Dalam diam aku mendengar tanya
Apakah yang kuinginkan sebagai kado ulang tahunku?
Hari ini genap usiaku 40 tahun
Usia yang baik untuk memulai hidup
Aku memimpikan hari dimana aku masih memiliki kesempatan
Untuk mendatangi Tuhanku
Memohon ampun dan berdoa kepadaNya
Aku mengharapkan Tuhan memanjangkan nyawaku
Agar sampai hari ulang tahunku yang ke 40
Karena aku tahu saat itu hari yang bakal membawa berkah bagiku
Hari yang baik untuk memulai hidup
Ya Allah, aku memohon ampun kepadaMu
Permohonan ampun seorang manusia yang tidak tahu malu
Ampuni aku ya Rabbi untuk semua kebodohan dan kesia-siaan yang kulakukan
Dalam paruh hidupku
Ya Allah, aku berdoa kepadaMu
Permohonan doa seoarang anak yang boleh jadi sempat durhaka
Kepada kedua orang tuanya, semasa hidup mereka
Aku bermohon doa kepadaMu,
Demi letih lelah bundaku membopongku selama sembilan bulan dalam kandungannya
Demi air susu bundaku yang membuatku dapat tumbuh menjadi balita
Demi air mata kesedihan bundaku menyaksikan kenakalanku
Demi air mata bundaku yang jatuh ke dalam melihatku semakin menjauh
Aku bermohon doa kepadaMu ya Rabbi,
Demi ketegaran ayahku membesarkanku
Demi kebijaksanaannya mengasuh dan mendidikku
Aku bermohon sangat kepadamu ya Rabbi,
Berilah mereka ampunanmu, kasihanilah ayah dan bundaku Ya Rabbi
Ya Allah, aku berdoa kepadaMu
Untuk keselamatan suami dan anakku
Masukkanlah anak cucuku ke dalam golongan mahlukMu yang kuat
Jangan engkau biarkan mereka menjadi kaum yang lemah,
yang mudah terperdaya hawa nafsu
Peliharakan mereka Ya Allah,
Selamatkan mereka dunia akhirat
Pertemukanlah kami kembali kelak di surgaMu
Ya Allah, perkenankanlah doaku
Doa yang Engkau janjikan
Sampaikanlah usiaku menjadi 40 tahun
Agar dapat kumohonkan ampunanMu
Agar dapat kumintakan rahmatMu
Hari ini genap usiaku 40 tahun
Kuhampiri Engkau hai Zat Yang Maha Memberi
Karuniakanlah segala kebaikan yang pernah Kau limpahkan
Kepada orang-orang saleh yang menjadi kesayanganMu
Masukkanlah aku ke dalam golongan yang selalu dalam lindunganMu
Janganlah Kau sesatkan aku setelah Kau beri aku petunjuk
Ampuni aku ya Allah
Jadikanlah aku manusia yang memberikan manfaat bagi manusia lain
Tanpa menjadi jumawa
Jauhkan aku dari semua jenis kesombongan
Seperti kesombongan seorang Karun yang Kau benamkan dalam perut bumi
Atau kesombongan seorang Firaun yang kau tenggelamkan di dasar lautan
Jauhkan aku dari kesesatan
Baik yang nyata
Maupun kesesatan yang dibalut pujian
Nela Dusan
Rasuna, 23 Agustus 2008
23 August 2008
DOA DI USIA 40
17 August 2008
INDONESIA, QUO VADIS?
Namun tidak semua orang berusia 63 tahun cenderung pada hal-hal yang positif, atau menyambut panggilan nuraninya kembali ke fitrah sebagai mahluk ciptaan Yang Maha Pencipta. Banyak diantara manusia yang menginjak usia 63 dan lebih, bertingkah seperti mahluk yang tidak berakal. Manusia yang seperti itu juga tersebar di semua golongan, mulai dari gelandangan, pekerja, pengusaha sampai dengan pejabat pemerintah. Jumlah mereka pun tidak sedikit, bahkan sepertinya hari demi hari, semakin banyak orang di negeri kita ini yang melakukan ‘hijrah’ justru ke jalan yang salah.
Kembali kepada pokok pembicaraan kita, usia 63 tahun Indonesia. Apa yang sudah kita punya? Kebobrokan, korupsi, keserakahan, kemiskinan, kemelaratan dan berujung pada kehilangan harga diri. Semuanya adalah faktor yang disebabkan oleh ulah manusia Indonesia sendiri, belum lagi kondisi alam Indonesia yang terletak di pertemuan dua rangkaian gunung berapi di dunia ini, pertemuan dua lempeng benua yang memang tidak akan pernah berhenti bergerak, seperti yang sudah ditakdirkan oleh Allah Pencipta semesta alam, semua juga terjadi di bumi kita tercinta ini, Indonesia.
Sebelum kita menjadi kufur nikmat, hanya menyuarakan sisi negatif dari negeri ciptaan Tuhan YME belaka, kita harus selalu ingat betapa berlimpahnya karunia yang diberikan olehNya yang terkandung di dalam bumi kita tercinta ini. Emas, berlian, minyak bumi, batu bara, kayu, bijih besi, gas, bahkan hasil laut, perikanan, sebut saja, semuanya ada di bumi Indonesia. Apa lagi yang kurang ? Namun, coba lihat, apa yang kita dapat dengan semua modal yang sudah diberikan Tuhan kepada kita selama ini? Sepertinya tidak banyak. Kenapa ?
Satu pertanyaan sederhana, kenapa ? pertanyaan yang memaksa kita untuk berpikir dalam menjawabnya. Banyak kemungkinan jawaban yang bisa diberikan untuk pertanyaan sederhana tersebut, dari semua bagi saya yang paling masuk akal adalah karena sebagian besar kita, bangsa Indonesia, telah kehilangan harga diri. Harga diri itu telah lenyap karena telah ditukarkan dengan sejumlah materi yang tidak seberapa harganya.
Jika kita mau merenung sedikit, kenapa negara Malaysia yang berpenduduk cuma sekitar 20 juta manusia itu sepertinya sudah tidak punya ‘hormat’ sedikitpun terhadap saudaranya yang jumlahnya 200 juta yang hari demi hari justru menjadi tambang emas buat sebagian masyarakat negeri jiran tersebut. Benar bukan bahwa di bumi Indonesia inilah warga dan negara Malaysia mendapatkan rejeki, dari kebun kelapa sawit ‘bekas kepunyaan’ bangsa Indonesia yang ada di Sumatera, Kalimantan, kayu-kayu gelondongan ilegal milik rakyat Indonesia yang diselundupkan ke negeri tetangga kita dengan ‘kerja sama’ dengan oknum manusia Indonesia sendiri.
Kita sering terjebak dalam pembicaraan yang sifatnya kasuistis, seperti beberapa tahun yang lalu, pada saat kepulauan ambalat menjadi topik hangat, nasionalisme bangsa seperti tergelitik, lalu kasus perlakuan pendatang haram dari Indonesia yang diperlakukan tidak manusiawi di Malaysia, semua orang merasa sakit hati, yang terakhir kasus pemukulan wasit karate asal Indonesia dan penangkapan istri diplomat kita di Malaysia, kita semua marah, lantas apa yang terjadi ? jawabannya hanya gelengan kepala, ‘tau ah gelap’ kira-kira demikian artinya.
Kita kaya tapi kita juga sangat miskin. Pada akhirnya kita semua harus menyadari bahwa untuk menegakkan harga diri juga diperlukan kekuatan ekonomi. Saya heran, untuk membeli amunisi kita tidak mampu, tetapi saya pernah melihat mobil berplat hijau alias tentara keluaran pabrikan mewah, sekelas Harrier dan Range Rover berkeliaran di jalan-jalan Jakarta. Sungguh ironis, untuk membeli amunisi bagi pertahanan militer kita tidak punya uang, tapi untuk bermewah-mewah di jalan sepertinya ada uang.
Sungguh ironis, negara sekaya ini tidak memiliki kekuatan pertahanan yang memadai. Negara kita kaya tapi sayang yang kaya adalah individunya, pejabatnya, pemimpinnya bukan negaranya. Jangankan berperang melawan Amerika, melawan Malaysia yang penduduknya 10 persen Indonesia saja pun belum tentu kita mampu. Kita punya prajurit yang banyak, tapi apa arti angkatan bersenjata jika tidak memiliki peluru, tentara minus senjata barangkali jadi lebih mirip dengan pramuka atau hansip ya. Jika pun Bung Karno masih ada saat ini, pasti beliau pun hanya akan tersenyum dan angkat bahu jika ada yang meneriakkan yel-yel ‘ganyang Malaysia’, yah Malaysia saat ini tidak sama dengan Malaysia jaman dulu bung.
Kita kaya, tapi kekayaan itu mengalir ke luar negeri, baik melalui pemindahan resmi yang dilakukan oleh para investor asing yang beritikad baik, maupun pemindahan arus uang yang illegal yang berasal dari transaksi illegal oleh pihak-pihak yang illegal, termasuk di dalamnya hasil jarahan kekayaan alam, konon termasuk hasil korupsi pejabat pemerintahan sipil maupun polisi di perbatasan, semua orang tahu, semua orang maklum.
Ironis bukan, uang hasil jarahan negeri kita mengalir keluar dengan mudah namun sangat sulit untuk kembali dengan alasan hukum, kepatuhan Indonesia akan rejim peraturan global mengenai pencucian uang justru semakin membuat kita menjadi miskin. Kita kaya tapi kita harus berhutang dari luar negeri yang barangkali berasal dari uang haram para oknum Indonesia sendiri, dalam bentuk beragam jenis investasi oleh beragam SPV. Jadi kita sudah dua kali rugi, sudahlah dijarah, tidak bisa meminta balik pula.
Orang Indonesia cenderung maklum jika melihat seorang petugas polisi berstatus orang kaya di mata masyarakat, terang aja, dia kan polisi. Mungkin pada kesempatan lain, terang aja, dia kan hakim, dia kan jaksa, dia kan camat, pegawai departemen, dsb. Lah kita semua tau berapa sebenarnya gaji seorang perwira polisi, jaksa, hakim, pegawai negeri, dsb, lantas dari mana mereka bisa membeli apartemen, rumah di pondok indah, mobil Cheyenne, X5, menyekolahkan anak di Amerika atau sekurangnya Australia, dsb. Mungkin menjadi salah satu ‘kelebihan’ dari orang Indonesia, memaklumi segala sesuatu, tidak peduli apakah suatu hal itu positif atau negatif. Termasuk juga pada saat Dubes kerajaan Arab Saudi menyatakan bahwa seorang TKW yang dipukul sampai mati oleh majikannya adalah takdir, sepertinya semua pejabat Indonesia turut mengamininya.
Kematian seseorang memang takdir, tetapi itu adalah bagi yang bersangkutan, sang korban. Bagi orang yang ditinggalkan menyisakan persoalan hukum tentunya, bahkan negara Saudi Arabia yang berasaskan hukum Islam berdasarkan Al Qur’an berani menyepelekan persoalan itu dengan pernyataan takdir, bukankah hukum Islam masih berlaku di sana? bukankah keadilan juga sudah dijamin berdasarkan Al Qur’an? kenapa hukum qhisash tidak diberlakukan bagi si pembunuh TKW? apakah karena yang terbunuh adalah seorang TKW yang dalam kamus orang arab barangkali diterjemahkan sebagai budak menjadikannya halal? Mungkin karena korbannya seorang budak dan yang melakukan pembunuhan, jika benar terjadi, adalah tuannya (majikannya) sehingga terdapat loophole hukum di sana. Jika pun ada loophole, bagaimana peran nilai-nilai universal yang selalu didengungkan oleh kalangan Barat, yaitu hak asasi manusia dalam kasus TKW tersebut? tampaknya kasus TKW tersebut pun tidak dikategorikan kasus yang menyangkut manusia, apakah TKW bukan manusia?
Kalau memikirkan masalah perlakuan majikan para TKW Indonesia khususnya di Arab dan Malaysia atau di Negara manapun para TKI itu berada, rasanya perut ini menjadi mules. Tidak adakah satu orangpun di Departemen Agama yang memahami hukumnya pembunuhan oleh majikan seperti ini berdasarkan syariat agama dan memperjuangkan hak korban sehingga tercapai keadilan? tidak adakah satu orangpun di Departemen Tenaga Kerja Indonesia yang mampu membela hak-hak tenaga kerja Indonesia yang notabene warga negara Indonesia.
Tampaknya privilege hukum belum ditakdirkan menjadi milik seluruh warga negara Indonesia, masih meliputi orang-orang ‘pilihan’, entah karena jabatannya atau karena uangnya. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, kita mestinya menyadari betapa besarnya sumbangan para TKI itu terhadap pembangunan bangsa ini, mereka telah memberikan sumbangan devisa kepada negara. Ditengah-tengah perilaku sebagian warga yang menghambur-hamburkan devisa, mereka justru bak pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka menghidupi keluarga dengan taruhan harga diri dan nyawa.
Tidakkah semestinya pemerintah Indonesia berterima kasih kepada mereka karena sebagian kewajiban Pemerintah kepada warga Negara yang mungkin telah memilih mereka waktu pemilu silam telah ditunaikan oleh para konstituen itu sendiri tanpa mengeluh, tanpa merasa dieksploitasi oleh negara, demi sesuap nasi. Tidakkah Pemerintah menyadari bahwa semestinya penyediaan lapangan kerja juga merupakan tanggung jawab kepada rakyat Indonesia.
Tampaknya menjadi kebiasaan umum orang Indonesia untuk bersikap reaktif jika terjadi sesuatu tetapi selanjutnya lupa memikirkan kenapa suatu hal buruk tersebut terjadi. Sepanjang sejarah manusia, keberhasilan menyelesaikan suatu masalah sangat bergantung pada kemampuan kita mengevaluasi duduk perkara suatu masalah. Tidak bisa kita menyelesaikan masalah dari akibat. Kita harus menyelesaikan masalah dari sebab. Menyelesaikan masalah dari akibat ibaratnya membasmi kanker yang hanya ada di liver sementara akarnya ada di paru-paru, tetap saja tidak tuntas.
Lebih jauh lagi, hal lain yang sangat penting untuk dicermati jika kita ingin menyelesaikan persoalan dari sebab adalah kemampuan kita menganalisa dan mengevaluasi data dan fakta sehingga sampai pada kesimpulan yang tepat, dengan begitu akar masalahlah yang kita selesaikan, tidak kasuistis sifatnya. Mungkinkah para petinggi negeri ini menyelesaikan setiap persoalan yang ada dengan hati yang jernih, pikiran yang terang, bebas dari nuansa kepentingan pribadi atau golongan? Adakah kemampuan kalian untuk melakukan hal itu wahai segenap pemimpin negeri ini? Atau barangkali persoalannya adalah lebih kepada masalah kemauan daripada kemampuan.
Kembali pada kondisi umum Indonesia yang menurut pandangan saya yang bodoh ini sudah hampir sekarat, apakah akar masalah yang harus diselesaikan oleh para petinggi negeri ini sesungguhnya? Barangkali jawaban bodoh saya adalah kembalikan dulu harga diri kita sebagai suatu bangsa, barulah kita bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi tidak hanya dengan negara tetangga kita, tetapi seluruh negara dan bangsa di dunia ini. Oknum anak bangsa telah merusak dan menghancurkan fitrah kita sendiri sebagai bangsa yang sejatinya bangsa yang besar dan kuat.
Tampaknya kebutuhan akan adanya suatu perubahan dalam sikap dan akhlak manusia Indonesia sudah sangat mendesak. Adakah seseorang yang nekat menjadi pemimpin dan menjadi lokomotif bangsa ini tanpa ditunggangi motif ekonomi?
Saya merindukan pemimpin yang amanah dan tidak takut miskin jika dengan demikian dia bisa menegakkan kebenaran di negara ini, pemimpin yang tidak perlu merasa berutang budi pada siapapun sehingga harus menutup mata pada semua penyimpangan atau ketidakbenaran yang saat ini terjadi.
Seorang pemimpin yang mampu menyadarkan sebagian besar bangsa Indonesia yang sedang kesurupan demokrasi, yang mengingatkan kita semua bahwa demokrasi adalah tidak lebih dari alat atau media mencapai tatanan hidup berbangsa dan bernegara yang lebih baik, bukan menjadi tujuan akhir seperti yang tampak sebagai fenomena yang umum paska lengsernya almarhum Suharto. Kembalikan demokrasi kepada hakikatnya, jangan lanjutkan demokrasi kebablasan ala Indonesia.
Saya merindukan pemimpin yang memiliki visi yang ditularkan kepada seluruh bangsa ini, visi yang membangkitkan kembali harga diri semua anak bangsa. Barangkali menyenangkan kalau di negara kita tidak ada orang yang teramat kaya namun juga tidak ada yang teramat miskin. Barangkali terdengar sangat sosialis di telinga para kapitalis. Kita tahu, sudah tidak ada lagi yang namanya sosialisme di dunia ini, semua sudah berganti baju kapitalisme, semua sudah menuhankan uang dengan versinya masing-masing, ada oligarkhi di Rusia, ada kapitalis versi Cina, dsb. Bagi saya, masak bodoh lah, mau sosialis atau kapitalis, yang penting terjemahannya adalah kesejahteraan bagi semua manusia Indonesia.
Lagi-lagi, saya mesti melihat kenyataannya saat ini, ah malangnya nasibmu Indonesia, bibir ini hanya bisa berucap lirih…’quo vadis Indonesia di usiamu yang 63 tahun ini ’.
Rasuna, 17 Agustus 2008
Nela Dusan
02 August 2008
MANUSIA NGEPET
Sebagai remaja tahun 80an, sewaktu kecil hingga remaja, saya sering mendengar cerita-cerita tentang pemujaan atau istilah populernya adalah ‘muja’. Saat itu tentu saja belum ada sinetron horror seperti sekarang ini, paling-paling yang ada tayangan film bioskop horor yang biasanya (selalu) dibintangi oleh Suzana atau Farida Pasha secara bergantian.
Dalam bayangan saya, setting tempat pemujaan adalah letaknya di gunung, ada gubuk atau gua tempat bertapa dengan asap dan bau kemenyan yang khas. Biasanya ada batu yang dijadikan altar dan ada dukun atau orang pintar yang menjadi tempat konsultasi orang-orang kota yang umumnya pedagang atau pengusaha. Barangkali selalu ada ‘klien’ sang dukun di semua kalangan masyarakat, mulai dari petani, pedagang, pegawai negeri, bahkan mungkin juga ada pelajar dan mahasiswa yang tercatat sebagai klien, mungkin saya saja yang tidak mengetahui siapa mereka.
“…jadi saya mohon bantuan bapak agar dapat memindahkan saya ke posisi yang saya ceritakan tadi itu pak.”
“Mmhh…jadi begitu.” Sang ‘godfather’ berkata sambil manggut-manggut sebelum melanjutkan,
“…ah itu sih perkara mudah buat saya. Kamu akan saya pastikan sampai Jenderal, tapi satu syarat yang harus kamu penuhi.” Si polisi mendengarkan dengan seksama, hampir-hampir lupa bernapas, ah sebentar lagi dia akan menduduki posisi basah (tak heran Jakarta selalu kebanjiran, terlalu banyak orang-orang yang berdoa untuk mendapatkan posisi basah) dan selanjutnya harta akan datang berlimpah, “ah...sebentar lagi saya akan jadi orang kaya dan berpengaruh” demikian kurang lebih pikirannya.
“Apapun yang bapak minta, saya akan penuhi.”
Rasuna, 2 Agustus 2008
Nela Dusan (Gusnelia Tartiningsih)
21 July 2008
KISAH SEPASANG REL KERETA

Boleh jadi sebagian dari kita sudah mengetahui, namun bisa jadi sebagian besar belum mengetahui, bahkan tidak pernah memikirkannya, bahwa jarak antara sepasang rel kereta itu adalah 143,5 cm. Jarak itu konon selalu demikian. Sekedar intermezzo, kenapa harus berjarak 143,5 cm, kenapa tidak 150 cm atau 200 cm, dsb. Pertanyaan yang sangat wajar dilontarkan yaitu kenapa harus 143,5 cm?
Saya tergerak untuk berbicara mengenai hal remeh yaitu jarak antara sepasang rel kereta itu pada saat membaca buku ‘The Zahir’ karangan Paulo Coelho. Dalam bukunya itu tokoh dalam cerita the Zahir secara unik mengamati rel kereta dan sampai pada fakta yang unik yaitu tidak penting sesederhana atau secanggih apapun teknologi perkeretapian yang digunakan, ternyata jarak sepasang rel yang menjadi landasan kereta api canggih ataupun sederhana tadi adalah tetap berjarak 143,5 cm.
Yang menarik adalah bagaimana Coelho, di dalam bukunya, menghubungkan antara rel kereta api dengan perkawinan. Digambarkan dalam buku bahwa sang tokoh utama seorang penulis terkenal telah ditinggal begitu saja oleh istrinya, pendeknya istrinya yang dicintai dan mencintainya telah mangkir dari rumah tangga mereka dan belakangan diketahui untuk tujuan memenuhi kebutuhan aktualisasi diri dengan cara yang tidak biasa. Entah mengapa sang tokoh tertarik mengamati rel kereta pada suatu kesempatan di stasiun dan sampailah dia pada perenungan yang kemudian juga jadi perenungan saya sendiri.
Kembali kepada jarak rel kereta, mohon maaf jika saya terus menerus dan mengulang-ulang penyebutan lebar rel kereta yang berjarak 143,5 cm tersebut, ternyata sejarahnya sangat panjang dan menarik. Bisa jadi informasi ini hanya rekaan semata, bisa jadi fakta sebenarnya, wallahu alam.
Dulu gerbong kereta api dibuat dengan menggunakan alat yang sama untuk membuat kereta yang ditarik kuda, jadi jarak yang sama juga digunakan oleh kereta berkuda. Lantas kenapa jaraknya 143,5 cm, karena itu lebar jalan dimana kereta-kereta itu berjalan. Lantas, siapa yang memutuskan bahwa lebar jalan harus berjarak demikian, ternyata jawabannya ada di jaman Romawi, dimana jalan raya pertama dibangun dan jalanan itu dilalui oleh kereta berkuda (chariots) yang ditarik oleh sepasang kuda yang kalau berdiri berdampingan memakan tempat selebar 143,5 cm.
Sesederhana itu? Tampaknya demikian. Jadi tidak jadi soal sekencang apa kereta api yang berjalan diatas rel itu saat ini, tetap kereta itu akan berlari di atas rel yang berjarak 143,5 cm, tidak lebih tidak kurang.
Yang menarik adalah sepertinya tidak seorangpun manusia di jaman modern ini yang berpikir untuk mengubah jarak tersebut, bahkan konon hal itu sampai mempengaruhi ukuran tangki bahan bakar pesawat luar angkasa Amerika. Kabarnya para ahli di sana beranggapan bahwa tangki bahan bakar pesawat luar angkasa harusnya lebih besar dan lebar lagi, namun karena produksi dilakukan di Utah dan mesti diangkut menggunakan kereta api ke Florida, maka mereka berhadapan dengan kendala terowongan yang sudah didesain dengan jarak yang toleransi dengan jarak 143,5 cm tadi. Sungguh lucu betapa berpengaruhnya apa yang dilakukan oleh orang di jaman Romawi dulu terhadap kehidupan dan teknologi modern saat ini.
Jepang, Perancis atau Amerika boleh saja mengembangkan desain, bentuk gerbong kereta api dan teknologi kecepatan semau mereka. Namun, semua harus mau dan mampu berjalan di atas rel orang Romawi, yaitu 143,5 cm. Terbayang frustrasinya produsen gerbong yang ingin membuat inovasi ukuran kereta yang mempengaruhi lebar roda kereta, mau jalan dimana? Masak harus melakukan restrukturisasi jaringan rel kereta seluruh negeri?
Kembali pertanyaannya apa hubungan antara rel kereta api dengan perkawinan? Coelho membahas dengan cara yang unik namun sangat mengena. Katanya, konon jika dua orang menikah maka mereka harus terus mempertahankan posisinya tersebut sampai akhir hayat mereka. Pasangan itu harus bergerak berdampingan seperti layaknya sepasang rel kereta, tetap menjaga jarak yang sama. Meskipun terkadang sebagian dari kita membutuhkan sedikit jarak yang lebih jauh atau lebih dekat, hal itu melanggar aturan. Aturannya mengatakan bahwa kita harus rasional, pikirkan masa depan, pikirkan anak-anak kita. Kita tidak dapat berubah, kita harus seperti sepasang rel kereta yang harus tetap menjaga jarak yang sama di sepanjang jalur mulai dari tempat keberangkatan yaitu pada saat anak-anak kita lahir sampai dengan tibanya mereka di tujuan.
Aturan yang ada tidak membolehkan cinta untuk berubah atau cuma berkembang pada saat berangkat dan menghilang di tengah jalan, sungguh berbahaya. Yang diperlukan adalah jarak yang sama, kekompakan, fungsi alamiah yang sama. Tujuan kita adalah mengantarkan kereta yang membawa anak-anak kita melesat ke masa depan mereka. Anak-anak kita akan sangat bahagia jika kita para orang tuanya tetap menjaga jarak 143,5 cm seumur hidup kita. Jika kita tidak merasa bahagia dengan sesuatu yang tidak berubah, cobalah untuk berpikir tentang mereka, kebahagiaan anak-anak kita, yang sudah kita bawa ke dunia ini.
Saya juga jadi teringat waktu masih remaja dulu jamannya remaja keranjingan kegiatan radio komunikasi amatir yang lebih dikenal istilah ‘nge-break’. Angka 143 suka diucapkan ketika sedang gombal-gombalan sesama ‘breaker’, 143 disini adalah kepanjangan dari ‘I Love You’. Sekarang ada angka 143,5, kalau saya terjemahkan secara sederhana dalam bahasa breaker jadi I love you half. Seolah sudah ada firasat pembuat rel kereta, jika dianalogikan dengan rel kereta, maka perkawinan adalah berisi komitmen masing-masing separuh cinta untuk menjadi satu cinta yang utuh, yaitu dalam perkawinan.
Saya sendiri sempat termangu setelah membaca satu dua halaman dalam the Zahir khususnya mengenai filosofi rel kereta ini. Tanpa disadari saya jadi membandingkan dengan kehidupan perkawinan saat ini, betapa banyaknya rel-rel kereta yang sudah tidak mempedulikan jarak, tidak heran jika gerbong yang melaluinya jadi anjlok, betapa banyak hati-hati kecil yang terluka hanya karena salah satu atau kedua rel memutuskan untuk mencari pasangan rel lainnya. Saya tidak ingin menyalahkan pasangan-pasangan rel yang sudah terlanjur terpisah dan sangat menghargai alasan-alasan yang diajukan setiap pasangan rel yang terpisah tersebut. Saya hanya ingin berbagi renungan mengenai kedalaman filosofi rel kereta ini semoga dapat menjadi renungan bagi semua pasangan rel yang masih utuh, termasuk pengingat bagi saya pribadi dan rel yang menjadi pasangan saya.
Jika ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dimana kita merupakan penumpang angkutan kereta api, apakah kita mau menaiki kereta dimana di tengah jalan relnya tiba-tiba memisahkan diri, bisa dipastikan jika kita salah satu penumpang di dalam gerbong kereta tersebut, akan berakhir di rumah sakit bahkan bisa kehilangan nyawa. Mungkin jika kita, para rel kereta ini, berposisi sebagai penumpang tetap setiap hari pergi kerja misalnya dari Bogor menuju Dukuh Atas, selalu menumpang kereta yang sama dengan jalur yang sama, tentunya tidak akan pernah mau kalau sampai rel kereta di sepanjang perjalanan kita itu memiliki kebebasan untuk memisahkan diri seenaknya karena urusannya menyangkut nyawa kita sendiri. Jika kita merasa takut karena jiwa kita langsung yang terancam, lantas kenapa kita tega memisahkan diri dari perkawinan dimana anak-anak kita berada di dalamnya, tanpa alasan yang patut dibenarkan, misalnya hanya karena kita sudah tidak merasa nyaman lagi dengan jarak yang ada, atau sekedar mencoba prospek bergandengan dengan rel lain. Tanpa sadar kita telah tega mengorbankan kepentingan ‘penumpang kereta’ yang sudah ada di atas rel kita itu, yaitu anak-anak tercinta.
Janganlah kita sampai melukai hati-hati kecil mereka, malaikat-malaikat kecil kita, tempat kita bergantung doa kelak ketika kita sudah di alam kubur. Jika kita masih mengharapkan doa anak sholeh dan sholehah yang memohonkan ampunan bagi dosa-dosa yang kita buat secara aktif justru pada saat kita masih menjadi rel untuk mereka, tentunya kita berkepentingan mengantarkan mereka selamat sampai tujuan mereka.
Kebahagiaan dunia tentunya sesuatu yang layak dicita-citakan setiap orang, namun tidak mesti menjadi obsesi apalagi sampai mengorbankan tujuan akhir yang sesungguhnya. Kebanyakan orang mengartikan ‘life is too short to worry’ sebagai dorongan untuk mengejar kebahagiaan dalam konteks duniawi yang sangat absurd. Apa artinya kebahagiaan di dunia jika kita gagal di akhirat nanti. Gagal mempertanggungjawabkan amanat yang diberikan oleh Tuhan kita sendiri dalam bentuk kegagalan mengantar anak-anak kita sampai ke tempat tujuan mereka dengan selamat. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita petunjuk agar menjadi sepasang rel yang bijaksana.
Rasuna, 19 Juli 2008
Nela Dusan (Gusnelia Tartiningsih)
26 May 2008
BEKAL UNTUK PULANG
BAGIAN II
Hikmah Haji
Saya berangkat haji beserta 3 orang teman lainnya. Pertama kali membuka pintu kamar hotel di tengah malam yang gelap, tiba-tiba kami disuguhi pemandangan luar biasa, Masjidil Haram yang terang benderang demikian indah bersinar dari balik jendela kamar hotel kami. Rasanya hati saya bergetar, ya Allah akhirnya sampai juga mata saya memandang langsung rumahMu. Kami langsung melakukan umrah wajib segera setelah meletakkan kopor di kamar hotel. Pada saat berputar mengelilingi ka’bah saya merasakan perasaan yang tidak terlukiskan saat itu, akhirnya saya menginjakkan kaki di rumahMu ya Allah, mengitari ka’bahMu. Dalam suatu malam yang syahdu, saya melakukan shalat taubat, tahajud dan tasbih, belum genap rakaat pertama dari shalat tasbih saya, air mata ini tumpah ruah tidak tertahan. Saya merasakan segala sesak di dada akhirnya lenyap, saya seperti merasa kembali ke rumah orang tua yang telah lama saya tinggalkan. Ternyata tempat itulah yang saya cari selama ini, kekosongan jiwa saya seperti terisi kembali, kerinduan rasanya tumpah ruah saat itu juga. Alhamdulillah saya berhasil menemukan frekuensi getaran yang dipancarkan yang selama ini terhalang oleh segala dosa dan kekhilafan saya selama ini.
Prosesi haji sarat dengan hikmah dan makna, meskipun tidak semua manusia mau bersusah payah memikirkan atau mencarinya meskipun Tuhan telah melengkapi kita dengan keistimewaan akal yang membedakan kita dengan mahluk ciptaanNya yang lainnya. Dalam suatu kesempatan sebelumnya, saya sempat membeli buku di salah satu toko buku kecil di Dubai, buku itu berjudul Hajj of the Heart, terbitan Orina yang dicetak di Malaysia. Sungguh indah isinya.
Digambarkan dalam buku itu bahwa Ka’bah merupakan sebuah bangunan kubus kosong. Kubus kosong tersebut terkait dengan segalanya, yaitu Allah, Pencipta Segalanya. Dengan menghadap ka’bah, jamaah haji menegaskan kembali keyakinannya kepada Pencipta yang Tidak Tampak.
Prosesi tawaf menggambarkan betapa kehidupan kita ini mengalir seperti sungai menuju lautan keabadian. Kehidupan kita hanya sementara sebelum kembali lagi kepada sang Pencipta. Pada saat tawaf, tidak ada tempat berhenti, tempat berakhir tawaf adalah tempat dimana kita memulai. Sama halnya dengan tawaf, kehidupan kita dimulai dari Allah dan berakhir dengan kembali kepada Allah. Tawaf menggambarkan kehidupan semesta di dalam orbitnya dan Ka’bah lah pusat orbitnya, demikian dalam kehidupan kita, kita semua bergerak dan Allah lah sebagai pusatnya.
Prosesi Sa’i menggambarkan betapa kehidupan kita yang berpusat pada Allah SWT harus senantiasa dipenuhi dengan usaha, seperti halnya yang dilakukan oleh Siti Hajar ketika berlari mencari air di tengah gurun yang gersang dari bukit Safa menuju Marwa demi anaknya tercinta. Sa’i bukan sekedar usaha tetapi juga gambaran cinta dan belas kasihan, betapa Allah tergerak setelah menyaksikan tangisan bayi bercampur dengan air mata sang ibu. Allah yang Maha Pengasih menyaksikan dalam kesunyian. Bukan perkara sulit bagiNya memberikan air untuk Siti Hajar, namun Allah ingin melihat Siti Hajar melakukan bagiannya, usahanya. Setelah usaha yang dilakukan Siti Hajar, Allah menunjukinya sumber air yaitu sumur Zamzam.
Demikian pula hidup kita, tidak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa usaha. Merupakan sunatullah, siapa yang berusaha akan mendapat hasil, tanpa melihat agama atau keyakinan apa yang dimilikinya. Namun, perbedaannya antara keberhasilan seorang muslim dan non muslim agaknya terletak pada cara kita menjalani proses dan rasa syukurnya. Seorang muslim hendaknya senantiasa memahami segala rejeki dan nikmat dalam hidupnya, termasuk pula cobaan yang ada semua berasal dari Allah dan kita menyatakan rasa syukur pun kepada Allah bukan kepada yang lainnya. Seorang muslim hendaknya mewujudkan sikap takwa dalam setiap gerak hidupnya. Jika kita berkehendak mencapai suatu tujuan, maka kita harus berusaha dan berupaya dengan maksimal namun setelahnya, mari kita pasrahkan kepada Allah untuk menentukan hasilnya. Dengan menjaga sikap takwa, insya Allah kita tidak perlu penasaran sehingga sampai menghalalkan segala cara demi mencapai suatu tujuan.
Dalam ritual haji ada satu prosesi yang merupakan inti dari ibadah haji itu sendiri yaitu Wukuf di Arafah. Pada saat kita meninggalkan Rumah Allah di Mekkah kita langsung bertemu Sang Tuan Rumah di Arafah. Arafah sendiri terletak di luar Tanah Haram Mekah yang menggambarkan bahwa Pemilik Rumah berada dimana saja dan dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat di leher kita. Dalam prosesi Wukuf inilah kita dapati miniatur atau gladi resik kematian. Pada saat wukuf, kita semua berkumpul di Arafah pada waktu yang sama, setelah matahari tergelincir di atas kepala (pada saat masuk waktu zhuhur) sampai dengan saat matahari terbenam. Bayangkan jutaan muslim bertafakur, memuji nama Allah, terisak memohon ampunanNya, berdiam di dalam suatu tempat yang luasnya kurang lebih sebesar kawasan Blok M dan sekitarnya, subhanallah, semua mendapatkan tempat. Konon dikatakan bahwa Arafah itu bagaikan rahim seorang ibu, berapapun jumlah dan betapapun besarnya bayi yang dikandungnya, rahim ibu akan sanggup menjadi tempat bernaung sang jabang bayi.
Saat itulah Allah membanggakan manusia ciptaannya kepada Malaikatnya yang sekali waktu pernah ‘mempertanyakan’ pertimbangan Allah dalam menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi ini. Saat dimana Allah membuka pintu ampun, mengabulkan setiap dan semua doa, baik yang diucapkan oleh bibir atau yang hanya terucap di dalam hati setiap umatnya.
Suatu saat yang kita tunggu dan kita manfaatkan dengan maksimal, betapa setiap orang yang ada saat itu disibukkan dengan gumaman doa dari bibir masing-masing, pengakuan yang paling jujur dan permohonan doa yang paling lirih. Saat itu saya juga sempatkan membuka buku catatan dan menyampaikan titipan doa para sahabat, teman, kerabat dan keluarga, semoga Allah berkenan mengabulkan setiap dan semua doa saya saat itu.
Wukuf merupakan gladi resik kematian, miniatur padang mashyar. Pada hari kiamat roh kita semua akan dibangkitkan di padang mashyar dan saat itu pintu tobat sudah tertutup sedangkan pada saat wukuf di padang arafah, justru sebaliknya, dengan jasad yang masih lengkap, roh yang masih menyatu, dengan pakaian ihram yang menyerupai ‘kafan’ putih, Allah justru membukakan pintu tobat dan ampunan seluas-luasnya kepada setiap manusia yang memohon kepadaNya.
Jika demikian luar biasanya hikmah dan manfaat haji bagi kita sendiri, masihkah kita merasa belum siap untuk menghadapNya di Arafah, bukankah semestinya kita merasakan kerugian yang luar biasa karena telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan dengan tidak menyegerakan keberangkatan kita ke sana. Haji bukanlah untuk kepentingan Allah, sesungguhnya dibalik kewajiban kita menunaikan ibadah Haji terdapat kepentingan kita sendiri.
Labbaikallahumma labbaik...selamat menunaikan ibadah haji saudara dan saudariku, semoga Allah menjadikan kalian Haji dan Hajjah yang mabrur. Amin.
Rasuna, 26 November 2007
Nela Dusan (Gusnelia Tartiningsih)
BEKAL UNTUK PULANG
Apakah ‘Ismail’ Kita?
Dalam obrolan dengan seorang teman pada saat makan siang di salah satu restoran favorit saya, sambil menikmati hidangan penutup dan secangkir cappucino panas, sampailah kami pada pembicaraan haji. Sambil lalu saya bertanya pada teman tersebut kapan dia akan berangkat menunaikan rukun islam yang kelima tersebut. Dijawab oleh teman tersebut bahwa dia belum siap. Saya sempat terdiam mendengar jawabannya. Saya memperhatikan dia sejenak, tanpa sadar saya mulai menghitung-hitung kemampuan teman saya itu. Dia bekerja sebagai tenaga profesional senior di perusahaan asing, dia juga seorang ibu dengan dua orang anak yang sudah cukup besar, yang terkecil berusia 5 tahun. Sejenak ingatan saya melayang pada suatu kesempatan lain, saya juga pernah terlibat percakapan seputar haji dengan salah seorang teman yang lain, lagi-lagi seorang wanita karir yang sukses di suatu law firm papan atas di Jakarta ini, juga seorang ibu dari dua orang anak, tentunya secara ekonomi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Saat itu pun jawaban yang diberikan olehnya sama, yaitu belum siap. Saya jadi merenung sejenak dan mengatakan kepada kedua orang teman saya itu hal-hal yang ada dalam pikiran dan hati ini sebagai tanggapan atas jawaban mereka itu. Semoga Allah mencatat pembicaraan saya dengan teman-teman saat itu dan juga tulisan saya saat ini bukan sebagai perbuatan riya, naudzubillah.
Sebenarnya apa arti siap dalam konteks berangkat haji. Sebagian besar orang mengkaitkan kesiapan atau kemampuan itu tidak hanya dengan kemampuan kondisi keuangan atau kesehatan tetapi lebih pada kesiapan mental. Merasa belum siap untuk berubah kah? Padahal perubahan setelah haji insya Allah adalah perubahan yang baik. Tanpa mereka sadari sikap mereka dapat menimbulkan penafsiran bahwa seakan-akan mereka merasa khawatir untuk mengalami perubahan kearah yang baik. Kenapa harus demikian? Bahkan saya kerap mendengar alasan orang-orang bahwa mereka belum berangkat haji karena takut. Takut apa gerangan? Sebagian dari mereka mengatakan takut datang ke rumah Allah karena masih banyak melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah sehingga takut mendapat cobaan atau teguran selama di sana. Saya jadi bingung, kenapa mereka justru takut untuk meminta ampun kepada Allah sementara mereka sadar mereka melakukan perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Apakah kita telah lupa betapa Allah itu Maha Pengampun.
Saya jadi merasa khawatir jika alasan takut itu justru merupakan suatu manifestasi lain dari sikap ‘keakuan’ kita sebagai manusia. Apakah Allah hanya ada di Mekah sana, sehingga jika kita tidak datangi Dia, maka kita luput dari marahNya? Apakah ‘perbuatan’ atau tingkah laku kita yang kita jadikan alasan belum patut menemuiNya itu merupakan perbuatan yang menjadi terlarang hanya jika kita sudah punya embel-embel haji atau hajjah? Kenapa kita jadi seperti melecehkan kekuasaan Allah dibalik alasan takut yang kita dengungkan selama ini.
Sangat ironis bukan, kita sendiri sebenarnya sangat paham bahwa apa yang kita lakukan saat ini mungkin hal yang dimurkai Allah, tetapi kita tidak mau segera minta ampun. Disamping itu, kita pun harus ingat bahwa tidak selamanya jadi atau tidaknya kita berangkat ke tanah suci selalu berada di bawah kontrol kita. Terkadang tidak cukup hanya bermodalkan kemampuan ekonomi dan kesehatan saja kita bisa berangkat ke tanah suci, masih ada faktor lain yang memastikan terjadinya hal itu, yaitu ridho Allah Sang Pemilik Rumah. Kenapa kita harus merasa sombong menganggap kesempatan berhaji itu semata bergantung pada diri kita, sementara Tuan Rumahnya sendiri belum tentu sudi kita datangi.
Bagi saya menunaikan ibadah haji itu adalah sebagai bukti rasa syukur dan puncak pengabdian kita sebagai mahluk ciptaan Allah kepada sang Khalik. Mengapa demikian?
Kembali kepada prinsip dasar penciptaan Allah atas manusia, dalam Al Quran Allah mengatakan ‘tidak Kuciptakan manusia dan jin selain untuk menyembahku’. Dari kalimat itu jelas tujuan hidup kita sesungguhnya adalah menyembah Allah sampai kita kembali lagi kepadaNya. Menurut keyakinan saya, pelaksanaan dari penyembahan Allah tersebut adalah berupa tindakan amar ma’ruf, nahi munkar, melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan larangannya. Sesungguhnya Allah menciptakan kehidupan dan menentukan kematian setiap mahluk yang diberiNya nyawa. Jadi semestinya kita selalu mengingat bahwa tujuan hidup kita adalah untuk kembali lagi kepadaNya. Seperti halnya sebuah lingkaran, titik akhir dari lingkaran itu adalah titik awal dari lingkaran itu sendiri, demikian pula kehidupan kita.
Misalkan kita sudah punya rencana berpergian ke luar negeri pada tanggal tertentu, tentunya sebelum tanggal itu kita sudah melakukan segala persiapan, antara lain memastikan paspor masih berlaku, sudah memiliki visa, sudah memesan tiket. Apa yang terjadi jika salah satu dari hal-hal tersebut belum ada, tentunya kita batal melakukan perjalanan. Semisal, usia kita sudah ditentukan, tentu kita akan bersiap-siap menyambut tanggal itu, persiapan kita mulai dari melakukan semua perbuatan yang baik, giat melakukan ibadah, sampai mempersiapkan harta warisan kepada ahli waris kita. Karena kita paham akan kewajiban menunaikan ibadah haji jika mampu dan konsekuensi dari tidak dilaksanakannya kewajiban tersebut, maka kita akan memastikan bahwa kewajiban tersebut telah ditunaikan sebelum ‘deadline’ kehidupan kita. Tidak satupun urusan duniawi yang bisa menghalangi niat kita untuk menunaikan ibadah haji. Semua karena kita sudah paham kapan hari akhir kita tiba.
Persoalannya adalah Allah membiarkan masalah kematian menjadi sebuah misteri sampai waktu kematian itu benar-benar datang. Setiap saat kita bisa dipanggil oleh Allah, bisa jadi setelah saya menyelesaikan tulisan atau bahkan sebelum saya menyelesaikan tulisan ini saya dipanggil Allah. Jika waktunya tiba apakah kita bisa meminta Allah menunda kematian itu dengan mengatakan “tunggu saya belum siap?” Sama halnya dengan peristiwa kematian yang tidak dapat kita majukan atau undurkan barang sedetik, sesungguhnya tidak ada lagi alasan bagi orang yang sudah dicukupkan rejeki dan kesehatan oleh Allah SW untuk menunda keberangkatan ke tanah suci.
Definisi siap atau mampu dalam konteks haji hanyalah merujuk pada dua hal, yaitu pertama mampu dalam hal keuangan dan kedua mampu dalam kesehatan. Jika Allah sudah menganugerahkan kepada kita kedua hal itu dalam waktu yang sama, nikmat Allah yang mana lagikah yang hendak kita ingkari? Saya sangat bersyukur bahwa Allah telah mencukupkan rejeki dan kesehatan saya tahun kemarin sehingga saya bisa menunaikan ibadah haji bulan Desember 2006 yang lalu, haji akbar karena saat wukuf jatuh pas pada hari Jum’at, alhamdulillah.
Sesungguhnya Allah tidak meminta hal yang berlebihan kepada kita, mahlukNya, apa yang dia minta untuk kita tunaikan sebenarnya tidak terlepas dari rejeki yang telah Dia cukupkan kepada kita. Jadi kita sudah diberi modal oleh Allah berupa kekayaan dan kesehatan agar dapat menunaikan rukun Islam yang kelima, makanya kewajiban haji dibatasi pada kemampuan setiap manusia. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bagi orang yang belum termasuk kategori mampu tetapi karena nasib atau nasabnya mereka bisa berangkat menunaikan haji.
Saya sangat bersyukur bisa menunaikan ibadah haji pada saat usia relatif muda, belum lagi mencapai 40 tahun dan dalam kondisi relatif sehat, meskipun saat itu ada sedikit keluhan pada telapak kaki saya. Pada saat saya berangkat, anak perempuan saya yang semata wayang itu belum lagi genap berusia 6 tahun. Betapapun berat rasanya meninggalkan anak yang masih kecil untuk waktu sekitar 23 hari, namun saya sudah membulatkan tekad untuk berangkat. Saya harus bisa menyingkirkan ‘ismail-ismail’ dalam diri saya. Disamping itu saya juga menghadapi godaan pekerjaan yang sepertinya sangat berat saya tinggalkan saat itu. Beribu kekhawatiran menghinggapi pikiran, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu selama saya pergi, ah segala sesuatu yang membuat kita bimbang. Begitulah setan mempermainkan perasaan dan pikiran kita. Semua alasan yang dapat membuat kita bimbang dan tampak demikian nyata sehingga membuat kita menunda dan menunda lagi langkah kaki ini untuk menghampiri sang Pencipta di rumahNya.
Sesungguhnya berangkat haji dan prosesi wukuf adalah miniatur kehidupan dan kematian, hal tersebut akan saya kupas di bagian kedua dari tulisan ini. Menjelang berangkat haji, seorang sahabat menghadiahkan saya buku karangan Ali Syariati yang berjudul ‘Makna Haji’. Saya ikuti lembar demi lembar buku itu dan mendapati esensi dari ibadah haji. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan membaca buku itu sebelum berangkat sehingga saya mengikuti prosesi ibadah haji dengan penuh penghayatan dan kesungguhan hati. Sungguh luar biasa ibadah haji itu bagi seorang muslim. Bagi saya pribadi, perjalanan suci saya tahun lalu itu merupakan pengalaman batin paling dahsyat seumur hidup. Perjalanan ibadah haji merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim, bapak nabi-nabi. Nabi Ibrahim, seorang pencari Tuhan yang tauhid sejati, Tuhan yang Maha Pencipta, bukan tuhan yang diciptakan manusia.
Jika kita bicara mengenai Nabi Ibrahim, tidak pelak kita juga membicarakan kurban dimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail, anaknya yang telah lama dinantikan dan setelah menginjak remaja, tiba-tiba Allah meminta agar Ismail disembelih. Demi rasa cintanya kepada Allah, Nabi Ibrahim membuktikan ketaatannya yang mutlak, dilakukannya apa yang diperintahkan Allah di dalam mimpinya. Demikian pula dengan Ismail, dengan kecintaannya kepada Allah, dia memberikan dukungan kepada ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Keikhlasan Ibrahim dan Ismail dihargai oleh Allah SWT dan pada detik terakhir Allah mengganti kurban dari Ismail menjadi Domba. Di saat hari raya iedul adha kita pun melakukan pemotongan hewan kurban, karenanya hari raya haji juga dikenal sebagai hari raya kurban.
Analogi kisah nabi Ibrahim itu merupakan gambaran kehidupan kita semua. Tidak ada satupun orang yang mengaku beriman yang tidak mengalami ujian dari Allah. Haji merupakan salah satu ujian yang harus dilalui oleh setiap muslim yang telah sampai nisabnya untuk menuju kesempurnaan iman dan hidupnya. Allah tidak akan menghitung seberapa besar kekayaan kita selama kita hidup. Sesungguhnya harta kekayaan kita itu hanya perhiasan selama kita hidup saja, hanya alat yang bisa digunakan untuk menambah modal pulang menghadap sang Pencipta kita pada waktunya nanti dengan menafkahkan rejeki kita tersebut di jalan Allah. Sungguh beruntung orang-orang muslim yang dikaruniai rejeki lebih oleh Allah, apalagi jika mereka pandai mensyukuri nikmat.
Menunaikan ibadah haji berarti meninggalkan kehidupan duniawi kita sejenak dan membawa ‘ismail’ kita masing-masing untuk dikurbankan kepada Allah. Setiap orang memiliki ‘ismailnya’ masing-masing. Apakah ‘ismail’ kita? ‘Ismail’ dalam hal ini berarti segala sesuatu yang menghalangi cinta kita kepada atau menjauhkan cinta kita dari Allah. Dia dapat berupa anak, suami, istri, pekerjaan, pangkat, jabatan, kekayaan, dsb. Sesuatu yang sangat kita inginkan atau sayangi sehingga kita takut kehilangan jika kita harus meninggalkannya sejenak. Sesuatu yang harus kita kurbankan untuk membuktikan pilihan hati kita, ketaklukan kita kepada sang Khalik. Sebagaimana halnya dengan Ibrahim, keikhlasan kita membawa setiap ‘ismail’ kita itu tidak akan luput dari penilaian Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya.
Berangkat haji merupakan suatu titik puncak pembuktian antara kecintaan kita kepada Allah dengan kecintaan kita terhadap benda-benda di dunia fana ini. Apakah cinta kita kepada anak-anak kita yang masih kecil dan lucu mengalahkan kerinduan kita untuk bertemu Allah pada saat wukuf di Arafah, padahal dengan demikian kita bisa mendoakan anak keturunan kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kelak akan dipertemukan kembali dengan kita di surga. Apakah pekerjaan kita demikian berharganya sehingga rasa takut kita akan kehilangan pekerjaan mengalahkan rasa takut kita kepada Allah, padahal hanya kepadaNyalah kita akan kembali, bukan kepada perusahaan atau bos kita yang saat ini terasa menakutkan bagi kita.
Kita sering lupa bahwa terkadang sesuatu amat kecil nilainya di mata kita namun besar artinya di mata Allah dan sebaliknya, sesuatu demikian besar nilainya di mata kita, namun sesungguhnya tiada bernilai di mata Allah. Semoga kita semua memiliki kearifan agar dapat membedakan keduanya.
Rasuna, 26 November 2007
Nela Dusan (Gusnelia Tartiningsih)
Mommy, What Does Chicken Mean?
How come they do not know about chicken at all? Because we, their ancestors, have burnt all poultry, any flying creatures or what we call now as birds, any kind of birds in this century. Chicken, birds or any kind of poultries have become our dangerous enemy ever. I still remember when I was a kid, I was running around with my friends, on bare feet. My childhood was so wonderful that I still cherish it in my heart. One day, we were playing hide and seek, and I was trying to find a place to hide, I ran so fast that I didn’t see some little chicks, like 10 day-old chicks were running between my feet. The saddest thing was, I accidentally stepped my feet on one of those chubby chicks, when I realized, the chick was dead. I was so shocked to see what happened. I cried and took the chick, I felt the soft yellow furly motionless chick on my palm, I murmured to the chick how sorry I was. If only I could hold on my step. God only knows I never meant to harm the cute chick, let alone kill it. That’s the story of my childhood. Now, what we see, burning thousand chickens or birds seemed to be normal scene. Normal might be insufficient word to describe, actually it’s a must do scene.
It has been known that birds or chickens have been the carrier of contagious virus, H5N1 avian influenza (Bird Flu), it is called. We just know that if there are suspects of bird flu in our neighborhood, all the chickens or birds around the neighborhood would be blamed for that. The official agents will come to the suspect’s home and burn all poultry they found. It seems that we have found the solution for our problem, is it final? Nope, of course not.
Have we all known that burning all birds will not settle the problem? Have we noticed that the H5N1 avian influenza was caused by the damage to ecosystem? According to information launched at WHO website, out of 113 cases confirmed to date in Indonesia, 91 have been fatal.
The transmission of infection from bird to human has been caused among other things by the disturbance of ecological system in our lands. When the harmony of ecosystem is disturbed then the chaos and deviation begins. According to experts, Virus and bacteria are killed by ozone (O3) and O nascend. It is produced by the exposure of ultraviolet on oxygen. Apparently we need more and more oxygen to be exposed by the ultraviolet. The fact that our forests are experiencing deforestation is really painful. We know forests have produced great supply of oxygen and its derivatives. Now, that the deforestation has reached critical conditions, we must fear of our future. What life will be without enough oxygen. If the deforestation takes place rapidly, soon we lose our supply of oxygen.
The problem has come for decades. As long as people have no similar perception on our responsibility to our children then the slideshow on water crisis era will come true. We must have similar thought that this climate change has weakened virus and bacteria killer namely oxygen and its derivative. Global warming has been greatly caused by human acts. In the name of business, the industrialist will get rid of rain forest. Rain forests are replaced by palm plantation all over the place, or by other kind of plantation that supports pulp related industry or by factories. When the developed countries contribute a lot in the emission of green house gas, followed by most developing countries, including Indonesia, we also have worsened the condition by allowing the deforestation continues.
I sensed the half-hearted of most developed countries in making real effort to minimize the effect of green house gas emission. This could mean restructuring all aspects of their lives, the lives they have lived for many decades. If I am not mistaken, the energy consumption in USA or most developed countries is so high, that is one of the consequences of the high-tech lifestyle. Surely, the government of USA or other developed countries will seek any possibility or opportunity to support such lifestyle. However, if we keep pointing out to each other and wait the other to make the move to save the situation, we might not make any good to ourselves. There are many factors that have caused this disaster. The green house gas emission has contributed a lot to this trouble, as well as the deforestation.
Since we are living in the tropical region, there are rain forests in the country. I think we can do something to prevent from greater disasters. The least we can do is to stop deforestation. Forest produces oxygen, less oxygen means more virus or bacteria, something like that. Until when we should burn the poultry, God’s creature. Solving problem by burning everything is not a solution at all. After no more chicken, birds or any single poultry on this earth, what next? We also heard about mad cows, anthrax, etc. They have killed and burnt those suffered animals but how if the virus transmission starts from dogs, cats, or human themselves? Should we burn our friends, brothers, sisters or parent, once they are suffered those fatal diseases? If to solve the problem means eliminating the victims, it’s not bringing any good to us.
I really fear of climate change, nowadays, in Jakarta, every time rain comes, it is accompanied by heavy wind, like cyclone. I could not remember we ever had cyclone like in 5 or 10 years ago. We only heard or saw cyclone through radio or television but now, we are experiencing it. Trees fell all over every where. They hit cars, billboards broken and fell on cars. It has become normal scene after the heavy rain in Jakarta. People start taking out trees to prevent them from falling in the next rains. Just like burning chicks or birds or poultry whenever someone’s died. Then the deforestation is not only happening to the rainforest but also the city trees.
If to prevent our car from being hit by trees is taking the roots of the tree itself, then what will be left for our children? I feel pity for them, they will not just ask what chicken is but also what were trees looked like.
Can we have new perception in our mind now that the rain forest is very important to our life, for mankind. If we don’t stop the deforestation, sooner we will have desserts in Indonesia. With this unpredictable weather, soon the agriculture industry will be in trouble, harvest failure in major rice supplying regions of Indonesia, famines will be everywhere.
If now, we have already started to import rice, I cannot imagine in few years to come. Import means spending more money, do we or, be specific, does the government of Indonesia have money to buy some rice from other country? Perhaps not, too many goods to be imported, not enough money left. We must import oil and gas, while our nation known for its wealthy of mineral reserves. We must also import sugar, whilst we are considered as one of the biggest agricultural countries in the world. Maybe, next we also have to import fresh water because most fresh water springs are polluted or not much water can be reserved under the ground because not many trees left.
There are major factors affecting the climate that lead to global warming we are experiencing now, namely green house gas emission and deforestation. Green house gas emission has caused among other things, air pollution, climate change and global warming. Deforestation has caused the reduction of oxygen supply. We need more oxygen to maintain the harmony of ecosystem. The biggest challenge for the government of Indonesia might be the effort of stopping the deforestation. The dilemma faced by the government, is it money or mankind on the other side, to be chosen. Anyway, if the government chose money over mankind, seems the government has failed to serve his fellow citizen. In my personal view, the government should choose mankind over money, they still can generate money from other justifiable sources rather than selling our grand children’s lives.
Rasuna, 25 November 2007
Nela Dusan (Gusnelia Tartiningsih)