbiasa dijilat pemimpin dunia kelas kambing murahan

demi menambah perpanjangan masa berkuasa
Atau sekedar memperoleh kesempatan berkuasa
Dengan bermodalkan menjual dan memeras bangsanya
Pemimpin palsu karbitan
Apakah kita yakin semua itu karena kedigdayaan seorang Presiden

Sebenarnya sudah lama peran dan kuasa presiden di suatu negara itu sirna
Digantikan oleh presiden direktur atau CEO suatu perusahaan multi nasional
yang tidak mengenal batas teritori, apakah ia didirikan di Amerika, Jepang, Jerman, Inggris atau Indonesia sekalipun

Yang memiliki pengikut di seluruh dunia melalui papan pencatat Nasdaq, Hang Seng,
yang mengeruk uang investor seluruh dunia melalui NYSE, LSE, BEI, apapun namanya
Yang memiliki perangkat undang-undang sendiri dengan apapun namanya kode etik, prinsip-prinsip bisnis yang berlaku tanpa memandang batas negara
Demi kepentingan dan keuntungan segelintir pemegang saham atau pemangku kepentingan
Yang kerap berbenturan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan
Yang seringkali berlindung dibalik kekuasaan atau terang-terangan menggunakan perangkat kekuasaan


Masihkah kita berharap banyak dari perubahan suatu pemerintahan
Kenapa mesti meributkan McCain atau Obama jika efeknya buat kemashalatan bangsa Amerika sendiri masih dipertanyakan, apalagi bagi kita

Rasuna, 4 November 2008
Nela Dusan

02 November 2008

USIA AISYAH KETIKA MENIKAH DENGAN RASULULLAH SAW

Artikel ini saya ambil dari email yang dikirim seorang sahabat. Semoga bisa memberikan jawaban atas masalah yang mungkin mengganjal hati kita sekaligus membersihkan nama nabi junjungan kita.

Wassalam,
Nela


Beberapa waktu lalu -saat saya berada di Berlin- ada yang menanyakan tentang isu kontroversi pernikahan Rasulullah saw dengan Aisyah yang masih berusia anak-anak. Pertanyaan ini terulang saat saya mengisi sebuah acara LBT PWK PII Mesir, Senin, 27 Oktober 2008, saat saya mempresentasikan renungan menapaki jejak Rasulullah saw. Saya jadi ingat bahwa pertanyaan seperti ini bukan yang pertama kali. Saya juga pernah mendiskusikannya dengan istri saya. Setelah saya cek lagi dalam computer saya, alhamdulillah saya menemukan sebuah file yang mungkit bermanfaat untuk menjawab kontroversi pernikahan tersebut. Mengingat hari-hari ini isu ini muncul kembali dengan adanya praktik pernikahan seperti ini dengan bersandarkan dalil dari hadits Rasulullah saw tersebut. Semoga bermanfaat
Wassalam
Saiful Bahri
Cairo, 29.10.2008
Dari milist: Forum_LingkarPena: Sep 16, 2005-10:44 am
Terjemahan dari artikel berbahasa Inggris, dari : The Ancient Myth Exposed, by T.O. Shanavas, di Michigan. (c) 2001 Minaret. From The Minaret Source: http://www.iiie.net/
USIA AISYAH KETIKA MENIKAH DENGAN RASULULLAH
Seorang teman beragama Kristen suatu saat bertanya kepada saya, ”Akankah Anda menikahkan saudara perempuan Anda yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,”Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa Anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi Anda?” Saya katakan padanya, ”Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan Anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.
Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.
Nabi merupakan manusia tauladan. Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, muslim dapat meneladaninya. Bagaimana pun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, tak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.
Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam organisasi-organisasi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.
Jadi, saya percaya, tanpa bukti yang solid pun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya. Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyam ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER
Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadits yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga.
Adalah aneh bahwa tak ada seorang pun yang di Madinah, di mana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Madinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal disana dan pindah dari Madinah ke Iraq pada usia tua.Tahzibu at-Tahzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ”Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq” (Tahzibu at-Tahzib, Ibn Hajar Al-`Asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).
Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ”Saya pernah diberitahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tahzibu at-Tahzib, IbnHajar Al- `Asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).
Mizanu al-I`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup para periwayat hadist Nabi saw mencatat: ”Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu al-I`tidal, Al-Dzahabi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).
KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.
KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:
pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama dan Abu Bakar menerima Islam
613 M: Nabi Muhammad saw mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Madinah al-Munawwarah
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

BUKTI #2: MEMINANG
Menurut Thabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.Tetapi, di bagian lain, At-Thabari mengatakan: ”Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya” (Tarikhu al-umam wa al-muluk, At-Thabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).
Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan At-Thabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613 M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).
Thabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikahi. Intinya: Thabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.
KESIMPULAN: Al-Thabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah
Menurut Ibn Hajar, ”Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah” (Al-isabah fi tamyizi ash-shahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).Jika statement Ibn Hajar adalah faktual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.
KESIMPULAN: Ibn Hajar, Thabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’
Menurut Abdur Rahman ibn Abi Zannad: ”Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah” (Siyar Al-a’lam An-nubala’, Al-Dzahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).Menurut Ibn Kathir: ”Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa an-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).
Menurut Ibn Kathir: ”Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa An-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)
Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: ”Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 atau 74 H.” (Taqribu At-tahdzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).
Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.
Berdasarkan Ibnu Hajar, Ibn Katir, dan Abdur Rahman ibn Abi Zannad, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.
Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?
kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.
BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD
Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim (Kitabu al-jihad wa as-siyar, Bab Karahiyati al-Isti`anah fi al-Ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu momen penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: ”ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.
Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu al-jihad wa as-siyar, Bab Ghazwi an-nisa’ wa qitalihinna ma`a ar-Rijal): ”Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu al-Maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): ”Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”
Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud
KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.
BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: ”Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu at-tafsir, BabQaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. Jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah n Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikahi Nabi.
Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.
BUKTI #7: Terminologi Bahasa Arab
Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: ”Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah.
Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin“.
Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p.210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).
Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah ”wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.
BUKTI #8. Teks Qur’an
Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?
Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.
Ayat tsb mengatakan : ”Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?” (Qs. 4:6)
Dalam hal seorang anak yang ditinggal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.
Dalam ayat yang sangat jelas di atas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.
Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,”berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?
Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua. Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.
Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.
BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan
Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.
Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan menanggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.
Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadits dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.
Kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.
SUMMARY:Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun. Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.
Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.
Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

http://saifulelsaba.wordpress.com/2008/10/29/usia-aisyah-saat-dinikahi-rasul-saw/

Diterjemahkan oleh : cahyo_prihartono.

28 October 2008

Has Shock Doctrine Found Its Way Home?



We have been presented so many stories and facts about global financial crisis which was said initially rooted in subprime credits provided loosely in the United States. I have read in some websites explaining about what subprime credit means. Principally subprime credit means a credit provided by US mortgage banking to group of debtors called NINJA. In this case Ninja has no relationship to what we know as Japanese Ninja. NINJA stands for No Income No Job and No Assets. So evidently, the banking industrialists in US, especially the ones engaging as mortgage banks have committed irresponsible banking practices, i.e., evidently violated the 5C banking principles which every economy school student must have known. Anyway, subprime credit only one of many other causes of the financial market crisis in US and now global financial market.


Antony Mueller, founder of the
Continental Economics Institute said:
“The current economic disaster is the result of the combination of negligence, hubris, and wrong economic theory. For decades, an economic and monetary policy has been practiced based on the illusion of, "It doesn't matter." At first it was, "Deficits don't matter." From that, the policy of "it doesn't matter" got extended to money creation, the credit expansion, the stock-market bubble, and the housing boom. Now, we're being told that buying financial junk by the central bank to beef up banks and brokerages also doesn't matter.”


I am interested in finding the real cause of this financial market crisis. For I am neither a financial expert nor an economist, I tried to find all the information here and there. One of the references that really impressed me was a book written by Naomi Klein titled Shock Doctrine. This situation is exactly described well in her book. The difference is on the crisis spot, if most of the crisis detailed in the book happened in almost every place other than United States, now, it happened right in the core of the USA.


To me, this crisis is rooted from the combination of greediness, laziness, stinginess and selfishness. I am a believer of a theory where money and prosperity can be generated only by employment, people economic. The more employments, the better. As we may not forget that most people are living in sub-poor to middle class society, no exception for Indonesia or USA. No country on earth is able to eliminate poor level society to zero percent. I do not believe in money work mechanism as normally applicable under capitalism (which I suspect referred to as wrong economic theory by Antony Mueller) where the money put in the bank and let other people use the money somewhere and we receive handsome interest payment regularly.


To gain something we have to work, no doubt about it. It is the obligation of Government in every country to provide employment to its people. Now, what we can expect in Indonesia, no significant infrastructure has been developed. How can people generate income if they do not have work to do? No wonder criminal cases are increased, most drugs related business are very tempting to desperate people in this kind of situation.


After the cold war era, most countries have changed their faces from pink or red color regime to capitalist regime of economy. Under the capitalist regime as dreamt and urged by Milton Friedman, the guru of Chicago School Economy, the economy will find its balance if there is no intervention whatsoever from government. This idea has inspired the trend of privatization all over the world, affected and dictated by Friedmanist cronies, known as Chicago Boys in South part of America or popular as Berkeley Mafia here in Indonesia, of course.


It is hard for me to understand as to why we should accept the idea that privatization is the solution to the crisis while we all know that many of those state companies being privatized were money machines that support state finance. Anyway, I am just pretending naively, of course the more privatizations, the more controls those sharks will hold. The sharks called multi national companies. Of course there is interesting upside of certain amount of commissions for brokers known as international investment banks or more like piranhas. It is all about money, nothing else.


It is so ironical, that last time we have financial crisis in 1998, IMF has eventually successfully pushed some kind of financial rescue package or known as ‘structural adjustment’ which includes deregulations in investment law, tightening of monetary policy, deduction of subsidy and privatization of state owned companies. Many of our important and strategic state companies have been privatized, including banking sectors. Now we will see when those private sectors suffered from huge bad debts, it might be the time for government to step in, bail out the debt. Perhaps, when those companies become healthy again, then there will be another design to take over them by international private companies.


During my office at IBRA doing some debt restructuring before finally selling them off, I witnessed that the financial crisis in Indonesia and most Asia countries have weakened our economy which then weakened the political position of Indonesian government at that time. IMF showed up as the ‘hero’ in providing a loan to rescue the situation. Anyway, it came not without something. In line with shock doctrine theory the IMF saw the crisis as the opportunity to apply the theory in practice, such as deregulations in investment law, removing trade barriers, minimizing government interference in market, cutting out subsidy or lowering social spending and privatization.


Given the experience in 1998, I started to think maybe this time IMF will drop by to the United States and lend its powerful hands to the US government, with the cost and implications of course to be borne by lowest level of society in the USA. It will be interesting to observe how IMF will work its ‘structural adjustment’ in its homeland. Will it have a heart to hurt people of the country which have supported it since the beginning? or is it just another bad luck for American people, just as happened to us in Indonesia.


I think it is not totally untrue what Antony Mueller said:
“The current financial crisis is not of a cyclical nature. The financial turmoil is the symptom of the structural imbalances in the real economy. Over decades, expansive monetary policy has gone hand in hand with implicit and explicit bailout guarantees, and this has distorted the process of capital allocation. Under such perverted conditions, those investors will win most who cast away the restraints of prudence. It is a game that can go on for a long time — up to the point when the irrationality has become systemic.”


Is it really the phenomenon of the downfall of capitalism or is it the domino effects that ‘certain people’ wish to get in the end? We will find out later.




By: Nela Dusan (Gusnelia Tartiningsih)
Rasuna, 13 October 2008